Sempat Mangkrak Setahun, Proyek AMDK PDAM Tirta Handayani Akhirnya Sedikit Temui Titik Terang

  • Bagikan

Wonosari, (lensamedia.co)— Proyek pembangunan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) milik PDAM Tirta Handayani yang mangkrak dari tahun anggaran 2020 hingga akhir tahun 2021 akhirnya sedikit menemui titik terang untuk beroperasi. Rencananya, Pembuatan Proyek AMDK yang semula akan dioperasikan dan diproduksi oleh PDAM Tirta Handayani akhirnya sedikit menemui titik terang yaitu akan dipihak ketigakan.

“Ya Produksi AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) akhirnya akan kami pihak ketigakan awal tahun 2022, saat ini baru proses pengurusan ijin ulang operasionalnya.”kata Sulistyo Aribowo, Direktur Umum PDAM Tirta Handayani.

Dalam kerjasama pengelolaan AMDK antara PDAM Tirta Handayani dengan pihak ketiga ini menggunakan system Maklon.

“Dengan system maklon ini nanti, jasa pengerjaan produk dilakukan oleh pihak lain begitu juga titik sumber air baku disediakan rekanan. Dn Keuntungan kita dengan system ini lebih mudah, hemat biaya, dan efisien.”beber Sulis saat dihubungi lensamedia.co, rabu (29/12).

Untuk diketahui, Proyek AMDK ini sudah menelan anggaran hingga Rp 380 juta pada tahun 2020 dan tak kunjung diresmikan untuk beroperasi hingga tahun 2021 usai. Lahan yang dipergunakan untuk proyek AMDK awalnya berada di Padukuhan Ngelorejo, Gari, Wonosari bermasalah. Uniknya, meski lahannya bermasalah, konon baik sertifikat halal dari MUI hingga ijin dari BPOM sudah muncul. Sehingga seharusnya air minum dalam kemasan tersebut sudah bisa beredar dan dinikmati khalayak Gunungkidul urung bisa dilaksanakan.

“Itu terkendala lahan yang dipergunakan adalah milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Nah BBWS tidak mengijinkan alih fungsi gedung itu untuk proyek AMDK PDAM,” cerita Y, nara sumber di PDAM Tirta Handayani yang enggan namanya disebut dalam pemberitaan.

Lebih lanjut Y menilai, PDAM Tirta Handayani selaku badan usaha milik daerah dinilainya masih kurang memiliki etos kerja, terlalu birokratis, inefisien, kurang memiliki orientasi pasar, serta reputasi yang kurang baik ditunjang profesionalisme yang masih rendah.

“Ini semua terjadi lantaran adanya pemerintah kabupaten yang melakukan intervensi yang berlebihan terhadap BUMD, salah satunya PDAM sehingga muncul ketidakjelasan antara menghasilkan profit dan di sisi lain dituntut untuk memiliki fungsi sosial terhadap masyarakat menyebabkan PDAM tidak fokus terhadap misi utamanya menyediakan air baku berkualitas bagi masyarakat Gunungkidul,” beber Y.

Fakta yang paling nyata, pengerjakan proyek AMDK tersebut dilaksanakan oleh PT Sinar Setia Sentosa Sejahtera yang beralamat di Kebayoran Baru, Jakarta. Namun dilapangan, pengendali proyek tersebut adalah BW rekanan asal Gunungkidul. Bocoran yang didapat lensamedia.co, banyak produk yang digunakan untuk produksi air minum dalam kemasan dibeli dengan kondisi second.

“Silahkan cek ke lapangan, itu mesin hingga penyulingan airnya dibeli dalam kondisi second hand alias bukan produk asli keluaran pabrikan,” pungkas Y.

Tentang keterlibatan BW inipun diakui Isnawan Febrianto, mantan direktur utama PDAM Tirta Handayani. Namun Isnawan menampik jika proyek AMDK tersebut mangkrak dan juga mesin-mesin produksinya bukan original pabrikan

“Wah itu masih bisa berproduksi Mas, bahkan surat-suratnya sudah lengkap. Semua ada di Bu Kris (red-mantan direktur umum PDAM Tirta Handayani), silahkan ditanyakan kesana sebab saya sudah pensiun. Semua dokumen dan datanya ada kok. Yang jelas seingat saya ya Mas BW itu yang dulu mengerjakan, dan seingat saya dengan bendera PT nya berasal dari Surabaya,” terang Isnawan.

Tujuan proyek AMDK tersebut, sambung Isnawan, untuk mendorong pembangunan daerah lewat upaya penyediaan air minum dalam kemasan yang bisa menjadi branch market unggulan PDAM Tirta Handayani. Konsep utamanya untuk menyediakan air minum dalam kemasan bagi kalangan internal pejabat Pemkab Gunungkidul.

“Jadi arahan dari atas dahulu konsepnya untuk memenuhi kebutuhan internal dahulu alias belum diedarkan luas kepada masyarakat. Nah mestinya pimpinan PDAM Tirta Handayani yang sekarang segera menindak lanjuti dengan meneruskan program tersebut agar dapat dimanfaatkan,” jelasnya.

Disisi lain, Kristina Tri Andarwati, mantan direktur umum PDAM Tirta Handayani yang sempat ditemui enggan mengungkapkan lebih jauh tentang mangkraknya proyek AMDK yang menelan anggaran hingga Rp 380 juta tersebut.

“Mohon maaf saat ini saya sudah tidak menjabat direktur umum lagi jadi tidak bisa memberikan keterangan banyak. Dan saya dahulu dalam melaksanakan proyek ini hanya berdasarkan arahan pimpinan saat itu,” kelitnya saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu diungkapkan Toto Sugiharta, Direktur Utama PDAM Tirta Handayani, pihaknya siap melanjutkan apa yang telah dilaksanakan oleh pendahulunya.


“Karena lahan yang di Gelung (red-Ngelorejo) itu milik BBWS maka rencananya mesin-mesin yang disana akan kita ambil untuk dipindahkan ke Semanu. Di Semanu itu kan ada bekas pabrik tiwul instan yang saat ini sudah tidak beroperasi. Namun karena kontrak pabrik itu hingga sekarang masih belum berakhir, maka kita menunggu dulu sementara waktu. Yang jelas kita siap melanjutkan rencana produksi AMDK tersebut,” tegas Toto beberapa waktu lalu.

Terkait produksi AMDK di Ngelorejo yang dahulu terkesan dipaksakan, Toto enggan menanggapi lebih jauh.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: