u6Dacb.md.jpg

Nikmati Panorama Alam yang Masih Perawan di Tebing Ngungap

  • Bagikan

Girisubo,(lensamedia.co)–Pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul selalu menawarkan keindahan alam. Tidak hanya pantai, deretan tebing pun menyuguhkan panorama alam nan indah. Salah satu kawasan tebing pantai yang jarang diketahui wisatawan yakni kawasan Tebing Ngungap di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo.

Tebing Ngungap sendiri masih sangat alami. Dapat dilihat dari belum banyaknya bangunan permanen di sekitar tebing. Wisatawan pun dapat melihat kondisi alam yang masih sangat alami di Bumi Handayani.

Nah, rute untuk menuju ke sana jika mengambil titik dari pusat Kota Yogyakarta, wisatawan bisaangsung menuju kota Wonosari. Kemudian dari situ dilanjutkan mengambil arah pantai Sadeng.

Setelah tiba di Pasar Girisubo, lurus saja terus ikuti jalan. Beberapa ratus meter jalan rusak dan sampailah ke tebing Ngungap. Tidak ada tiket masuk, karena memang belum dikelola oleh pemkab.

Kendati begitu, pengunjung hendaknya membawa bekal terlebih dahulu. Sebab, di sekitar tebing memang belum ada pedagang.

Setelah bekal dirasa cukup, perjalanan pun dapat dilanjutkan. Sampai ketemu di kawasan Ngungap, pengunjung dapat melihat bangunan pendopo sebagai tanda titik sampai. Kemudian dari situ menuju arah ke kanan atau arah barat, akan melalui tumbuhan khas pantai seperti pandan, dan setelah itu hamparan kawasan laut terbuka. Jika melihat kanan dan kirinya terdapat tebing-tebing yang indah disertai suara ombak menghantam karang.

Nah, setelah puas melihat sisi barat tebing, bisa melihat sisi timur kawasan pantai Ngungap, Melalui jalan menurun sebelah timur pendopo, pengunjung akan dibuai oleh keindahan tebing dan lautan. Informasi yang didapat, kawasan tersebut pernah dilukis oleh Franz Wilhelm Junghuhn tahun tahun 1856. Dia merupakan seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman lalu kemudian pindah ke Belanda. Dokumentasi karya lukisannya berjudul ‘Sudkuste Ostwarts von Rongkop’.

Ketika dikonfirmasi, Lurah Pucung, Estu Dwiyono mengatakan bahwa kawasan tersebut memang belum dikomersilkan untuk wisata. Selama ini banyak dimanfaatkan untuk kegiatan memancing melalui tebing atau rock fishing.

“Dulu pernah dibangun untuk dibambil sarang walet. Tetapi sejak 6 tahun terakhir tidak ada lagi,” kata dia.

Namun begitu, dengan potensi yang ada ini pihaknya sudah berencana mengembangkan kawasan sebagai salah satu destinasi wisata. Rencananya akan mengajukan anggaran melalui dana keistimewaan untuk mengembangkan kawasan tersebut.

u6Dacb.md.jpg
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: