u6Dacb.md.jpg

Warga Murka, Pohon Ratusan Tahun Penjaga Mata Air Beji Diracun untuk Dimatikan

  • Bagikan

Nglipar,(lensamedia.co)–Warga Padukuhan Pengkol, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar dibuat murka oleh oknum warga yang meracun pohon Klumpit(Terminalia Edullis) berusia ratusan tahun di wilayah sumber air Beji. Pasalnya, warga khawatir jika pohon tersebut mati maka sumber air akan ikut hilang. Keberadaan pohon inilah yang selama ini menjaga sumber air, sehingga tidak kering walau di musim kemarau.

Kejadian tersebut pertama kali diketahui pada Rabu(30/6/2021). Saat itu, salah seorang warga yang akan mengambil air di sumber Beji kaget melihat akar pohon Klumpit yang berada persis di atas mata air tampak berlubang.

Lubang yang ada memang sengaja dibuat dengan benda tajam. Lebih kaget lagi saat mengetahui bahwa di lubang itu tercium aroma racun tanaman yang sengaja dituang.

Mendapati hal ini, warga segera melaporkan ke RT setempat kemudian diteruskan ke Dukuh Pengkol. Oleh Dukuh Pengkol, laporan ini diteruskan ke Babinkantibmas dan Babinsa Kalurahan Pengkol, yang segera meneruskan ke Polsek Nglipar.

“Saya dapat laporan dari warga, karena sumber air ini berkaitan dengan kebutuhan masyarakat banyak, maka saya meneruskan laporan ke Kalurahan,” terang Yuli, Dukuh Pengkol, Kamis(1/7/2021).

Yuli melanjutkan, dari hasil penyelidikan Polsek Nglipar, polisi mengamankan seorang warga berinisial P. Warga ini mengaku akan mematikan pohon, dan akan menebangnya untuk dijadikan blabak.

“Katanya, keberadaan pohon ini mengganggu lokasi tanah milik Pakdenya, yang berada disamping sumber air, sehingga dia mau menebangnya,” lanjut Yuli.

Mengenai status tanah tempat pohon dan sumber air ini berada, menurut Yuli statusnya adalah tanah Sultan Ground(SG), dan hal itu sudah tercatat di peta Kalurahan.

“Untuk proses selanjutnya saya kurang tahu, karena katanya P ini agak mengalami gangguan jiwa,” imbuh Yuli

Karena banyak warga yang tidak terima dengan kejadian ini, aparat Polsek Nglipar dan Kalurahan Pengkol segera mendatangi tempat kejadian dan memasang garis polisi di sekitar pohon.

Bersama warga, mereka segera berupaya membersihkan pohon dari racun, agar tidak tercampur ke sumber air.

Ia mengatakan, dari mata air ini sekitar 40 KK dari 4 RT di Padukuhan Pengkol yang menggunakan airnya untuk keperluan sehari hari. Di lokasi sumber memang tampak puluhan jalur jalur pralon air yang digunakan penduduk untuk mengakses air dari sumber air Beji.

Kegelisahan juga dirasakan oleh warga lainnya, Budiyana. Ia mengatakan, kekhawatiran warga bukan kepada adanya racun yang dapat mengkontaminasi air. Namun lebih dari itu, jika racun sampai membunuh pohon maka sumber air diperkirakan akan turut hilang.

“Jika mata air mati, kami akan kesulitan mengakses air, selama ratusan tahun, sumber Beji ini digunakan turun temurun untuk kebutuhan pokok masyarakat,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan oleh Budi Wibowo(42), salah seorang anggota Komunitas Resan Gunungkidul. Komunitas ini banyak beranggotakan orang orang yang peduli terhadap kelelstarian sumber air.

“Keberadaan pohon Resan memang berfungsi sebagai penjaga mata air, akarnya yang kokoh dan masuk puluhan meter ke dalam tanah yang berfungsi untuk menjaga jalur air agar tidak menutup,” ungkapnya disela sela kegiatan pembersihan dan penanaman kembali pohon disekitar Sumber air Beji, Kamis(1/7/2021), oleh Komunitas Resan Gunungkidul.

Budi melanjutkan, bahwa sumber air tidak bisa lepas dari pohon penjaganya, yang oleh orang jawa disebut pohon Resan.

“Pohon Resan ini jenisnya bisa macam macam, yang umum di sini biasanya Beringin, Gayam, Loa, Klumpit, Bulu, Bunut, Trembesi, Kepuh dan lain lain, jika pohon mati atau roboh, maka bisa dipastikan mata air akan tertutup dan mengering,” lanjutnya.

Menurut Budi, sebetulnya banyak wilayah di Gunungkidul yang mempunyai sumber sumber air alami ini. Sebetulnya banyak wilayah di Gunungkidul yang mempunyai sumber sumber air alami ini, hanya memang banyak yang keberadaanya saat ini tidak terawat.

“Hampir setiap Desa mempunyai sumber sumber air ini, jika masyarakat mau dan sadar untuk merawat sumber sumber air yang ada, maka ini bisa dijadikan solusi untuk permasalahan air di Gunungkidul,” harap Budi.

u6Dacb.md.jpg
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: