Memaknai Tema FKY “Mereka Rekam”, Dalam Agenda Sulam Resan Pasar Kawak Wonosari

  • Bagikan
Ritual upacara “pasrah”

Wonosari(lensamedia.co)–Agenda Festival Kebudayaan Yogyakarta(FKY) 2021 mulai dihelat. Event tahunan yang menjadi agenda rutin DIY sebagai sebuah representasi daerah yang mempunyai “keistimewaan” berbasis budaya dibuka oleh Sultan Yogyakarta, dan diselenggarakan secara daring.

Tema FKY tahun ini adalah “Mereka, Merekam” kebudayaan. Publik dipersilahkan mengartikan tema ini dengan sudut pandang masing masing. Seperti halnya apa yang coba disajikan oleh divisi fotografi FKY, mereka mencoba mengangkat “Resan” atau pohon besar sebagai obyek foto dalam pameran.

Selama dua hari, panitia FKY mengirim personilnya untuk hunting foto obyek pohon besar di Gunungkidul, dengan didampingi oleh Komunitas Resan Gunungkidul. Dalam format narasi yang disajikan bersama obyek foto pameran, FKY banyak mengulas tentang korelasi pohon Resan dalam perannya sebagai faktor mendasar bagi perikehidupan masyarakat Gunungkidul.

Tema FKY “Mereka,Merekam” ini juga ditangkap dan diaktualisasikan oleh Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG) dalam bentuk karya seni berujud Wayang Beber. Para perupa berusaha “mereka” dan “merekam” peristiwa kebudayaan dalam koridor sebagai pelaku budaya dan diwujudkan dalam karya lukis bersama dua dimensi, dengan mengambil tema besar “Sejarah Pasar Kawak, sebagai cikal bakal pasar Argosari, Wonosari,”.

Mereka merespon aksi penanaman kembali, atau “Sulam Resan Pasar Kawak”, yang dilakukan oleh Pemangku adat Pasar Kawak dan Komunitas Resan Gunungkidul, pada Minggu(19/9/2021). Aksi ini dilakukan sebagai wujud keprihatinan atas kejadian “pembunuhan” salah satu pohon beringin yang menjadi penanda tempat bekas pasar Seneng, yang menurut cerita merupakan cikal bakal pasar Argosari, Wonosari.

“Kita harus mengartikan budaya secara luas, tidak hanya sebatas seni atau pertunjukan, budaya adalah bentuk perilaku keseharian umum masyarakat,” terang Herlan Sae, Ketua Ikatan Perupa Gunungkidul.

Herlan mengambil contoh, kejadian “pembunuhan” resan pasar Kawak ini sebagai suatu bentuk “kecelakaan” kebudayaan.

“Pohon bisa sebesar ini usianya ratusan tahun, berfungsi sebagai “tetenger”, atau penanda jaman, menjadi pengingat perjuangan leluhur dalam membangun peradaban,” lanjutnya.

Hal senada dilontarkan oleh Andi Kartojiwo(35), perupa dari Kapanewon Karangmojo, dia menyatakan bahwa dalam menangkap tema FKY “Mereka,Merekam” kebudayaan, seluruh elemen masyarakat harus memahami secara utuh.

“Apa yang ada disekitar kita, baik lampau atau kekinian mengandung arti budaya, harmonisasi antara manusia dengan alam menjadi sangat penting untuk mendasari setiap perilaku kita sehari hari,” ungkapnya.

Agenda “Sulam Resan Pasar Kawak”, sendiri dilaksanakan Minggu(19/9/2021), bertempat di halaman balai Dusun Seneng, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.

Dalam prosesi acara, tampak puluhan orang berpakaian adat jawa dan hitam hitam seragam PSHT, berjalan kirab beriringan dengan membawa “ubo rampe” dan bibit bibit pohon beringin.

Rombongan kirab ini kemudian duduk bersimpuh dibawah pohon Resan beringin, dimana salah seorang peserta kirab menyerahkan syarat “ubo rampe” yang berada di dalam “sarang”(tempat dari daun kelapa), yang diterima oleh Juru kunci pasar Kawak.

Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto melakukan penanaman simbolis di kawasan Pasar Kawak

Setelah upacara “pasrah”, agenda “Sulam Beringin Pasar Kawak” dimulai, ditandai dengan simbolis penanaman pohon beringin oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto, dan dilanjutkan dengan penanaman ratusan bibit pohon beringin di sekeliling dan bagian tubuh pohon Resan beringin pasar Kawak yang telah mati.

“Hampir disetiap dusun/desa di Gunungkidul mempunyai pohon resan seperti ini, dan semuanya mempunyai keterkaitan dengan sejarah tempat,” kata Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto.

Heri berharap, bahwa masyarakat bisa menjaga keberadaan pohon pohon besar(resan) di wilayahnya masing masing, karena pohon ini memiliki banyak fungsi, baik fungsi ekologi/lingkungan, budaya, maupun nilai nilai sejarah.

“Secara ekologi, pohon mempunyai fungsi menjaga mata air, mengahasilkan oksigen, dan menciptakan kesejukan, dari sisi budaya maupun nilai nilai sejarah, pohon erat kaitannya dengan cerita atau asal muasal suatu tempat, banyak nama tempat/dusun/desa di Gunungkidul berasal dari nama jenis suatu pohon,” lanjut Heri.

Wakil Bupati juga berharap, kejadian mematikan pohon resan seperti yang terjadi di situs Pasar Kawak ini tidak terulang di lain tempat, kecuali memang sangat terpaksa dilakukan, dengan pertimbangan membahayakan keselamatan umum.

“Itupun harus dengan syarat, ada penanaman pohon pohon pengganti,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: