Populasi Kera Ekor Panjang di Gunungkidul Tak Terkendali, AFJ Bersama Masyarakat Lakukan Pemetaan

  • Bagikan

Gunungkidul,(lensamedia.co)–Berkembangnya populasi kera ekor panjang di Gunungkidul akhir akhir ini sudah menjadi masalah bagi masyarakat. Faktor berkurangnya habitat dan makanan bagi hewan primata ini menyebabkan mereka merambah ke lahan pertanian penduduk, sehingga banyak sekali petani di berbagai wilayah Gunungkidul mengalami gagal panen.

Serangan kera ke lahan pertanian ini semakin tahun semakin masif, bahkan karena hal ini sudah sangat berpengaruh pada hasil produksi petani, maka serangan kera sudah bisa dianggap sebagai hama.

Solusi dari masalah ini juga menimbulkan dilema di kalangan petani sendiri. Karena banyak kera yang masuk dalam perlindungan kawasan Suaka Marga Satwa. Sehingga untuk membunuhnya maka petani bisa terjerat urusan hukum.

Pencegahan petani sampai saat ini masih dalam tahab pengusiran kera, dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan mercon, atau menunggui tanamannya dari serangan kera.

Karena permasalahan kera sudah menjadi konflik langsung dengan para petani maka Animal Friends Jogja(AFJ) bersama komunitas lokal masyarakat Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari mengadakan Pelatihan Pemetaan Partisipatif. Pelatihan ini sebagai bagian dari rencana konservasi habitat monyet ekor panjang. Bertempat di Sanggar Garu Luku, Kemadang, Tanjungsari, pelatihan telah diadakan tanggal 4-5 Januari 2022 lalu.

Pada agenda ini, Animal Friends Jogja (AFJ) bekerjasama dengan berbagai komunitas dan warga Gunung Kidul, Sanggar Garuluku dan LSM Jiwa Laut, Rumah Belajar Rakyat, Lumbung Kawruh dan Komunitas Merangkul Bumi(KOMBI). Kegiatan ini menghadirkan fasilitator dari Perkumpulan Bentara Papua, yang berpengalaman mendampingi masyarakat adat memetakan wilayah Hutan Adat Papua Barat.

Dengan pelatihan ini diharapkan masyarakat dapat memetakan persebaran koloni monyet yang ada di Gunungkidul, dan menemukan akar masalah dari konflik monyet di dusun masing-masing. Selama dua hari, peserta mempelajari dan mempraktikkan prinsip pemetaan partisipatif.

“Kami memulai dengan merumuskan kembali apa itu peta dan fungsinya bagi warga kampung,” terang Imam Setiawan dari Perkumpulan Bentara Papua.

Pada hari pertama ini, peserta juga diminta untuk membuat sketsa pedukuhan tempat tinggalnya, menggali isu yang terjadi di masing-masing wilayah, serta membaca dan menandai peta spasial Gunung Kidul.

Kegiatan hari kedua diawali dengan mengunjungi seputaran Pantai Kukup dan Baron, lokasi yang dikenal sebagai wilayah ruaya monyet.

“Di sini, peserta diberikan pelatihan lapangan menggunakan GPS untuk menandai koordinat di mana monyet kerap terlihat. Selain itu, peserta juga mengumpulkan informasi dari warga terkait kebiasaan dań waktu monyet menampakkan diri,” lanjut Imam Setiawan.

“Selama ini monyet sudah menjadi permasalahan yang kompleks di tingkat petani. Mudah-mudahan setelah dapat tambahan ilmu dari sini, bisa saya kembangkan dan aplikasikan ke masyarakat. Meskipun tidak serta-merta,” ujar Pariya, Dukuh Karanglor, Kalurahan Jepitu.

Pariya berharap, nantinya secara jangka panjang maslah ini akan bisa teratasi dengan kesadaran masyarakat, dan pemetaan potensi di wilayah masing masing juga bisa terpetakan.

Kegiatan pelatihan diakhiri dengan menyusun bersama-sama peta strategi atau mind map sebagai tindak lanjut dari diskusi peserta. Peta strategi dibuat berdasarkan pengamatan langsung peserta, pengalaman pribadi, dan informasi yang dikumpulkan dari petani juga pedagang di kawasan pariwisata.

“Sejauh ini kita memang tidak punya bukti valid terkait penyebab kemunculan monyet di ladang warga, dan solusi yang diambil akhirnya mengorbankan monyet tanpa ada rencana jelas untuk menyelesaikan problem yang sudah berlangsung menahun ini,” kata Angelina Pane, selaku Manajer Program AFJ.

Harapan kami, lanjut Angelina kegiatan ini dapat menjadi titik terang untuk menemukan solusi yang tidak merugikan monyet sebagai satwa liar yang memang berhabitat asli di Gunungkidul.

“Diharapkan nantinya, akan bisa ada solusi bersama, solusi terbaik dan berimbang antara manusia dan kera bisa hidup berdampingan tanpa merugikan satu dan lainnya,” pungkasnya.

u6Dacb.md.mp4
Penulis: Edi Padmo
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: