u6Dacb.md.jpg

Ruwet Selama Belasan Tahun, Sejumlah Sertifikat Warga Grogol yang Disimpan Pihak Kalurahan Hilang

  • Bagikan

Paliyan,(lensamedia.co)–Keresahan dirasakan oleh sejumlah warga di Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan. Bagaimana tidak, sertifikat yang dibuat pada tahun 2008 lalu, hingga saat ini tidak diketahui keberadaanya.

Seperti diungkapkan oleh Sugiman, warga Padukuhan Senedi, Kalurahan Grogol. Ia mengatakan, peristiwa itu terjadi pada tahun 2008 lalu, dirinya mengikuti program pemutihan sertifikat. Namun dalam prosesnya ia merasakan ada kejanggalan.

“Saya tidak diundang pengukuran, tiba-tiba sertifikat jadi ini, itu pun salah,” kata Sugiman, Jumat (02/07/2021).

Adapun kesalahan sendiri berupa salah ukuran dan petak bidang di dalam sertifikat tersebut. Kemudian saat itu, dirinya mengembalikan sertifikat kepada dukuh setempat, Sutrisno sesuai dengan arahan pihak kalurahan.

“Saya tanyakan lagi selang beberapa waktu, tetapi saling lempar antara pak dukuh dan pak aman waktu itu,” ujar dia.

Hingga saat ini, dirinya terus berupaya mencari keberadaan sertifikat tersebut. Melalui Bamuskal setempat dirinya selalu menanyakan namun belum ada jawaban.

“Saya tanya ke desa melalui BPD (saat ini Bamuskal) menanyakan, jawabannya mau diselesaikan begitu, harapan saya kalau ada yang salah ya dibetulkan, karena waktunya sudah ssngat panjang, dari 2008 sampai sekarang belum ada kejelasan,” kata dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh warga lainnya Giran, ia mengatakan, sekitar tahun 2017 lalu, ia pulang ke rumahnya di Senedi, dengan maksud untuk melihat sertifikat yang telah dibuat pada tahun 2008 lalu. Namun saat itu ia mendapat kabar bawa sertifikat tersebut ditarik dan berada di Kalurahan

“Pas pulang kampung, ceritanya kan dibagi warisan dari orang tua, sekitar 2016 itu kakak saya bilang, sertifikatmu ditarik lagi, kliru, saya ke kalurhan mencari jejak bagaimana kebenarannya,” terang dia.

Saat itu, dirinya mendapat penjelasan dari salah seorang panitia bernama Wiyanto. Disana ia mendapat informasi bahwa ada perbaikan sertifikat karena ada kesalahan batas wilayah dalam sertifkat tersebut.

“Pak wiyanto mengaku dirinya panitia, menjelaskan bahwa salah dalam pencatatan, salah batas tertukar. Tetapi sampai detik ini belum ada kejelasan. Saya komunikasi sama Wiyanto dia mencari kesana kemari ikut bertanggung jawab, katanya hilang,” terang dia.

Saat itu, dirinya mendapat penjelasan juga bahwa sertifikat tersebut telah diterima dengan menunjukan tanda terima. Waktu itu yang menerima adalah mantan carik lama.

“Setelah di kroscek dia bilang lha aku wes pensiun, tidak ada tanda buktinya. Terakhir menanyakan, kalau hilang atau sudah dikoreksi atau belum karena terkendala waktu ya hanya sampai disitu. Saya sarankan bareng ke BPN pinjam sertifikat yang bersebelahan dan dilacak. Kita tidak akan mencari masalah tetapi kita ingin pecahkan masalah,” ungkap dia.

Sementara itu, pihak panitia tingkat padukuhan, Markatam menjelaskan bahwa pada tahun 2008 pemerintah mengadakan pensertifikatan tanah untuk warga. Pihak kalurahan (saat itu disebut desa) membentuk tim panitia kecil yang terdiri dari RT, RW dan dukuh.

Kemudian pada tahun 2009 proses tersebut telah selesai. Pemerintah desa (kalurahan) dan BPN memberin kelonggaran waktu bagi warga yang ada kesalahan. Kemudian oleh tim kecil diberi tanggung jawab agar bisa dibenarkan data, mengambil dan menyampaikam ke desa.

“Saya mengurus yang Gerjo (Padukuhan Gerjo). Ada 17 sertifikat yang salah, setelah jadi ada yang diberikan yang bersangkutan ada yang ke pak dukuh, ternyata ada warga kami yang tercecrr sertifikatnya belum jadi,” kata dia.

Namun begitu, dirinya tidak mengetahui secara pasti kelanjutannya. Sebab, ia hanya mengemban tugas sampai di tingkat kalurahan.

“Tugas saya di wilayah padukuhan, tim desa yang menyelesaikan, untuk pembetulannya. Saya hanya Ikut pengukuran di lapangan kroscek kebenaran, desa menindak lanjuti untuk pengukuran ulang,” jelas dia.

Terpisah, Pangripta (Kaur Perencanaan) Kalurahan Grogol Wiyatno mengatakan hal yang tak jauh berbeda. Dirinya mengakui bahwa sejumlah sertifikat warga tersebut belum ditemukan. Dirinya berdalih bahwa yang membawa sertifikat adalah tim pengukuran lahan.

“Tapi sampai waktu perbaikan kesalahan itu tidak datang timnya sampai waktunya habis,” kata dia.

Dirinya mengatakan bahwa ketika di BPN pihaknya diminta untuk mencari. Namun ia mengaku sudah pusing karena mencari tidsk ketemu.

“Saya juga heran, sudah dicari sampai pusing tidak ada,” katanya.

Ia mengakui, bahwa banyak sertifikat yang sampai saat ini belum diketahui keberadaanya.

“Saya waktu itu belum maju seperti sekarang, belum ada pembukuan yang baik, jadi tidak ada bukti seperti foto atau apa,” kata dia.

Ia menambahkan, warga yang kehilangan sertifikat mengaku ketakutan jika sertifikat tersebut digunakan untuk meminjam di bank abal-abal. Namun begitu, dirinya menjamin hal tersebut tidak terjadi.

“Saya pusing kalau suruh mencari, sudah lama ada yang menanyakan terakhir 2018,” terang dia.

u6Dacb.md.jpg
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: