Tim Penyelam TNI AL Cek Sungai Bawah Tanah Gunungkidul, PDAM : Program BBWS Aktifkan Kembali Bendungan Bribin II

  • Bagikan

Semanu,(lensamedia.co)– Tim penyelam TNI AL dari Dinas Penyelaman dan Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada II melakukan survei dan pendataan di bendungan sungai bawah tanah Bribin II, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Hal itu dilakukan berkaitan dengan rencana pengaktifan kembali Bribin II.

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul Toto Sugiharta ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penyelaman itu. Namun begitu menurutnya, kegiatan tersebut merupakan pekerjaan BBWS untuk melakukan pengecekan sedimen valve di pipa pelimpah serta kondisi bendungan.

“Keterangan tersebut saya dapatkan dari BBWS,” kata Toto ketika dikonfirmasi, Rabu (11/08/2021).

Ia mengatakan, menurut rencana bendungan Bribin II akan kembali diaktifkan setelah tidak berfungsi beberapa tahun akibat badai cempaka 2017 lalu. Kemudian pekerjaan fisik di bendungan tersebut akan dimulai pada tahun 2022.

“Ada harapan untuk memulihkan kualitas pelayanan ketika tahun 2021 ini BBWS menganggarkan untuk resign Bribin II dan kegiatan fisik di tahun anggaran 2022. Kita berdoa semoga kegiatan itu dapat berjalan,” papar Toto.

Dengan begitu, masalah akibat badai cempaka 2017 lalu yakni hilangnya debit air kurang lebih 40 lps dan menyebabkan gangguan pelayanan ke sejumlah kapanewon seperti Tepus, Rongkop, Girisobo dapat teratasi.

Sungai Bawah Tanah Bribin II terletak di Pedukuhan Sindon, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Kondisi geomorfologi sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah daerah karst, dicirikan dengan minimnya sungai permukaan dan berkembangnya jalur‐jalur sungai bawah permukaan (SBT).

Setiap tahun dalam musim kemarau, di daerah karst Pegunungan Seribu selalu mengalami kekeringan, hal ini disebabkan karena langkanya air permukaan Dari hasil survey tahun 1980-an (McDonald and Partners) diketahui adanya pola aliran sungai bawah tanah dengan potensi debit yang cukup besar (Seropan, Bribin, Baron, Ngobaran).

Dalam kurun waktu 1992-1996 telah dibangun sistem penyediaan air baku Bribin I dengan menggunakan sistem pemompaan dan pipanisasi untuk menyuplai air baku bagi 75.000 jiwa di wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul. Dengan sistem pemompaan, biaya operasional dan pemeliharaan setiap tahun selalu mengalami kenaikan sehingga biaya produksi air per meter kubik menjadi sangat mahal.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: