Puthul Gunungkidul Selalu Punya Cerita Soal Kuliner Ekstrem

  • Bagikan
Puthul, serangga yang banyak diburu masyarakat untuk diolah menjadi kuliner ekstrem

Gunungkidul,(lensamedia.co)–Bicara soal kuliner ekstrem, Gunungkidul adalah gudangnya, sebut saja belalang, ulat, ungkrung/kepompong, kelelawar, tawon, puthul atau serangga serangga yang lain.

Hewan hewan yang bagi sebagian orang dianggap suatu hal yang menggelikan, menakutkan bahkan menjijikkan ini akan menjadi suatu camilan gurih bagi sebagian warga masyarakat Gunungkidul.

Memasuki awal musim penghujan, Puthul menjadi target buruan untuk para penghobi makanan ekstrem. Hewan yang sejatinya adalah jenis serangga ini, kehadirannya selalu dinanti, bahkan banyak warga Gunungkidul yang berburu Puthul tidak sekedar dikonsumsi sendiri, melainkan untuk dijual.

Puthul(Phyllopaga hellery) sebenarnya adalah hama pertanian. Serangga yang tergolong dalam family Scarabaeidae, sub family Melolonthinae dari ordo Corleoptera ini menyerang bagian perakaran tanaman padi, kacang tanah, jagung dan yang lainnya.

Akibat serangan yang masif dari hama Puthul yang masih dalam bentuk “oret” ini, tanaman padi bisa mengalami gagal panen, tanaman padi akan layu dan mati akibat “oret” ini memakan habis perakarannya.

Oret yang sudah menjadi Puthul ini kemudian akan keluar dari tanah, dan terbang untuk mencari pasangan untuk kawin.

“Puthul keluar pada sore hari, habis Maghrib sampai sebelum Isya,” terang Anjar(26), warga Padukuhan Kepek, Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Gunungkidul.

Anjar menceritakan, dia biasanya mencari puthul di gerumbul-gerumbul yang banyak terdapat daun daun kering.

“Kemunculan Puthul hanya sebentar, paling tidak sampai setengah jam, mereka keluar untuk kawin, makanya banyak yang “gandeng gandeng” dua atau tiga bahkan empat Puthul, biasanya Puthul senang hinggap di pucuk pucuk daun yang rendah,” terangnya lagi.

Dengan berbekal senter dan plastik tebal atau botol bekas air mineral, perburuan Puthul dimulai, tempat tempat yang banyak Puthul, sudah dihapal oleh para pemburu. Saat hari mulai gelap, maka bermuncullah senter senter yang menyala yang digunakan untuk “nyuluh”(mencari) Puthul ini.

Menariknya, perburuan Puthul ini tidak hanya dilakukan oleh kaum lelaki, ibu-ibu pun banyak yang ikut untuk mencari serangga ini.

“Lumayan buat lauk, walau tak segurih Belalang, tapi mencari Puthul ini gampang, tinggal tangkap di pucuk pucuk daun, biasanya bergerombol,” terang Yeni(32), saat ikut berburu Puthul dengan suaminya.

Yeni mengatakan, memasak Puthul paling enak harus di “bacem” dulu, sehingga bumbunya bisa meresap.

“Tidak pernah menjual, hanya buat lauk sendiri, anak anak saya juga doyan,” lanjut Yeni.

Lain halnya dengan Bowo(37), warga Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, dia mencari Puthul memang untuk dijual.

“Satu botol air mineral yang besar, bisa sampai 50 sampai 70 ribu, tapi kalau Puthul pas banyak ya harganya bisa turun,” terangnya.

Bowo mengaku, agar perburuan dapat hasil yang banyak, dia harus mencari tempat “nyuluh” yang jarang diburu orang lain.

“Kalau tempatnya tidak pernah “di suluh”, bisa panen, dua botol ini bisa penuh,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: