“Ruang Ceria”, Kiprah Pemuda Pengkol Memberi Ruang Belajar Bagi Anak Anak Usia Dini

  • Bagikan

Nglipar,(lensamedia co)–Suasana balai Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar pada Minggu pagi itu tampak meriah, puluhan anak anak usia Paud, TK dan SD tampak sedang belajar bersama dengan dibimbing oleh beberapa remaja sebagai tutornya.

Anak anak ini belajar dengan santai, tidak berseragam formal, dan beberapa terlihat sambil bermain dengan teman temannya. Konsep belajar bersama ini digagas oleh Siti Agus Setiyana(26), warga Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar. Siti juga mengajak teman teman Karang Taruna di dusunnya untuk ikut menjadi tutor belajar bagi anak anak. Mereka menyebut program ini sebagai “Ruang Ceria”, dimana anak anak diberikan sarana dan ruang untuk belajar sambi bermain.

Tidak formalnya konsep belajar ini, menurut Siti mempunyai banyak nilai plus, diantaranya anak anak akan lebih bebas dan santai berinteraksi dengan teman temannya, sehingga mereka merasa lebih bebas untuk berkspresi.

“Anak anak akan lebih kreatif, tertarik untuk mempelajari hal hal yang baru dan santai, konsep kami adalah belajar sambil bermain,” terang Siti.

Menurut Siti, kegiatan ini sudah mereka rintis sejak tiga tahun yang lalu, sempat berhenti karena terhalang Pandemi, kini kegiatan kembali mereka lakukan, seiring kegiatan PTM yang mulai dilakukan di sekolah.

Sesuai konsep “Ruang Ceria”, anak anak yang mengikuti proses belajar ini memang terlihat gembira, mereka bebas memilih akan belajar apa. Anak anak yang berusia rata rata 3 sampai 10 tahun ini terlihat sedang berlatih menulis, membaca, menggambar, atau hanya sekedar bermain dengan temannya.

“Kegiatan ini kami mulai tahun 2018, awalnya di rumah saya, dulu hanya beberapa anak yang ikut, lalu terhalang Pandemi, jadi terpaksa berhenti dulu,” cerita Siti.

Saat kasus Covid di kampungnya mulai mereda, Siti kemudian berinisiatif untuk memulai kegiatan ini lagi. Dia mengaku merasa peduli dan prihatin terhadap anak anak yang selama Pandemi hanya bersekolah secara Daring, sehingga tentu sangat tertinggal pembelajarannya. Siti dan teman temannya akhirnya meminta ijin kepada perangkat setempat untuk menggunakan balai padukuhan sebagai tempat belajar.

“Anak anak yang ikut belajar bersama semakin banyak, dan mereka terlihat antusias, sehingga kami minta ijin untuk menggunakan balai padukuhan,” lanjut Siti lagi.

Untuk saat ini, memang tidak hanya anak usia dini yang mengikuti proses ini, bahkan ada beberapa peserta yang sudah duduk di bangku SD.

“Harapan kami kegiatan ini akan bisa membantu dalam menunjang proses pembelajaran mereka di sekolah formal,” lanjutnya.

Siti sendiri kesehariannya adalah seorang pengajar disebuah sekolah swasta. Konsep belajar “Ruang Ceria” ini dilaksanakan seminggu sekali dengan waktu beberapa jam. Dia menyatakan antusias anak anak untuk belajar sangat tinggi, mereka merasa sangat senang dan bersemangat bisa belajar dengan santai sambil bermain bersama teman temannya.

“Kegiatan selesai, banyak anak anak yang belum mau pulang, katanya mereka belajar baru sebentar,” ujar Siti dengan tertawa.

Untuk sarana belajar yang selama ini mereka gunakan, baik buku atau peralatan sekolah lainnya, Siti mengaku pernah mendapat donasi dari beberapa pihak. Namun beriring peserta yang semakin bertambah, maka sarana belajar ini sering kurang, sehingga dia dan teman temannya kadang harus mengeluarkan biaya dari uang pribadi untuk membeli alat tulis. Walaupun begitu, mereka mengaku merasa ikhlas, karena biaya yang mereka keluarkan juga semampunya.

“Enjoy saja, niat kita kan sukarela untuk ikut membantu mencerdaskan generasi,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: