Pasukan Bronjong Ijo, Dengan Modal Seadanya Bertekad Untuk Menghijaukan Gunungkidul

  • Bagikan

Semanu, (lensamedia.co)– Minggu pagi (7/10/2021), jalan Semanu – Giripanggung ramai dengan kendaraan wisatawan yang akan berlibur ke pantai. Pada sebuah tanjakan jalan, tujuh sepeda motor tampak sedang berhenti di pinggir jalan. Kelihatan bahwa salah satu dari mereka mengalami masalah dengan motornya.

Ada hal yang tak biasa dengan rombongan pemotor ini. Di setiap boncengan sepeda motor mereka, terpasang “bronjong” atau alat angkut yang didalamnya ada berbagai jenis bibit tanaman. Bibit bibit ini mereka lindungi dengan paranet agar tidak rusak saat terkena angin.

Tertarik dengan hal ini, kami kemudian berhenti dan ngobrol dengan mereka. Rombongan ini adalah Komunitas Resan Gunungkidul, sebuah komunitas swadaya yang beberapa tahun belakangan ini intens dalam gerakan konservasi di berbagai wilayah Gunungkidul, dengan cara menanam pohon.

“Kami akan ke telaga Lemahmendak, ada acara penanaman pohon disana,” terang Joyo (20), dia adalah anggota komunitas Resan dan masih berstatus sebagai mahasiswa semester 6 disebuah perguruan tinggi swasta di Gunungkidul.

Sambil membetulkan sepeda motor rekan mereka yang rusak, kami kemudian banyak mengobrol tentang gerakan konservasi yang selama ini mereka lakukan.

“Gerakan konservasi ini berbasis masyarakat, jadi kami menanam pohon atas permintaan mereka, selama lebih tiga tahun ini,.kami menanam hampir 11 ribu pohon, di 32 lokasi di Gunungkidul,” terang Tri Marsudi (42). anggota komunitas Resan yang kesehariannya sebagai Dukuh, padukuhan Kedung Poh Lor, Kapanewon Nglipar.

Fungsi bronjong sebagai alat angkut bibit pohon yang akan mereka tanam ternyata mempunyai banyak keuntungan, disamping sepeda motor mereka bisa membawa bibit lebih banyak, juga dengan perhitungan biaya yang dikeluarkan akan lebih hemat.

“Kami itu bukannya tidak mau bawa mobil, tapi memang tidak punya,” sambung mereka sambil tertawa.

Penggunaan bronjong sebagai alat angkut ini ternyata juga menjadi ciri khas tersendiri bagi gerakan komunitas yang berbasis sukarela dan swadaya ini. Mereka menyebut, alat angkut praktis ini sebagai divisi pasukan “Bronjong Ijo”.

“Kita itu hanya modal seadanya, gerakan ini tidak berdasar program resmi, tidak ada yang membiayai, semua kami lakukan dengan ikhlas, harapannya, apa yang kami lakukan ke depan ada manfaatnya untuk anak cucu,” kata Mahmudi (54).

Dari obrolan kami, gerakan sukarela dan ikhlas komunitas ini memang tidak sekedar jargon. Hal itu terlihat dari sikap mereka yang apa adanya, guyon dan santai serta terlihat menikmati apa yang sedang mereka kerjakan.

Pendapat ini juga disampaikan oleh Irsyad Mathias (43), salah satu yang ikut rombongan bronjong ijo. Irsyad ternyata adalah seorang dosen Universitas Brawijaya Malang, yang sedang melakukan desertasi/penelitian tentang air untuk meraih gelar S-3 nya di Gunungkidul. Menurutnya, gerakan konservasi yang dilakukan oleh Komunitas Resan memang sangat spesifik dan beda.

“Gerakan ini berusaha membangun kesadaran masyarakat lokal untuk mencintai lingkungan masing-masing, jadi esensinya kena, konservasi tidak sekedar seremonial atau kepentingan sesaat, karena manfaat konservasi baru bisa dirasakan dalam jangka panjang, jadi memang butuh konsistensi dan peran masyarakat,” kata Irsyad.

Irsyad mengaku, bahwa dirinya pertama kali mengenal komunitas Resan sewaktu mereka mengadakan agenda menggali tiga sumber mata air yang tertutup di Kapanewon Playen, dengan mengambil momen hari Lingkungan Hidup.

Irsyad mengaku bahwa kegiatan semacam ini dinilainya sangat real, karena dari upaya itu, ketiga mata air memang kembali hidup, dan mengalir di sungai kecil yang digunakan para petani untuk usaha pertanian.

Dari perkenalan itu, Irsyad akhirnya mulai mengenal pola gerakan yang dilakukan, sehingga ia memutuskan untuk selalu bergabung dengan setiap kegiatan komunitas Resan Gunungkidul.

“Terus terang saya banyak belajar dari komunitas, bagaimana mereka menjalankan gerakan dengan apa adanya, sukarela, ikhlas dan dijalani dengan gembira,” imbuhnya.

Semakin penasaran, maka kami memutuskan untuk ikut agenda penanaman hari itu. Telaga Lemah mendak adalah sebuah telaga yang berada di Padukuhan Mranggen, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu. Dimana sejak telaga itu dibangun permanen, justru malah airnya gampang sekali mengering.

Sesampai di lokasi, tampak puluhan anggota Karang Taruna, Pokdarwis, dan perangkat kalurahan Candirejo sudah hadir di lokasi. Mereka sedang menyiapkan lubang tanam, bambu sebagai pengaman dan pupuk kandang. Setelah acara seremonial sebentar maka acara penanaman pohon di seputaran telaga pun dimulai.

Lurah Candirejo, Renik David Warisaman menyambut baik agenda penanaman ini, dia menyatakan bahwa di Kalurahan Candirejo ada 6 telaga, dan hampir semuanya kering di musim kemarau. Pihaknya berharap dengan penanaman pohon konservasi, telaga akan kembali hidup dan bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat.

“Kami memang punya program, telaga Lemahmendak ini bisa dijadikan rest area dan tempat wisata, juga sebagai pusat budaya masyarakat, ini akan menjadi pilot project yang nantinya bisa dikembangkan di telaga telaga yang lain,” terang Renik.

Dalam kesempatan itu, juga disinggung tentang progres membangun sebuah “Wana Desa” atau hutan adat, dimana kawasan telaga bisa dirintis menjadi wisata edukasi.

“Jika koleksi pohon yang ditanam lebih variatif dan lengkap, tentu kita bisa menawarkan wisata edukasi, karena sudah banyak jenis jenis pohon di gunungkidul yang mulai langka,” pungkasnya. (EP)

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: