Menyusuri Kegelapan Luweng Kendil dan Panggang, Upaya Mencari Air Warga Ngurak Urak Rongkop

  • Bagikan

Rongkop(lensamedia.co)–Padukuhan Ngurak Urak, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, adalah salah satu padukuhan yang terletak di pegunungan seribu yaitu wilayah selatan Gunungkidul. Sudah menjadi jamak, bahwa persoalan air di daerah ini memang menjadi suatu masalah yang sangat mendasar, apalagi di musim kemarau.

Kebutuhan air masyarakat selama ini dicukupi dari bak Penampung Air Hujan (PAH), yang hampir setiap rumah memilik bak penampung. Bak ini berbentuk tabung, berbahan semen dan berfungsi untuk memanen air hujan (Rain Harvesting).

Bak PAH ini, airnya akan habis digunakan jika mulai memasuki musim kemarau, dan jika air habis maka suplai air untuk mengisi PAH, yang semula mengandalkan air hujan, digantikan oleh PDAM.

“Air PDAM tidak mengalir setiap hari, tapi seminggu sekali, sehingga terpaksa dilakukan penggiliran untuk mengisi bak bak penampung milik warga,” terang Harmanto (39), salah seorang warga Padukuhan Ngurak Urak, Minggu(12/9/2021).

Harmanto melanjutkan, penggiliran ini menjadi masalah tersendiri bagi warga Ngurak Urak. Terlebih mereka yang memiliki rumahnya di tempat yang agak tinggi.

“Saat tiba giliran mengisi penampung, mereka sering tidak kebagian, karena rumah rumah yang terletak di bagian bawah otomatis lebih dulu untuk mengisi bak tampungnya, sehingga air yang mengalir hanya sehari ini, tidak mencukupi bagi sebagian warga,” lanjutnya.

“Warga yang tidak kebagian air, akhirnya terpaksa membeli air dari tangki yang berasal dari Pracimantoro, Wonogiri, dimana satu tangki air bisa seharga sampa 220 ribu rupiah,” terang Ribut (35) menambahi.

Berangkat dari keprihatinan tentang hal ini, Ribut, Harmanto dan beberapa pemuda yang tergabung dalam wadah Sanggar Lumbung Kawruh, Padukuhan Ngurak Urak, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, akhirnya mencari alternatif dengan mencoba mengeksplorasi Luweng/Gua yang berada di wilayah mereka, dengan tujuan untuk mencari sumber air.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, tanggal 11 sampai 12 September 2021 ini dilakukan oleh Keluarga Pecinta Alam Fakultas Sastra (Kapalasastra), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gajah Mada(UGM) Yogyakarta, yang mempunyai hobi susur gua (Caving).

Irsyad Mathias(40), Dosen Universitas Brawijaya Malang, yang menfasilitasi kegiatan ini menyatakan, bahwa upaya eksplorasi anak anak Kapalasastra FIB UGM selama dua hari ini belum bisa menemukan keberadaan air di dua Luweng/gua yang dimasuki.

“Pada umumnya eksplor awal gua hanya mengidentifikasi keadaan mulut gua, teknis Rigging (lintasan masuk), dan keadaan ekologis gua, Biota, ornamen gua, lorong gua, dan potensi sumber air,” terang Irsyad.

Dosen Universitas Brawijaya ini adalah alumnus Kapalasastra FIB UGM, sekarang dia tengah melakukan penelitian soal air di Gunungkidul untuk meraih gelar S3nya.

“Berdasarkan eksplor kemarin, kami mendata bahwa gua Gunung Kendil mempunyai kedalaman vertikal sekitar 25 meter dan chamber/ruang gua sekitar 4 meter, dan tidak ada indikasi lorong lanjutan yang dapat ditelusuri,” lanjutnya.

Sedangkan gua/luweng Gunung Panggang, menurut Irsyad mempunyai kedalaman vertikal sekitar 8 sampai 10 meter, Chamber gua memanjang sekitar 15 sampai 20 meter, dan jalurnya tertutup batu.

“Terdapat Boulder/dinding batu yang mungkin reruntuhan dari permukaan yang menutupi lorong gua,”imbuhnya lagi.

“Di kedua gua/Luweng ini, sampai akhir eksplorasi, kami tidak menemukan potensi sumber air,” kata Jefri (21) menambahi.

Jefri adalah Mahasiswa UGM asal Sulawesi, dia adalah satu dari 9 anak Kapalasastra yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.

Jefri kemudian melanjutkan, bahwa dia dan teman temannya, dalam penelusuran gua/luweng ini menggunakan teknik penelusuran Single Rope Tehcnique(SRT). Kendati tidak menemukan sumber air, menurut Jefri, data tentang gua yang berhasil dikumpulkan bisa menjadi rekomendasi bagi masyarakat tentang pemetaan gua sebagai bahan kajian lebih lanjut.

Masyarakat juga perlu mengetahui keberadaan gua atau uweng di daerah mereka, sehingga keberadaanya dapat dilindungi,” pungkas Jefri.

Disela sela memberesi peralatan Caving, kami kemudian banyak berbincang dengan anggota Sanggar Lumbung Kawruh, tentang kelanjutan upaya untuk mengatasi maslah air di Padukuhan Ngurak Urak, ataupun Kalurahan Petir pada umumnya.

Ribut (35), pendiri sekaligus pengelola Sanggar Lumbung Kawruh ini kemudian banyak bercerita tentang keadaan alam di desanya. Pemuda berambut gimbal ini memang aktif menggerakkan pemuda pemuda dengan berbagai kegiatan kreatif, terutama yang terkait dengan seni dan budaya.

“Sebetulnya masih ada dua gua/luweng yang belum dieksplorasi, yaitu luweng Jaran dan Song Terus, nanti kita akan agendakan lagi,” ujar Ribut.

Ribut juga menyinggung soal sumber air yang berupa telaga di wilayahnya dan keadaanya sekarang yang sudah mengering di musim kemarau.

“Ada empat telaga di desa kami, semuanya kering, telaga telaga ini kering karena pohon besar/resan yang roboh dan mati dan karena dibangun talud permanen,” lanjut Ribut.

Menurutnya, sebelum mengering fungsi telaga telaga ini sebetulnya sangat membantu masyarakat, baik untuk keperluan mandi, mencuci serta memandikan dan memberi minum ternak ternak petani.

“Sekarang ini, air telaga paling bertahan hanya satu bulan di musim kemarau, setelah itu kering kerontang,” imbuhnya.

Menurut Ribut, upaya paling tepat dan bersifat jangka panjang soal air adalah Konservasi, dia dan teman temannya di musim hujan kemarin juga sudah berupaya menanam ratusan pohon Konservasi, bekerja sama dengan Komunitas Resan Gunungkidul.

“Musim tanam tahun ini kita agendakan penanaman lagi, teman teman Komunitas Resan menyediakan banyak bibit pohon, memang upaya ini bersifat jangka panjang, harapannya, generasi mendatang tidak mengalami kesulitan air seperti saat ini,” pungkas Ribut.

u6Dacb.md.jpg"
Penulis: Edi PadmoEditor: Kelvian Adhi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: