Memaknai Keberagaman Sebagai Kekuatan, Lintas Kepercayaan Adakan Sekolah Kebhinekaan

  • Bagikan

Gunungkidul,(lensamedia,co)–Keberagaman masyarakat di Indonesia, baik suku, ras, agama, maupun kepercayaan memang harus disikapi dengan kesadaran toleransi. Keaneka ragaman ini harus dianggap sebagai suatu aset atau kekuatan bangsa. Kesadaran ini juga untuk menangkal isu Intoleransi yang sering menjadi komoditas konflik.

Hal inilah yang menjadi tujuan dari Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul. Sekolah yang dipusatkan di Vihara Jina Darma Sradha Gunungkidul ini dilaksanakan selama beberapa kali pertemuan, baik langsung maupun Virtual.

Seperti yang diungkapkan oleh Albertus Wahyu Widayat, Kepla.sekolah Kebhinekaan. Wahyu menyebut, bahwa kita harus menanamkan kesadaran tentang semangat keberanian menghadapi berbagai perbedaan suku, ras, golongan, agama dan kepercayaan yang ada di lingkungan masing masing.

“Salah satu yang terpenting untuk ditanamkan pada generasi muda adalah pembiasaan diri, bergaul, dan berinteraksi dalam perbedaan,” terang Wahyu,Minggu(24/10/2021).

Wahyu menyatakan bahwa tidak cukup hanya menyadari bahwa kita berada di lingkungan yang majemuk, tetapi generasi muda harus mulai membiasakan diri bergaul dalam segara perbedaan yang dihadapi.

“Generasi muda yang tidak mau menyadari dan tidak berani membiasakan diri hidup dalam segala perbedaan sangat berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang intoleran yang justru mengancam nilai keberagaman pancasila,” lanjutnya.

Kemajemukan harus diletakkan secara benar pada diri generasi muda agar tumbuh pandangan wawasan kebangsaan yang benar,”

Melalui Sekolah Kebhinnekaan ini Wahyu mengajak membangun kesadaran agar kemajemukan harus diletakkan secara benar pada diri generasi muda, agar tumbuh pandangan wawasan kebangsaan yang benar. Generasi muda nantinya akan semakin kritis menyikapi nilai-nilai Kebhinnekaan dan berwawasan kebangsaan yang baik.

Penyelenggaran kegiatan Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul angkatan IV Tahun 2021 diikuti sebanyak 80 peserta, meliputi wakil dari Majelis Budhayana Indonesia (MBI), Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI), Badan Kerjasama Gereja Kristen, GP Anshor NU, Fatayat NU, Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Katolik Rayon Gunungkidul, Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ).

Salah satu peserta, Bayu Setiawan dari Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia(MLKI) mengungkapkan bahwa dirinya baru pertama kali ikut kegiatan seperti ini, dan dia merasa sangat antusias.

“Senang ikut kegiatan ini, bisa tambah teman, nambah wawasan dan pengalaman. Semoga hal ini bisa menjadi gerakan bersama menjalin persaudaraan lintas agama dan kepercayaan,” terangnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: