Nadzar Warga yang Sembuh dari Penyakit, Upacara Nyadran Sendang Panguripan Dibanjiri Panggang Tumpeng

  • Bagikan
Sukatmo (79), juru kunci sendang Panguripan sedang melantunkan do’a dan mantra

Ngawen(lensamedia.co)–Terik matahari yang menyengat siang itu, panasnya terhalang rimbunnya pohon Pakel(sejenis mangga) dan beberapa pohon Gayam yang menaungi lokasi sendang Panguripan di Padukuhan Ngawen, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul.

Seorang lelaki tua, berpakaian serba hitam, mulai dari celana, baju dan pecinya, tampak duduk bersila. Di sampingnya ada ibu ibu setengah baya yang duduk bersimpuh dan membawa baki berisi beberapa syarat “ubo rampe” berupa “ayam panggang” utuh yang dibungkus dengan daun pisang.

Lelaki tua itu adalah mbah Sukatmo(79), juru kunci sendang Panguripan. Ucapan do’a dan mantra yang dilantunkan mbah Sukatmo terdengar lirih, ritmenya bercampur dengan asap dupa yang mengepul dan pergi bersama angin siang yang berhembus sepoi sepoi.

Siang itu, Kamis Pahing(23/9/2021), warga padukuhan Ngawen sedang melakukan upacara “Nyadran” dan Bersih dusun. Upacara dilaksanakan dilokasi sendang Panguripan, sebuah sendang yang dianggap sebagai sendang tertua dikawasan ini.

Cerita tutur yang menyertainya, sendang tua ini erat kaitannya dengan tokoh pelarian dari Majapahit, bernama eyang Jiwo Yudo yang menjadi “cikal bakal” dusun. Karena ditempat ini dipercaya menjadi pemukiman pertama, maka nama dusun Ngawen akhirnya dijadikan nama Kecamatan/Kapanewon Ngawen.

Dalam acara Nyadran yang dilaksanakan pada hari Kamis dengan hari pasaran Pahing, warga padukuhan Ngawen berkumpul di lokasi sendang, dengan membawa berbagai makanan. Yang unik, beberapa dari mereka membawa sajian berupa ayam utuh(ingkung), tapi di masak dengan cara dibakar, mereka menyebutnya “panggang tumpeng”.

Panggang tumpeng yang mereka bawa ini, dengan beberapa “ubo rampe” yang lain kemudian “dipasrahke”(diserahkan) kepada mbah juru kunci sambil mengucapkan “nadzar” yang menjadi keinginan mereka.

Setiap orang yang menyerahkan panggang tumpeng mempunyai nadzar yang berbeda beda, misal anaknya lulus kuliah, anaknya diterima pegawai, sapinya beranak, usaha yang dijalankan lancar, atau berhasil sembuh dari sakit yang dideritanya.

Seperti pengakuan Sayem(52), dia menceritakan bahwa dalam acara Nyadran tahun ini, dia membawa panggang tumpeng dengan dua ekor panggang ayam.

“Saya dan anak saya sakit Covid19, waktu itu saya punya nadzar, jika kami sembuh akan membuat panggang tumpeng, dan alhamdulillah kami bisa sembuh, jadi saya membuat dua panggang tumpeng, untuk saya dan anak saya,” terang Sayem.

Agak berbeda diungkapkan oleh Yati(42), Yati membawa panggang tumpeng di acara Nyadran sendang Panguripan sebagai bentuk rasa syukur karena anaknya berhasil mendapat pekerjaan.

“Saya itu sakit bertahun tahun, dan sampai di operasi di rumah sakit, Alhamdulillah saya bisa sembuh, dan sebagai wujud syukur, saya membuat panggang tumpeng,” ujar Mugi(53), seorang warga Ngawen yang ikut upacara.

“Sedaya namung sarana pinyuwunan dumateng Gusti, dados sarana meniko mboten kagem nyuwun kalih kayu menapa watu(Semua hanya usaha dan ikhtiar, memohon kepada Tuhan, jadi bukan meminta kepada kayu dan batu),” terang mbah Sukatmo dalam bahasa Jawa yang kental.

Setelah semua prosesi Nyadran selesai, maka puluhan anak kecil duduk berjajar di tikar yang sudah digelar, anak anak ini membawa tempat makanan kosong untuk “nyadong”(wadah) makanan yang akan dibagikan di akhir acara.

“Modin” atau “Kaum” kemudian mengakhiri prosesi ritual dengan do’a. Panggang tumpeng/ ayam panggang dan segala makanan yang dibawa kemudian dibagi rata kepada semua yang hadir, dan keseluruhan acara diakhiri dengan “kembul bujana” atau makan bersama.

Dukuh Ngawen, Sumardi(47) menyatakan bahwa ritual Panggang tumpeng di wilayahnya sudah dilaksanakan turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu.

“Ritual ini adalah bagian dari adat dan budaya masyarakat yang tetap harus di “uri-uri” dan dilestarikan,” ucap Sumardi.

Sumardi dan warga masyarakat Ngawen, saat ini benar benar merasa kehilangan, karena sendang Panguripan saat ini keadaannya kering, pasca gempa 2006, air sendang menghilang, pohon duren/durian besar yang menjadi “resan” juga mati dan roboh. Padahal selama ini keberadaan air sendang dimanfaatkan oleh masyarakat, baik untuk mandi, mencuci dan untuk mengairi lahan pertanian.

“Saat ini kami tengah mengupayakan agar mata air sendang hidup kembali, semoga ada yang bisa membantu kami,” harapnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: