Puluhan Tahun Hidup Bersama Hingga Miliki Anak Cucu, Banyak Pasangan di Gunungkidul Belum Miliki Buku Nikah

  • Bagikan

Saptosari,(lensamedia.co)–Kemenag Gunungkidul menyebut banyak pasangan yang belum memiliki buku nikah meski telah hidup bersama selama puluhan tahun. Rata-rata dari mereka merupakan pasangan yang telah berusia lanjut. Sedangkan dulunya, pernikahan hanya dilakukan menggunakan acara adat.

Kepala Kemenag Gunungkidul, Sa’ban Nuroni mengatakan, secara pasti pihaknya belum melakukan pendataan terhadap pasangan yang tidak memiliki buku nikah. Namun menurutnya jumlahnya cukup banyak.

Dirinya menyebut, di wilayah Kapanewon Saptosari sendiri terdapat 70 pasang belum memiliki buku nikah. Dimungkinkan jika diakumulasi dengan jumlah di Kapanewon lainnya akan lebih banyak.

“Di Kalurahan Planjan ada 24 pasang, hari ini kita lakukan sidang terpadu isbat nikah,” kata Sa’ban, Kamis (15/09/2021).

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Sunaryanta yang pada kesempatan tersebut menyerahkan secara simbolis buku nikah mengatakan, hal ini merupakan bentuk pelayanan pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Pelayanan sidang isbat terpadu ini merupakan tindak lanjut MOU Pemkab dengan pengadilan agama Gunungkidul serta kementerian agama Gunungkidul.

“Tujuan dilaksanakan kegiatan ini agar perkawinan memiliki status hukum yang sah serta untuk menjamim kepastian hukum,” kata Sunaryanta.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada  Pengadilan agama yang sudah menginisiasi melaksanakan kegiatan ini. Sehinga dengan kegiatan ini bagi peserta akan bermanfaat mengingat arti dalam pernikahan pada prinsipnya untuk sah diakui secara agama  dan diakui secara negara.

Pada kesempatan tersebut bupati juga menyempatkan melihat secara langsung proses administrasi dan pelaksanaan sidang isbat. Selain itu dia juga menyempatkan berdialog dengan beberapa warga.

Dalam dialog tersebut, Sunaryanta mendapat pengakuan dari masyarakat bahwa pernikahan dilakukan pada tahun 1960.

“Tadi saya bertanya, rata-rata mereka lupa kapan mereka menikah karena sudah puluhan tahun,” kata Sunaryanta.

“Kebanyakan juga menikah secara tradisi dulu, dengan dilakukan oleh dukuh serta tokoh masyarakat jaman dulu,” pungkas Sunaryanta.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: