Mengenal Komunitas Save Rescue, Relawan Yang Mengabdi Demi Kemanusiaan

  • Bagikan

Gunungkidul, (lensamedia.co)– Gunungkidul ditetapkan sebagai daerah rawan bencana alam. Banjir dan tanah longsor, serta kejadian bencana akibat dampak cuaca ekstrim, akhir akhir ini memang sering terjadi saat memasuki musim penghujan. Dalam penanganan bencana yang terjadi, kita tidak bisa mengesampingkan peran para relawan. Mereka berjuang mengabdikan diri untuk kemanusiaan secara sukarela.

Salah satu komunitas relawan di Gunungkidul adalah Save Rescue (SR). Komunitas ini beranggotakan orang orang yang benar benar hanya bermodal “rela”, militansi pengabdian mereka terhadap kemanusiaan, sosial, dan kebencanaan memang patut mendapat apresiasi. Jumlah anggota tetap sekitar 40-an orang, dengan latar belakang dan basis pekerjaan yang bervariasi.

“Save Rescue bisa di artikan dua hal, yang pertama adalah Save ( menyimpan, mengamankan) artinya tindakan pencegahan/ mitigasi, atau bisa di artikan sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadi sebuah kejadian kecelakaan atau bencana. RESCUE sendiri mengacu kepada sebuah pengertian tentang tindakan/ pengkondisian atau upaya penyelamatan ketika sudah terjadi suatu kejadian kecelakaan atau bencana,” terang Agus Kenyung (40), Koordinator SR Gunungkidul, Rabu (1/12/2021).

SR Gunungkidul ber posko di samping gedung kampus UGK ( Universitas Gunungkidul ). Siang itu tampak di halaman Posko, 3 mobil jeep terparkir, di dalamnya segala peralatan yang di gunakan untuk aksi pertolongan dan pengkondisian sudah tertata rapi dan sewaktu waktu siap berangkat jika ada request.

“Menjadi relawan itu tidak ada kata persiapan, artinya harus sewaktu waktu siap, rescue itu soal golden time, soal ketepatan waktu”, lanjut Agus.

Seperti halnya jika kondisi kedaruratan adalah soal bencana alam, entah itu banjir, tanah longsor atau yang berupa tindakan pencegahan/mitigasi bencana, ketepatan waktu/ fast respon ini menurut Agus menjadi sangat penting. Karena jika terlalu lama persiapan, maka waktu akan habis hanya untuk koordinasi, dan pengkondisian di lapangan akan terlambat.

Keberagaman pekerjaan masing masing Relawan di siasati dengan sistem piket, dan grup WA untuk memudahkan koordinasi, jika ada request mendadak untuk tanggap darurat bencana, maka informasi akan di sampaikan lewat grup.

“Dan siapapun yang waktunya longgar maka segera berkumpul di posko untuk segera bergerak melakukan pengkondisian lapangan,” lanjut Agus.

Menurut Agus, komitmen sukarela setiap anggota adalah yang utama, karena memang tidak ada imbalan finansial apapun, jadi memang tidak ada tekanan atau mengharuskan anggota untuk setiap saat bisa hadir dalam keadaan tanggap darurat.

“Tapi ketika ada anggota yang memang sanggup untuk bergabung dalam sebuah evakuasi, maka dia harus komitmen dalam tugas sampai selesai”, ujar Agus.

Dari berbagai latar belakang pekerjaan anggota yang berbeda beda, maka secara natural para relawan ini berbagi ketugasan, ada yang mengurus soal dokumentasi, soal administrasi atau soal penanganan pengkondisian/ evakuasi lapangan.

Di Gunungkidul sendiri banyak sekali komunitas atau badan resmi yang berkompeten di bidang kebencanaan, bisa di sebut selain SAVE RESCUE, ada TAGANA, BPBD GK, SAR, FAST RESCUE, atau komunitas relawan relawan yang lain.

“Koordinasi antar komunitas ini juga penting, untuk penanganan kejadian, sehingga kerja relawan lebih efektif dan tepat,” kata Tri Nurhadi (43), seorang anggota Save Rescue dari Tagana Gunungkidul.

Kerja kerja relawan adalah sebuah pekerjaan yang bisa di katakan berat, penuh perjuangan, dan tidak ada imbalan uang, mereka sering bertaruh nyawa untuk menolong orang lain, komitmen dan ikhlas menjadi poin penting di kerja kerja kerelawanan ini.

“Sesuai motto dari relawan, yaitu Sehat, Tangguh, Kemanusiaan, maka kami merasa bahwa tindakan menolong orang lain, adalah sebuah kebahagiaan, suatu kepuasan batin tersendiri,” pungkas mereka mengakhiri obrolan kami.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: