Soal Dugaan Korupsi Kelompok Ternak ‘Dadi Makmur’, Ratusan Juta Uang Bantuan Pemerintah Untuk Bancakan Oknum Pengurus?

  • Bagikan

Ponjong (lensamedia.com)– Aroma adanya indikasi dugaan kasus korupsi sapi bantuan di Kelompok Ternak Dadi Makmur, Padukuhan Gedong, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong semakin menguat. Dari hasil pertemuan anggota kelompok di Balai Padukuhan Gedong pada Sabtu, 18/09/2021 kemarin tidak menemui titik temu.

Mulai dari kepengurusan kelompok yang tidak jelas hingga keberadaan aset mulai sapi hingga motor roda 3 yang amburadul tata kelolanya. Padahal, dalam acara itu selain dihadiri petugas dari Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, juga ada 2 personel polisi dari Unit Tindak Pidana Korupsi, Satreskrim Polres Gunungkidul.

Indikasi adanya upaya lempar tanggung jawab dimulai saat Samsul Huda, mantan Ketua Kelompok Ternak Dadi Makmur menyatakan bahwa dirinya sudah tidak menjabat pengurus sejak 2018 dan kepengurusan diserahkan kepada Waino alias Wasimin. Maka dari itu dirinya sudah lepas tanggung jawab.

“Saya sudah mengundurkan diri sejak 2018, estafet kepengurusan ada di tangan Pak Waino. Semua dokumen dan lainnya sudah saya serahkan semua sehingga tidak ada satu pun dokumen maupun notulen di tangan saya. Pengunduran diri saya disaksikan semua anggota dan petugas dari Poskeswan Semin,” kata Samsul Huda.

Samsul lebih lanjut menjelaskan, Kelompok Ternak Dadi Makmur mendapatkan kucuran bantuan dana dari kementrian pada tahun 2015. Jumlah dananya berapa, dia mengaku lupa, yang jelas peruntukannya membangun kandang sapi komunal senilai lebih kurang Rp 250 juta, pembelian 10 ekor sapi, 1 unit motor roda 3 dan 1 unit mesin choper pencacah pakan.

Dalam perkembangan, kelompok menjalankan usaha secara bergulir, menyelenggarakan arisan rutin bulanan hingga 2018. Setelah itu dirinya mengundurkan diri lantaran terbelit persoalan ekonomi dan pindah domisili ke Kabupaten Klaten untuk mencari nafkah. Uniknya, meski mengaku sudah mengundurkan diri Samsul Huda masih menguasai aset berupa motor roda 3 yang dibawanya hingga saat ini.

“Motor roda 3 saat ini masih ada, saya taruh di Klaten lantaran disini tidak ada satu pun anggota atau pengurus yang baru mau untuk mengurus motor itu,” kelit Samsul.

Sementara itu, di tangan pengurus yang baru, roda organisasi sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Waino alias Wasimin sebagai Ketua Dadi Makmur ternyata tidak membentuk kepengurusan sebagaimana lazimnya suatu organisasi. Tidak ada sekretaris maupun bendahara definitif. Arisan anggota kelompok bubar lantaran persoalan internal. Waino selaku ketua pun mengakui mengakui telah menjual 3 ekor sapi bantuan tanpa persetujuan anggota kelompok lainnya.

“Yang jelas saya tidak pernah merasa atau ditunjuk sebagai ketua. Namun terkait sapi yang sudah terlanjur dijual, saya sanggup mengembalikan 3 ekor sapi kepada kelompok. Hanya saja saya minta waktu 10 hari untuk pengadaan sapi itu,” kilah Waino.

Beberapa anggota kelompok diantaranya Rejo Miratno menyerahkan sepenuhnya pertanggung jawaban persoalan ini kepada pengurus. Sebab selama ini tidak ada keterbukaan pengurus kepada anggota.

“Kita itu sebagai anggota tidak tahu menahu, pengurus saat ini siapa saja kami tidak tahu, jadi bagaimana mau menjelaskan ? Mau ambil tindakan apapun pengurus tidak pernah berembuk dengan anggota, aturan mainnya bagaimana semua juga tidak jelas. Jadi di forum ini malah kami minta pengurus untuk terbuka dan bukan malah saling lempar tanggung jawab,” kata Rejo Miratno.

Sunarto, petugas dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul berharap persoalan di Kelompok Ternak Dadi Makmur bisa segera diselesaikan dengan baik.

“Kalau semua terbuka, semua aset yang masih ada dikumpulkan lagi kemudian dikelola dengan baik, maka bisa menjadi sarana memakmurkan anggota. Tugas kami di dinas adalah melakukan pendampingan,” kata Sunarto.

Sedangkan menurut beberapa pamong kelurahan Sawahan yang ditemui wartawan secara terpisah mengaku tidak tahu menahu urusan kelompok Dadi Makmur. Pasalnya, dana dari kementrian langsung kepada kelompok hingga sulit untuk dilakukan monitoring maupun pembinaan.

“Kami di kelurahan nggak ikut-ikutan. Soalnya beberapa hari lalu di kantor kelurahan ada tamu dari Unit Tipikor Polres. Yang menghadapi Pak Carik, jadi karena ini nada nadanya mau sampai ke ranah hukum, tolong kami jangan dikait kaitkan. Biar ditangani aparat penegak hukum saja,” kata salah satu pamong Kelurahan Sawahan.

Disisi lain, Catur, Dukuh Gedong meminta warganya yang tergabung dalam Kelompok Ternak Dadi Makmur untuk terbuka dihadapan aparat penegak hukum yang tengah bertugas melakukan pengumpulan bahan dan keterangan di lapangan.

“Saya harap anggota dan pengurus terbuka saja, sebab ibarat nasi sudah menjadi bubur harus disikapi dengan sebaik baiknya. Jangan saling tuding saling tunjuk, kalau seperti ini caranya tidak akan selesai persoalan ini,” pinta Catur.

Sementara itu, hingga berita ini dilansir belum ada keterangan resmi dari aparat Kepolisian terkait penanganan dugaan korupsi di Kelompok Ternak Dadi Makmur.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: