Perjalanan Mencari “Mulo”, 14 Perupa Muda Gunungkidul Pameran Di Yogyakarta

  • Bagikan

Gunungkidul,(lensamedia.co)–Kegelisahan para perupa muda untuk menelusuri bentuk seni rupa awal Gunungkidul dan korelasinya dengan perkembangan seni rupa sekarang, menginisiasi perupa perupa muda untuk menggelar pameran seni rupa bertajuk “Mulo”.

Pameran dilaksanakan di [email protected], jalan AS Samawaat No 99, Bekelan, Tirtonirmolo, Yogyakarta. Dengan diikuti oleh 14 perupa muda yang tergabung dalam AbDw Project, mereka mencoba menvisualkan pemikiran tentang “Mulo”, awal atau permulaan seni rupa Gunungkidul dalam berbagai karya seni dua dan tiga dimensi. Pameran berlangsung selama 15 hari, dibuka 11 Desember 2021 kemarin, oleh seniman Ugo Untoro.

“Abdw project awalnya adalah sebuah kegelisahan kami atas kebutuhan ruang presentasi, teman berdebat dan ekosistem yang selama ini tunggal dan hanya dimiliki oleh sekelompok orang saja di wilayah Gunungkidul,” terang Dwe Rahmanto, Ketua Pameran Mulo.

Menurutnya, kehadiran para perupa muda dan komunitas komunitas yang lain akan membangun diskursus baru di Gunungkidul. Hal ini akan semakin bagus untuk membangun iklim seni rupa Gunungkidul agar bisa lebih dinamis.

“Pertumbuhan kota dan orang yang konsisten belajar seni rupa semakin tumbuh terus, dengan terbangunnya dinamika iklim seni rupa Gunungkidul tentu mereka akan bisa terwadahi di wilayah terdekatnya,” lanjutnya.

Dwe menyebut, selama ini banyak perupa asli Gunungkidul tapi lebih memilih berkiprah di kota yang lebih mapan ekosistemnya yaitu Yogyakarta. Mereka ada yang kemudian menetap disana dan juga ada yang Nglajon (bolak-balik Jogja-Gunungkidul) tapi masih tinggal di Gunungkidul.

Menurutnya, fenomena ini merupakan hal yang menarik karena sebetulnya Gunungkidul mempunyai sejarah kesenian yang ragamnya banyak. Dwe menyebut wayang Beber, wayang Sodo, cerita sejarah, peninggalan peninggalan purbakala, ragam adat dan budaya berbasis kelokalan dan yang terbaru seni musik Campursari Mathous yang fenomenal.

“Di dunia seni rupa modern/kontemporer nasional sendiri, juga muncul nama nama seniman yang mempunyai akar Gunungkidul,” lanjutnya.

Project project Abdw menurutnya selalu bisa menangkap gejala seni seni terkini tanpa menghilangkan pengetahuan lokal. Mereka juga selalu berupaya untuk membangun jejaring dan membuka lebar lebar untuk menggali kemungkinan bentuk seni, metode berkesenian, sampai ide ide soal pengetahuan lokal Gunungkidul.

Dalam proses ini, project project komunitas Abdw juga banyak bekerjasama dalam bentuk kegiatan bersama dengan Institut Kesenian Jakarta, Performance Klub, Sekolah dan Guru seni di Gunungkidul, Indonesian Visual Art Archive, Festival Kebudayaan Yogyakarta ataupun Dinas Kebudayaan.

Mengenai pemilihan tema “Mulo” atau awal ini, Abdw menyebut bahwa ini adalah salah satu wujud pertanggungjawaban bersama terhadap proses berkesenian mereka.

“Kami percaya bahwa yang kami temui yang paling dekat dan jalani sehari hari adalah pengetahuan yang akan membedakan dengan komunitas dan perupa di ranah yang lebih global,” ujar Ismu Ismoyo, salah seorang peserta pameran.

Ismu menyebut, Ide tentang “Mulo” atau permulaan ini muncul setelah lebih dari 1,5 tahun melewati keadaan Pandemi. Satu tahun sebelumnya terang Ismu, mereka membuat pameran Daring dan 5 bulan kemudian merancang program.

“Tentu pandemi berpengaruh bagaimana kami akan memulai lagi sebuah pertemuan dan aktivitas berkesenian atau pameran. Ide “Mulo” awalnya merujuk pada sebuah wilayah Kalurahan di Gunungkidul, kemudian berkembang menjadi pertanyaan apa yang membuat Gunungkidul eksis, siapa yang memulai, siapa yang mewarnai dan seterusnya sampai kemudian kawan kawan menelisik asal muasal,” terang Ismu panjang lebar.

Sampai akhirnya dalam perjalananya, Abdw ini satu desa bernama Mulo, yang berada di wilayah kapanewon Wonosari. Dalam bahasa Indonesia, arti kata Mulo menurut mereka adalah adalah “mulai”. Mulo ini yang kemudian menjadi titip pijakan untuk mengembangkan Ide perihal permulaan, dengan bahasa yang dekat atau narasi yang sudah ada.

“Dengan membayangkan ini, tentu mempermudah pembacaan kawan kawan, ada satu wilayah, ada satu permasalahan, ada unsur asal muasal, ada keunikannya,” lanjut Ismu.

Diharapkan, generasi-generasi seni yang baru inilah yang bisa menangkap dan memahami saling keterkaitan antara asal usul lokal dengan dunia luas di luar wilayah tersebut ataupun korelasinya dengan warga setempat.

“Kesenian adalah bentuk pertanggung jawaban dan jalan kami untuk bisa terhubung saling menyeimbangkan dan bersikap kritis terhadap apapun dengan memberi solusi yang baik,” tandas Ismu.

Ismu menyebut bahwa pemilihan tempat di Yogyakarta ini memang disengaja, sebab mereka berencana untuk membuat sequel dari pameran ini.

“Nanti kita berencana membawa tema ini untuk pameran di Gunungkidul,” imbuhnya.

14 Perupa muda Gunungkidul yang berpartisipasi dalam pameran ini adalah Bangkit Kusuma, Beny Cahya Wijaya, Christian Cahaya Nugraha, Dilyan Eka Saputra, Dwi Rahmanto, Firma Summa, Guntur Susilo, Ismu Ismoyo, Lintang Pramono, Ndaru Mustaking,
Stefanus Endry Pragusta, Tri Suci Widodo, Wikhani Ismaya dan Yohanes Dwi.

“Mulo dalam bahasa Indonesia bisa berarti permulaan, cenderung diasosiasikan untuk menunjukkan awalan, asal mula; pokok asal, yang pertama, atau bahkan ihwal yang berkewajiban mencari “hakekat ada” secara mendasar,” ini adalah kalimat dari Arjo Rahardjo, sang kurator pameran.

Menurut Rahardjo, para peserta pameran tidak hanya mendekati istilah “mulo” dengan melakukan penelusuran yang mempertanyakan segala sesuatunya secara antologis dan definitif, tapi pameran ini justru hendak menjelajahi keleluasaan relasinya dengan waktu.

“Mereka mengajak kita bermain, merangkai, mempersiapkan bahkan meretas untuk sebuah “permulaan”. Sejauh mana “mulo”, atau permulaan mampu menjadi ruang negosiasi personal dan kolektif dari gerak waktu jaman yang berubah, bagaimana kita sebagai penyintas waktu memaknai istilah “permulaan” dalam ruang-waktu yang terbatas,” lanjutnya.

Dalam Pameran ini, menurut Rahardjo, menawarkan cara untuk melihat “mulo” dalam dimensi ruang-waktu, yang tidak hanya sempit dan terbatas, tapi juga dinamis.

“Di sisi lain, pameran ini kiranya juga dapat menyingkap ungkapan estetis, baik secara konsep maupun visual melalui konsepsi personal maupun kolektif”, pungkas Rahardjo.

lensamedia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: