u6Dacb.md.jpg

Proyek Milyaran, Kinerja Asal-Asalan, Terancam Tak Selesai di Akhir Tahun Anggaran

  • Bagikan


Purwosari, (lensamedia.co)– Sebuah proyek besar untuk mengangkat sumber air bawah tanah di Pantai Bekah, Padukuhan Temon, Kalurahan Giri Purwo, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul terancam gagal terwujud. Pasalnya, proyek senilai hampir Rp 13 milyar dana dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan ini dikerjakan asal jadi dan terancam tak selesai hingga akhir tahun anggaran tahun 2021 berakhir. Dari beberapa item pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor PT Aquatek Rekatama Konstruksi, hingga medio pertengahan September 2021 ini baru kisaran 60% pekerjaan yang selesai dikerjakan rekanan.

“Setahu saya saat ini masih seputar penanaman jaringan perpipaan di sepanjang jalur lebih kurang 7 kilometer antara Pantai Bekah hingga titik akhir dekat masjid Balong di tepi ruas jalan JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan) sana. Namun untuk 3 unit reservoir dan pengeboran sumber airnya di tepi Pantai Bekah sana baru akan dilaksanakan,” terang Tukijan, dukuh Temon.

Tukijan menduga, jika jumlah pekerja tidak ditambah personelnya maka hingga tahun 2021 berakhir proyek itu tidak akan selesai dikerjakan kontraktor. Sebab hingga saat ini pembebasan lahan ganti rugi untuk pengeboran maupun 3 titik reservoir belum terbayarkan oleh Pemkab Gunungkidul lantaran belum dianggarkan dalam APBD tahun 2021, otomatis ganti rugi lahan itu baru bisa dibayarkan setelah pembahasan APBD Perubahan diketok palu dewan.

Dari plang papan nama pekerjaan diketahui proyek itu milik Balai Besar Wilayah Sungai Opak Serayu bertajuk pembangunan penyediaan sumber air baku sungai bawah tanah yang dilaksanakan PT Aquatek Rekatama Konstruksi berdasarkan kontrak nomor : HK 0201-Aq.4.3/07/2021 tertanggal 19 Maret 2021 dengan waktu pelaksanaan selama 270 hari kalender. Nilai kontraknya tak main main, senilai Rp 12.923.202.735,- dan bukanlah proyek multi year.

“Kinerja pemborongnya dalam penilaian saya kurang profesional Mas. Galian pipa seharusnya kedalaman antara 90 cm hingga 1,5 meter, namun faktanya rata rata hanya kisaran 70an cm. Penanaman pipa HDPE pun juga asal masuk dan tidak nampak dipermukaan tanah, padahal setahu saya untuk menanam pipa HDPE itu alasnya pasir lalu pipa baru ditimbun tanah. Faktanya banyak yang tidak menggunakan pasir sebagai alas dibawah pipa, bahkan banyak yang langsung ditimbun batu. Apa tidak pecah itu jika kelak terlindas mobil,” papar Yud, salah seorang warga.

Lebih lanjut Yud menjelaskan, sedari awal proyek itu dilaksanakan kontraktor selaku rekanan BBWSO kurang profesional. Sebab PT Aquatek Rekatama Konstruksi disinyalir tidak mengerjakan proyek ini secara langsung, melainkan yang mengerjakan justru pihak lain alias dipihak ketigakan lagi kepada pensiunan pejabat. Disisi lain, pemasangan jaringan perpipaan terlebih dahulu sebelum pengeboran sumber air dinilainya tidak lazim.

“Logikanya begini, kalau ingin mengangkat sumber air mestinya nge bor sumur dulu ataukah membuat jaringan perpipaan dan reservoir ? Kan mestinya sumber airnya dulu di bor, dipastikan sumber airnya memadai untuk diangkat ke permukaan. Baru setelah airnya dipastikan keluar, dibuatlah jaringan perpipaan, lanjut membuat reservoir untuk bak penampungan. Lha ini kan nggak, jaringannya dibikin dulu sementara sumber airnya malah belum di bor. Bagaimana jika meleset dari perkiraan ? Misal sumber air tidak seperti yang diperkirakan, apa ini tidak akan menjadi proyek mangkrak jika sampai gagal, apa nggak merugikan negara dan masyarakat ?” papar Yud.

Terpisah, Rifkhy, pelaksana lapangan PT Aquatek Rekatama Konstruksi ketika dikonfirmasi via aplikasi WA membantah ada pelanggaran spesifikasi dalam proyek yang dikerjakannya.

“Sesuai dalam spek kedalaman galian antara 90 cm hingga 1,5 meter tergantung medan di lapangan. Untuk masalah kenapa sumurnya belum di bor atau reservoir belum dibangun lantaran uang kerohiman ganti rugi lahan memang belum dibayar kepada pemilik lahan dan itu ranahnya Pemkab Gunungkidul,” kelit Rifkhy.

Terkait kemungkinan proyek tidak selesai dikerjakan hingga akhir tahun 2021, Rifkhy meyakini pihaknya bisa menyelesaikan pekerjaan perpipaan, pengeboran sumber air bawah tanah hingga reservoir 3 titik tepat waktu.

“Ini masih on the track, dan saya yakin bisa selesai tepat waktu,” pungkasnya.

Hal berbeda disampaikan Thomas, Direktur Utama PT Aquatek Rekatama Konstruksi. Pihaknya menuding kesalahan konsultan perencana membuat pihaknya kerepotan dalam mengerjakan proyek ini.

“Itu kesalahan di konsultan perencanaan, bayangkan untuk galian itu mestinya menggunakan hand bracker saja cukup. Fakta dilapangan kami harus mendapatkan alat berat excavator, hitung saja berapa sewanya, bahan bakarnya hingga operatornya, jadi meleset dari estimasi. Yang jelas semua tahapan pekerjaan kita dokumentasikan disaksikan konsultan pengawas, jadi tidak benar jika ada pelanggaran spek,” tegas Thomas.

foto : pipa jenis HDPE yang terlihat sudah pecah.

Apa yang disampaikan Thomas ternyata bertolak belakang dengan yang disampaikan Asa dari PT Prajna Adhi Karya selaku konsultan supervisi proyek ini. Sebab keberadaan PT Prajna Adhi Karya ternyata berada di Cimahi, Bandung, Jawa Barat dan tidak membuka perwakilan di Yogyakarta. Padahal untuk pengawasan proyek nominal puluhan milyar mestinya ada kantor khusus untuk pengawasan hingga daftar absensi dan progres pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor yang diawasi setiap harinya.

“Yang jelas setiap pekerjaan yang tidak sesuai spek sudah kami kasih teguran, kalau tidak dilaksanakan kita berhentikan. PT Prajna Adhi Karya adanya di Bandung Mas, di Yogya adanya hanya mess buat tidur,” kata Asa.

Sementara itu Aris, Pejabat Pembuat Komitmen Air Tanah dan Air Baku, BBWS Serayu Opak hingga berita ini dilansir sama sekali tidak membalas permohonan konfirmasi dari media.

u6Dacb.md.jpg
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: