SDN Tepus 2 Yang Tergusur JJLS, Akan di Regrouping

  • Bagikan

Wonosari, (lensamedia.co)– Gedung SD N Tepus 2 beberapa waktu lalu sudah dibongkar oleh pemborong Jaringan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Pembongkaran ini dilakukan saat gedung dalam posisi masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Akibatnya siswa siswanya terpaksa harus belajar di balai Padukuhan setempat.

Ketidak jelasan status SD N Tepus 2 ini dikarenakan Dinas terkait tak juga membuatkan gedung baru, karena Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Gunungkidul berencana melakukan regrouping.

Kepala Seksi Saran Prasarana Bidang SD Dikpora Gunungkidul, Pranoto menyatakan bahwa rencana Regrouping ini sudah sejak 2018 lalu diwacanakan. Pranoto menyebut bahwa segala syarat dinilai sudah memenuhi persyaratan.

“Regrouping ini untuk efisiensi tenaga pendidik,” terang Pranoto, Sabtu(30/10/2021).

Dia melanjutkan, syarat dan kelayakan sekolah untuk di regrouping terjadi karena SD N Tepus 2 itu jumlah siswanya dibawah 60 orang, selain itu jarak ke sekolah yang akan diregrouping, yaitu di SD Tepus 4 tidak begitu jauh.

Efisiensi tenaga pendidik, khususnya guru yang berstatus PNS juga disebut sebagai faktor yang menentukan. Hal ini agar mereka bisa memenuhi jam mengajar sebagai syarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.

“Selain itu, Regrouping ini juga sebagai syarat agar dana BOS bisa turun,” imbuhnya.

Pranoto melanjutkan, jika gedung akan direlokasi, tanah yang ditawarkan pihak Kalurahan untuk dibangun gedung posisinya dibawah jalan dan kurang strategis, dan lokasinya kurang memenuhi persyaratan, karena rawan longsor atau banjir.

Terkait ganti rugi bangunan gedung sekolah yang sudah digusur itu telah mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 1,9 milyar lebih. Pranoto menyebut bahwa uang ganti itu sudah masuk ke khas daerah dalam hal ini Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Gunungkidul.

“Keputusan regrouping ini, kemarin sudah kami sampaikan ke Kabid, kemudian juga sudah disampaikan ke PLT Kepala Dinas,” lanjutnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya diketahui bahwa wali murid dan komite sekolah menolak rencana Regrouping ini, dengan pertimbangan bahwa jarak sekolah yang baru terletak cukup jauh bagi murid. Faktor keadaan ekonomi wali murid yang tidak semuanya mempunyai sepeda motor untuk mengantar anaknya sekolah juga jadi pertimbangan utama.

Menanggapi hal ini, Kepala Seksi Kurikulum Dikpora Gunungkidul Asbani menyatakan, bahwa penolakan rencana regrouping itu terjadi karena warga menilai SD N Tepus 2 merupakan cikal bakal sekolah di wilayah Kalurahan Tepus.

“Memang saat ini para siswa terpaksa melaksanakan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di lokasi kurang layak, tapi kami belum survey kesana,” katanya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: