Terkait Dua Kasus Pencabulan di Gunungkidul, DPR RI Komisi X Bersuara

  • Bagikan
My Esti Wijayati, anggota komisi X DPR RI

Gunungkidul (lensamedia.co)– Dua kasus pencabulan yang terjadi di Gunungkidul yang antara terduga pelaku dan korban ada keterkaitan dengan dunia pendidikan, mengundang keprihatinan dari My Esti Wijayati, anggota DPR RI Komisi X (Pendidikan) dari Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada Kasus pertama yang terjadi di Kalurahan Mulo, Kapanewon Wonosari, terduga pelaku adalah seorang guru dan ASN di lingkup pendidikan Sekolah Dasar, Esti sangat menyayangkan kejadian tersebut, dia menyebut bahwa seharusnya profil seorang guru harus bisa dicontoh oleh murid muridnya dan masyarakat luas.

“Tindakan Oknum tersebut tentu sangat mencoreng dunia pendidikan, terlepas korban korbannya sudah berusia dewasa,” terang Esti saat dihubungi lewat telepon, Selasa (11/10/2021).

Lebih lanjut Esti meminta agar pihak sekolah bertindak tegas dan pihak berwajib mengusut perkara ini sampai tuntas, ia juga mengapresiasi langkah polisi yang telah menaikkan status perkara ini ke tingkat penyidikan.

Untuk kasus Semanu dimana seorang remaja putri berusia 16 tahun yang diduga dicabuli ayah tirinya hingga hamil, anggota komisi X DPR RI ini meminta kasus hukumnya harus tetap dilanjutkan.

“Ini sangat memprihatinkan, korban masih berstatus pelajar aktif yang memiliki masa depan panjang,” lanjutnya.

Esti menilai, meskipun ayah tiri bocah tersebut selama ini menghidupi keluarga namun apa yang dilakukannya tetap melanggar hukum. Seharusnya sebagai orang tua harus bisa melindungi dan membimbing anak anaknya, bukan malah merusak masa depannya.

“Kami meminta proses hukum kasus ini harus dilanjutkan,”tandas Esti lagi.

Pihaknya mendorong kepada aparat kepolisian untuk sesegera mungkin memproses terduga pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur tersebut. Agar ada ketetapan hukum terhadap pelaku.

“Alasan sebagai tulung punggung dan ekonomi kan bisa dicari solusi, tidak harus mengorbankan masa depan seorang anak,” tegasnya.

Informasi yang didapat, anak tersebut sekarang sudah tidak bersekolah, karena mengundurkan diri, Esti menyarankan agar pihak sekolah sebetulnya bisa memberikan kebijakan yang memihak ke siswa. Karena ada kekhawatiran nanti akan di bully di sekolah maka siswa bisa diberi alternatif untuk cuti selama 1 semester atau 1 tahun terlebih dahulu.

“Kalau perlu, korban bisa dimasukkan dalam perlindungan saksi, dimana nanti korban akan mendapat bimbingan dan pendampingan secara psikis,” tandasnya.

Sementara itu, Dukuh tempat tinggal korban menyatakan bahwa pihaknya terus berusaha melakukan pendekatan untuk memantau keadaan korban, komunikasi terus ia jalin agar mengetahui kesehatan dan mental remaja tersebut.

Ia juga menyebut, bahwa warga setempat sebenarnya sangat menginginkan agar kasus tersebut berlanjut proses hukumnya.

Sejak awal justru masyarakatlah yang mendorong kasus tersebut dilaporkan ke polisi. Karena awalnya pihak keluarga pernah menginginkan agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

“Saat kabar ini mencuat, warga pernah menggeruduk kediaman pelaku yang serumah dengan korban, Terus dilakukan mediasi di Balai Padukuhan dan akhirnya dilaporkan polisi tanggal 21 September 2021 lalu oleh ibunya. Jadi itu desakan warga,”terangnya.

Menurut Dukuh, beberapa waktu lalu, Dinas terkait juga pernah mengunjungi rumah korban, tapi tidak bertemu, karena keluarga sedang pergi.

“Selaku Dukuh saya juga terus memantau keadaan korban, kami ingin korban tetap tegar dan tidak down,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: