Produksi 420 Juta Butir Pil Per Bulan, Dua Pabrik Obat Terlarang di DIY Digrebek Polisi

  • Bagikan
Foto dok. Polres Bantul

Yogyakarta,(lensamedia.co)–Tim Bareskrim Polri bersama Polda DIY berhasil menyegel 2 pabrik obat terlarang di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul dan di Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Dua pabrik tersebut tergolong besar lantaran hasil produksi yang mencapai 420 juta butir per bulan itu diedarkan ke seluruh Indonesia.

Terungkapnya kasus tersebut bermula pada tanggal 6 September 2021 lalu. Saat itu, Ditipidnarkoba Bareskrim Polri meyelenggarakan Kegiatan Kepolisian Yang Ditingkatkan dengan sandi Anti Pil Koplo 2021 dengan target produsen dan pengedar gelap Obat Keras/Berbahaya.

Kemudian, pada tanggal 13 sampai dengan 15 September 2021, Subdit 3 Ditipidnarkoba Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus peredaran gelap obat-obatan keras dan Psikotopika oleh M beserta rekannya sejumlah 8 orang.

Dari mereka petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 5 juta butir pil golongan obat keras jenis Hexymer, Trihex, DMP, Tramadol, double L, Aprazolam dari berbagai TKP di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jaktim.

“Dari pengungkapan didapat petunjuk bahwa obat-obatan ilegal yang disita berasal dari Yogyakarta,” kata Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno Siregar, beberapa waktu kemarin.

Dari keterangan itu, Tim Ditipidnarkoba Bareskrim Polri bekerjasama dengan Polda DIY untuk melakukan ungkap kasus. Kemudian pada tanggal 21 September 2021, sekitar pukul 23:00 WIB polisi brhasil mengamankan WZ dan saksi A di TKP gudang Kasihan Bantul DIY.

“Disana kita mengamankan mesin-mesin produksi obat, berbagai jenis bahan kimia/ prekursor obat, obat-obatan keras jenis Hexymer, Trihex, DMP, double L, IRGAPHAN 200 mg yang sudah dipacking dan siap kirim, serta terdapat adonan/campuran berbagai prekursor siap diolah menjadi obat,” terang dia.

Lebih lanjut dikatakan, pada hari Rabu, tanggal 22 September 2021 sekitar pukul 00.15 WIB petugas melakukan pengembangan kasus dengan menangkap DA di salah satu Perumahan di Kasian, Bantul, Yogyakarta. Dalam interogasinya, DA menuturkan bahwa masih ada 1 pabrik lainnya yang terletak di Gudang Kel. Bayuraden Kapanewom Gamping, Sleman.

“Pada hari yang sama tepatnya pukul 02.15 WIB tim gabungan melakukan penggeledahan pabrik obat keras tersebut. DA itu berperan sebagai penerima pesanan dari saudari EY (DPO/pengendali) dan mengirim obat ke beberapa kota di Provinsi DKI, Jatim, Jabar, Kalsel,” jelas Krisno.

Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Agus Andrianto mengatakan, dari pengakuan beberapa saksi yang diamankan, pabrik obat keras dan obat terlarang ini mulai beroperasi sejak 2018. Kapasitas produksi 1 kali 24 jam bisa menghasilkan 2 juta butir sehingga pada tiap bulannya rata-rata bisa memproduksi 420 juta butir untuk memenuhi pesanan dan stok gudang.

Sementara itu, Dirpidnarkoba Mabes Polri Brigjen Pol Krisno Siregar mengatakan, untuk sementara gudang ini disegel dan telah diberikan tanda garis polisi. Polisi masih melakukan pemeriksaan pada sejumlah saksi.

Krisno mengungkapkan, DA mendapatkan gaji dari saudara kandungnya berinisial JSR alias J sebagai pemilik pabrik, yang berhasil ditangkap pada Rabu (22/09/2021) di rumahnya. Atas perbuatannya itu, ketiga tersangka dikenakan pelanggaran terhadap Pasal 60 UU RI No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja perubahan atas Pasal 197 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00.

Lebih subsider Pasal Pasal 198 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Yaitu Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00.

Pasal 60 UU RI No.5 th 1997 ttg Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: