Soal Aduan Kekerasan dari Warga Binaan Lapas, ORI DIY Sarankan Mediasi

  • Bagikan
Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY, Budhi Masturi meninjau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Yogyakarta di Wonosari, Kamis(4/10/2021).

Gunungkidul,(lensamedia.co)–Terkait aduan salah seorang warga binaan tentang kekerasan fisik maupun psikis terhadap Napi, Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY, Budhi Masturi meninjau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Yogyakarta di Wonosari, Kamis(4/10/2021).

Tinjauan kali ini adalah sudah yang kedua, setelah sepekan sebelumnya ORI sudah melakukan tinjauan yang pertama. Menurut Budi, tinjauan kali ini dengan tujuan untuk identifikasi lebih dalam terkait laporan, sekaligus menfasilitasi pertemuan kedua belah pihak.

“Kunjungan pertama sudah kami lakukan pekan lalu, untuk penggalian informasi awal, ini yang kedua untuk identifikasi laporan,” terang Budi, Kamis(4/10/2021).

Dalam tinjauan yang didampingi langsung oleh Kepala Lapas Perempuan IIB, Ade Agustina, Budhi menyatakan, sampai saat ini pihaknya tidak menemukan bukti kekerasan fisik seperti yang diadukan oleh pelapor.

“Pelapor cenderung lebih merasakan kekerasan secara psikis selama menjalani pembinaan, walaupun hal ini perlu diklarifikasi lebih lanjut,” lanjutnya.

Budi menilai, masalah ini sebetulnya akan cepat selesai penanganannya jika antara pelapor dan pihak Lapas dipertemukan, dimediasi agar ada benang merah obyektivitas sekaligus mencarikan jalan tengah antara kedua pihak.

“Mediasi ini, disamping untuk mencari jalan tengah, tentu bisa memberikan masukan-masukan pada kedua belah pihak,” tandas Budi

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kalapas Perempuan IIB, Ade Agustina mengatakan, bahwa Warga binaannya yang melaporkan pihak Lapas sampai saat ini masih menjalani masa tahanan di blok maksimum.

“Ia baru dipindahkan kesini sekitar dua bulan lalu dari Lapas di Semarang, Jawa Tengah, dan berdasar penilaian dari Bapas, Napi ini memiliki register F, kategori pelanggaran berat,” terang Ade.

Menurut Ade, pihaknya hanya menjalankan penanganan terhadap yang bersangkutan sesuai hasil asestmen dari Bapas, dan itu sudah ada SOP dan aturannya.

Ade tak menampik, bahwa warga binaan yang menempati blok maksimum memang menjalani pembinaan yang lebih ketat, dengan fokus terutama pada pembinaan kepribadian hingga konseling.

“Mungkin dalam proses ini berpotensi menyebabkan stres tinggi, namun kami tetap selalu menjaga agar pembinaan sesuai dengan koridor aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ade menyatakan bahwa sebetulnya pihaknya menyediakan ruang pengaduan internal di Lapas, jadi Ade menyayangkan adanya aduan ke ORI tersebut.

“Sebetulnya lebih bagus jika ada aduan langsung ke kami, kami ada ruang aduan internal, dan kami selalu berupaya melakukan pendekatan secara Humanis,” lanjut Ade

Kendati demikian, Ade menyatakan bahwa semua orang berhak memberikan penilaian, karena hal itu bersifat relatif dan keadaan psikis warga binaan tentu berbeda beda

“Yang pasti kami menjalankan pembinaan secara terukur, dan sudah sesuai SOP dan aturan yang berlaku,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
Penulis: Edi PadmoEditor: Kelvian Adhi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: