Rumah Limasan Ini Jadi Saksi Sejarah Kemerdekaan RI

  • Bagikan

Playen,(lensamedia.co)–Perjuangan berat para pejuang dan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan negara Republik Indonesia yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 meninggalkan banyak cerita sejarah yang heroik.

Salah satunya adalah peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, yang mampu membuka mata dunia tentang eksistensi negara Republik Indonesia. 72 tahun yang lalu, ada sebuah peristiwa penting terjadi di sebuah rumah desa berbentuk Limasan sederhana. Rumah ini adalah milik seorang petani yang bernama Pawirosetomo yang berada di Padukuhan Banaran, Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.

Dari rumah inilah, kabar TNI yang melakukan serangan umum 1 Maret 1949 yang berhasil menguasai kota Yogyakarta, dipancarkan lewat radio PC 2 AURI, sehingga bisa diterima di stasiun radio Bidaralam, Sumatera Barat, selanjutnya secara estafet di relay ke stasiun AURI di Takengon, Aceh, untuk selanjutnya ke Rangoon, Burma sehingga diterima pemancar All India, dan akhirnya sampai ke perwakilan RI di PBB, New York, Amerika Serikat.

Berita keberhasilan TNI menguasai Yogyakarta lewat serangan Umum 1 Maret ini menunjukan bahwa Republik Indonesia masih ada dan kuat, sekaligus mematahkan propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia sudah habis dan TNI hanyalah sekelompok para exstrimis. Hal inilah akhirnya yang dijadikan dasar diplomasi perwakilan RI di PBB, tentang eksistensi negara Republik Indonesia. Dari hasil diplomasi pada sidang PBB tanggal 7 Maret 1949, akhirnya banyak negara di dunia yang akhirnya mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

Siang itu, Lensamedia.co menyempatkan diri mengunjungi rumah bersejarah milik Pawirosetomo. Saat ini rumah tersebut sudah dihibahkan ke AURI dan sudah dibangun Monumen Radio Satu Maret. Halaman rumah tampak teduh oleh pepohonan, dan bentuk rumah masih dipertahankan sesuai aslinya. Di depan rumah tampak tugu peringatan yang menjulang tinggi dengan tulisan maklumat perjuangan.

Kedatangan Lensa disambut oleh Soeroso(72), dan Syaida Ndaru(32). Soeroso adalah cucu dari Pawirosetomo, anak dari Marto Prajarso, sedangkan Ndaru adalah buyut dari Pawirosetomo, cucu dari Marto Prajarso.

Soeroso sendiri adalah pensiunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang berkarier lama di Jakarta. Saat pensiun, dia memutuskan menghabiskan masa tua kembali ke desa asalnya, dan membangun sebuah pendopo Joglo, tak jauh dari rumah milik kakeknya yang sekarang menjadi museum/monumen serangan umum 1 Maret.

“Saya itu lahir tahun 1949, tepat disaat peristiwa itu terjadi, jadi saya tahu hanya dari cerita bapak,” terang Soeroso membuka obrolan kami.

Dari cerita Soeroso dan dokumen dokumen yang ada di museum itu dapat digambarkan betapa dulu para pejuang bertaruh nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan RI. PC 2 AURI yang digunakan untuk siaran ini diletakkan di ruang bawah tanah di dapur milik Pawirosetomo, dan ditimbun dengan kayu bakar, sementara antena pemancarnya di rentang diantara dua pohon kelapa di halaman.

“Cerita dari Almarhum bapak, dulu kalau siaran hanya pada waktu malam, untuk menghindari patroli Belanda yang mencari keberadaan AURI dan Jendral Sudirman,” cerita Soeroso.

Operasional radio dipimpin oleh Marsekal Madya Boedihardjo, anggota kesatuan AURI yang dimasa Orde Baru pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan.

“Waktu Agresi militer Belanda ke dua, Yogyakarta berhasil diduduki oleh Belanda, para pejuang akhirnya banyak yang menyingkir ke luar Yogya, termasuk Gunungkidul, termasuk pak Boedihardjo, yang mendirikan markas di Banaran,” lanjutnya.

Para pejuang ini, sesuai maklumat perang Panglima Besar Jenderal Sudirman, kemudian menerapkan taktik perang gerilya. Jenderal Besar legendaris ini terjun langsung memimpin anak buahnya. Perjalanan gerilya Panglima Sudirman saat ini dikenal sebagai Route Gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang tidak hanya berada di wilayah Yogyakarta, tapi sampai ke wilayah Jawa Tengah.

Dalam Gerilya dulu, pak Dirman ceritanya sempat singgah di Banaran, sebelum meneruskan perjalanan gerilya ke wilayah Wonogiri,” lanjut Soeroso.

Keberhasilan TNI menguasai Yogyakarta, dan kabar sampai ke PBB tentu membuat berang pemerintah Belanda. Mereka kemudian menyusun kekuatan untuk mengadakan serangan besar besaran ke Gunungkidul. Dan pada 10 Maret 1949, di gelar operasi militer Belanda untuk menyerbu Gunungkidul, dengan target menangkap Jenderal Sudirman dan menemukan stasiun radio AURI.

Serangan ini diawali dengan memborbardir lapangan udara Gading, dan menerjunkan 300 personil lintas udara. Di darat, Belanda mengerahkan lebih dari 3000 tentara untuk menyerbu Gunungkidul. Operasi militer ini adalah operasi militer terbesar kedua, setelah aksi Agresi militer ke dua.

Pasukan besar yang dikerahkan tidak berhasil menangkap Jenderal Sudirman dan juga tidak berhasil menemukan stasiun pemancar radio. Operasi militer besar besaran Belanda ini dianggap sebagai salah satu operasi militer yang gagal. Hal ini menurut Soeroso tidak lepas dari peran warga masyarakat yang ikut berjuang dan melindungi para tentara TNI.

“Tentara Belanda sebetulnya sudah sangat dekat, hanya 50 meter dari sini, di perempatan situ, tapi mereka mengambil arah yang salah,” lanjut Soeroso sambil menunjukan perempatan di sebelah rumah.

Peran keluarga Pawirosetomo dalam ikut mempertahankan kemerdekaan RI, saat ini diapresiasi oleh pemerintah. Lokasi rumah oleh AURI kemudian dibangun menjadi monumen perjuangan 1 Maret. Oleh pihak keluarga, di lokasi ini meraka meminta untuk dibuatkan sekolah, yang sekarang menjadi TK Negeri 1 Maret.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: