Memprihatinkan, Angka Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak Di Gunungkidul Melonjak

  • Bagikan

Gunungkidul, (lensamedia.co)– Angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Gunungkidul di tahun 2021 meningkat dengan sangat tajam. Prosentase peningkatannya bahkan mencapai dua kali lipat lebih, yaitu hampir 250 persen dibanding tahun 2020 lalu.

Persoalan ekonomi akibat dampak Pandemi disinyalir sebagai penyebab terjadinya peningkatan ini. Akibat kesulitan ekonomi, masyarakat secara psikis banyak mengalami tekanan, sehingga cenderung mudah melakukan kekerasan.

“Angka ini bukan lagi meningkat, tapi melonjak dratis,” terang Fajar Nugroho, Kepala Seksi Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3AKBP) Gunungkidul.

Fajar menyebut, tren peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun 2020 ke tahun 202 ini tergolong sangat tinggi dan mengundang keprihatinan banyak pihak.

“Untuk tahun 2020 yang lalu, kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Gunungkidul tercatat 28 kasus, di tahun ini sampai akhir tahun kami mencatat ada 92 kasus, paling banyak kekerasan terhadap anak,” lanjutnya.

Selain kekerasan fisik, Fajar menyatakan pihaknya mencatat, dominasi kekerasan ini adalah tindakan kekerasan psikis dan kekerasan seksual dan penelantaran terhadap anak.

“Kekerasan psikis mencapai 71 kasus masing-masing menimpa 19 orang perempuan dan seorang laki laki, untuk anak, kami mencatat kekerasan psikis menimpa 21 anak perempuan dan 30 anak laki-laki,” imbuhnya merinci

Untuk kasus kekerasan seksual terhadap anak, Dinas mencatat ada 11 kasus yang terjadi, masing-masing 4 kasus menimpa perempuan muda dan 7 kasus terhadap anak perempuan. Juga tercatat ada kasus kekerasan fisik yang menimpa 5 perempuan dewasa. Sementara penelantaran terhadap anak menimpa 3 anak perempuan dan 2 anak laki laki.

“Kekerasan seksual, paling banyak dilakukan oleh orang terdekat dan orang yang dikenal. Terakhir kami menangani kekerasan seksual terhadap seorang pelajar kelas 10 sebuah SMK Wonosari warga Semanu yang dicabuli bapak tirinya hingga hamil,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menyebut, tingginya angka kasus ini bukan semata karena kasus yang terjadi, tapi juga dipengaruhi oleh aturan/kriteria terhadap klasifikasi kekerasan atau pelanggaran yang terjadi.

“Pemberlakuan aturan terbaru dari Peraturan Menteri Perlindungan Perempuan yang menambah beberapa klasifikasi tentang kekerasan membuat angkanya meningkat dengan tajam,” pungkasnya.

lensamedia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: