u6Dacb.md.jpg

Muncul Klaster Hajatan Tepus, 102 Orang Terkonfirmasi Positif Covid dalam Sehari

  • Bagikan
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty menyampaikan update covid-19

Wonosari,(lensamedia.co)–Ledakan kasus covid-19 di Bumi Handayani kembali terjadi. Senin (14/06/2021) ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mencatat ada tambahan lebih dari 100 kasus. Selain dari hasil penelusuran klaster sebelumya, Dinkes juga menyebut munculnya klaster baru yakni klaster hajatan Tepus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, lonjakan kasus terkonfirmasi positif ini merupakan yang terbesar selama pandemi berlangsung. Pihaknya mencatat ada 102 orang hari ini terkonfirmasi positif.

“Jumlah tersebut kami catat dari hasil penelusuran kasus sebelumnya,” kata Dewi Irawaty, Senin malam.

Dari jumlah tersebut, Dewi menyebut bahwa kasus yang tercatat hari ini merupakan hasil penelusuran dari 6 klaster yang ada di Gunungkidul. Selain itu, hari ini pihaknya juga mencatat munculnya klaster hajatan Tepus.

“Ada klaster baru yang cukup besar muncul, yaitu klaster hajatan Tepus. Jumlahnya ada 42 orang di klaster tersebut,” ungkap Dewi.

Pihaknya memperkirakan jumlah ini akan terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pasalnya, sampai dengan saat ini, penelusuran kontak terus dilakukan terhadap masing-masing orang yang terkonfirmasi positif.

“Saat ini ada 8 klaster, yakni pabrik tas Playen, tahlilan Dengok, keluarga Panggang, ponpes, hajatan Panggang, rasulan Tanjungsari dan hajatan Tepus,” ungkap Dewi.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat untuk semakin memperketat protokol kesehatan dalam menjalankan kegaitan sehari-hari. Hal ini tak lain untuk mencegah terjadinya penularan yang terus meluas.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugoho menambahkan bahwa Covid-19 ini memang benar-benar ada. Untuk itu dirinya berpesan kepada masyarakat untuk tidak menyepelekan penerapan protokol kesehatan ditengah beragam aktifitas.

“Covid-19 itu ada, maka ketugasan ketegasan pemerintah dan disiplin masyarakat menjadi kata kunci. Kegiatan sosial kemasyarakatan, keagamaan, budaya bisa dilakukan tapi perlu pendampingan di lapangan,” tandasnya.

“siapa tidak menerapkan prokes ya kita ambil tindakan nyata. Masalahnya di penerapan prokes, bukan di hajatan layatan budaya dan sebagainya,” imbuh dia.

u6Dacb.md.jpg
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: