Ngeri, Ini 10 Kuliner Ekstrem Khas Gunungkidul

  • Bagikan

(Lensamedia.co)–Selain terkenal dengan destinasi wisatanya, Gunungkidul, salah satu kabupaten yang ada di Yogyakarta ini juga terkenal dengan kuliner khasnya. Ada Bakpia, Thiwul, Gudeg, Gathot, dan masih banyak lagi.

Tentunya kuliner yang telah disebutkan tadi tak asing di telinga kita. Namun, taukah kalian bahwa di Gunungkidul punya kuliner ekstrim lho…

Dalam artikel ini, akan kita ulas 10 hewan yang dijadikan olahan ekstrim khas Gunungkidul.
Se-ekstrim apa sih yang diolah?

Berikut penjelasannya,

Puthul Goreng
Hewan puthul biasanya banyak dijumpai ketika musim penghujan, bersemayam di dedaunan. Lantaran dianggap sebagai hama perusak tumbuhan, larva puthul malah dijadikan bahan utama pembuatan makanan di Gunungkidul. Sebelum diolah, puthul dibersihkan terlebih dahulu dan dihilangkan sayapnya. Dibumbui dengan cara dibacem lalu digoreng. Selain dikonsumsi pribadi, olaha puthul laku diperjualbelikan oleh warga setempat.

Kelelawar Bacem
Kelelawar adalah hewan yang akrab dijuluki “codhot” di Wilayah Gunungkidul. Selain cita rasanya yang dianggap manis dan memanjakan lidah, ternyata hewan nokturnal ini juga dijadikan sebagai olahan berkhasiat oleh msyarakat Gunungkidul. Olahan tersebut diperjualbelikan untuk para penikmat yang ingin mencari kesembuhan untuk penyakit asma, kencing manis, asam urat, hingga kesembuhan luka. Kelelawar ini biasa didapat warga dari gua yang ada di sekitar kecamatan Panggang.

Tawon Goreng
Kuliner ekstrem asal Gunungkidul ini cukup sulit ditemukan karena keberadaan tawon atau lebah yang jarang diperjualbelikan. Kebanyakan, kuliner ini hanya dijadikan sebagi konsumsi pribadi. Biasanya warga Gunungkidul sengaja memeliharanya sendiri di rumah masing-masing, atau memburunya di ladang. Olahannya pun sederhana, yakni anak tawon yang masih berwana putih hanya digoreng dibumbui dengan garam dan bawang putih.

Belalang
Di Gunungkidul hewan yang kerap dianggap sebagai hama pun bisa dijadikan sebagai kuliner khas, salah satunya belalang. Serangga terbang yang ada di sawah ini dijadikan bahan olahan lezat dan gurih oleh warga Gunungkidul. Olahannya dapat berupa belalang bacem atau belalang goreng. Bagi pecintanya, belalang goreng ini dianggap nikmat dan gurih sehingga lazim dijadikan santapan makan ataupun sekadar untuk camilan. Selain itu, kuliner ini sudah dijadikan ikon kuliner ternama di Gunungkidul yang sering dijajakan sebagai kuliner oleh-oleh. Namun, untuk sebagian orang yang belum terbiasa memakannya akan merasa jijik atau pantang memakan belalang bila ia memiliki alergi terhadapnya.

Ungkrung Jati
Dalam bahasa Indonesia, ungkrung sama dengan kepompong. Kepompong yang berasal dari ulat pohon jati ini dimanfaatkan sebagai konsumsi warga Gunungkidul ketika musimnya tiba. Sama halnya dengan belalang, ungkrung jati ini diperjualbelikan warga baik dalam kondisi masih mentah dan adapula yang sudah digoreng siap makan. Meskipun harganya sedikit mahal dan tampilannya yang aneh, tetapi olahan ungkrung jati justru mudah dipasarkan karena mengadung protein yang tinggi seperti belalang.

Ungkrung Trembesi
Musim ungkrung trembesi bersamaan dengan kemunculan ungkrung jati. Meskipun sama-sama mengadung protein yang tinggi, olahan ungkrung trembesi cenderung kurang diminati karena teksturnya lembek dan berwarna hijau kekuningan. Namun demikian, warga Gunugkidul gemar menikmatinya pada saat masih menjadi ulat yag biasanya ditumis dengan cabai rawit bumbu bacem, dibuat pepes, atau bothok karena rasanya yang masih kenyal dan gurih. Olahan ini juga diperualbelikan oleh penduduk sekitar.

Laron
Saat musim huja tiba, serangga laron ini mulai menampakkan dirinya. Laron adalah raja atau ratu dari calon koloni baru sebangsa rayap nantinya. Dalam bahasa Indonesia, laron disebut sebagai anai-anai. Cara menangkap laron ini cukup mudah, hanya dengan menyiapkan baskom berisi air yang diletakkan di bawah sinar lampu. Dengan begitu, laron yang telah berjatuhan ke dalam air akan merontokkan sayapnya yang telah rapuh. Laron dapat diolah menjadi pepes dengan bumbu seadanya. Selain itu laron juga dapat dijadikan sebagai topping rempeyek dengan baluran tepung yang renyah.

Rica-Rica Bekicot
Siapa sangka, hewan berlendir dan merayap di permukaan berlumut ini bisa diolah menjadi menu masakan yang menggiurkan. Bahkan sebagian masyarakat Gunungkidul menganggap bekicot kaya akan gizi serta berkasiat bagi kesehatan. Olahan bekicot masih jarang ditemukan, tetapi penikmatnya lambat laun semakin banyak lataran sajian yang begitu nikmat dari olahan bekicot tersebut. Karena proses pengolahannya yang cukup lama dan tidak mudah, membuat harga jual olahan bekicot ini cukup mahal.

Bulu Babi
Saat memasuki musim penghujan, masyarakat pesisir di Gunungkidul biasa mencari bulu babi untuk dijadikan olahan khas. Hewan laut yang kelihatannya menyeramkan ini ternyata dapat diolah menjadi makanan yang lezat. Cara mengolahnya cukup mudah, yaitu daging dipisah dari cangkangnya dengan cara dikerok, kemudian dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu. Setelah itu dikukus dan siap disajikan.

Usal
Usal adalah hewan yang tergolong sebagai keong laut yang biasa diburu masyarakat pesisir pantai, salah satunya yakni Pantai Krakal. Hewan bercangkang ini dapat diolah menjadi kuliner rica-rica serta tongseng yang nikmat. Usal akan sangat melimpah ketika musim penghujan tiba. Cara pengolahannya dengan memisahkan daging dari cangkangnya kemudian dimasak sesuai selera.

Demikian ulasan mengenai 10 daftar hewan yang diolah menjadi makanan ekstrim di Gunungkidul. Cukup unik dan menggiurkan, bukan?

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: