“Ora Wutuh Nanging Ampuh”, Semboyan Atlet Tuna Daksa Gunungkidul yang Berhasil Pecahkan Rekor Nasional

  • Bagikan

Papua,(lensamedia.co)–Berbekal latihan dan semangat yang luar biasa, atlet Cabor angkat berat dari Gunungkidul berhasil pecahkan rekor nasional sekaligus meraih medali emas pada ajang bergengsi Peparnas XVI Papua 2021.

Semboyan “Ora Wutuh Nanging Ampuh”, akhirnya berhasil membakar semangat juang Sutiayah(39), warga Padukuhan Pokdadap, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu Gunungkidul. Dia akhirnya mampu membuktikan bahwa walaupun secara fisik mempunyai kekurangan, namun semangat juang yang tinggi akan memberikan sebuah prestasi yang sangat membanggakan.

“Saya merasa sangat bersyukur kepada Tuhan. dan berterimakasih kepada keluarga, pelatih, dan warga Gunungkidul yang memberi doa dan dukungan, sehingga saya mampu meraih yang terbaik,” ujar Sutiayah lewat sambungan telepon.

Dia menyatakan bahwa Peparnas Papua 2021 ini merupakan event kompetisi pertamanya di tingkat nasional. Namun hasil yang ia peroleh tidak main-main, menjadi pemecah rekor nasional dan meraih medali emas untuk cabang olahraga angkat berat di kelas 50 kg.

“Saya berhasil mengangkat beban seberat 85 kg, di kelas 50 kg, angkatan itu memecahkan rekor nasional,” lanjut Sutiayah, Selasa sore(9/11/2021) melalui sambungan telephon.

Sutiayah menceritakan perjuangannya untuk meraih prestasi ini, bagaimana ketatnya pertandingan hang baru saja dia jalani.

“Banyak atlet-atlet nasional dengan jam terbang yang tinggi mengikuti ajang bergengsi ini, mereka sudah malang melintang di Cabor angkat berat nasional,” imbuhnya.

Namun, berbekal latihan dan dorongan semangat dari berbagai pihak, Sutiayah mengaku tetap percaya diri dan berupaya memberikan kemampuan terbaiknya.

“Semboyan, “Ora Wutuh Nanging Ampuh” membakar semangat saya untuk terus berjuang,” kata ibu dari satu anak ini.

Dia mengaku, kompetisi yang dia ikuti memang persaingannya sangat ketat, apalagi ini adalah event nasional pertama yang dia ikuti.

“Saya berhasil mengangkat 85 kg, kemudian yang juara 2 dari Jambi dengan beban 76 kg dan juara dari Kalimantan Timur dengan beban 55 kg,” imbuh dia.

Sutiyah mengatakan bahwa lawan paling berat adalah dari Sumatera Selatan dan dari beberapa daerah lainnya. Sutiyah yang merupakan tuna daksa sudah 3 tahun menekuni cabang olahraga angkat berat. Prestasinya di tingkat Kabupaten dan Provinsi memang sudah lumayan, sedangkan untuk nasional ini merupakan yang pertama kali bagi dirinya.

Perjuangan sebelum ikut kompetisi sudah dilakukan oleh Sutiayah, dimana ia harus menaikkan berat badannya sekitar 7 kg untuk bisa mengikuti angkat berat kelas 50 kg.

“Dulunya saya aktif di kelas 41 kg, untuk ikut di kelas 50 kg, saya harus menaikkan berat badan, yang tadinya hanya 40 kg sekarang menjadi 48,89 kg,” ungkapnya.

Menaikkan berat badan dan menjaganya untuk tetap stabil ini juga butuh perjuangan ekstra, mulai dari pola makan yang harus diatur dan harus memenuhi unsur gizi yang seimbang.

“Kebetulan pelatih saya bisa menghitung kebutuhan gizi seseorang jadi saya banyak dibantu oleh beliau,” imbuh dia.

Sutiayah melanjutkan, dengan mengikuti kompetisi nasional dan prestasi yang berhasil diraihnya ini ia berharap bisa membanggakan keluarga dan warga Gunungkidul, dan bisa merubah perekonomiannya menjadi lebih mapan, disamping tentu juga memberi pengalaman yang luar biasa bagi dirinya.

“Untuk teman-teman difabel yang lain, tetap semangat berlatih untuk mengejar prestasi, jangan minder atau takut kita buktikan bahwa kita juga bisa,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
Penulis: Edi Padmo
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: