Melihat Potensi Ternak Kambing Kontes di Gunungkidul

  • Bagikan

Playen,(lensamedia.co)–Kabupaten Gunungkidul nampaknya memang layak disebut sebagai gudang ternak di DIY. Selain sebagai penyedia daging sapi terbesar, saat ini para peternak mulai mengembangkan kambing kontes jenis Peranakan Etawa (PE). Dimana nilai jual kambing tersebut cukup tinggi dibanding dengan jenis kambing lainnya.

Seperti diungkapkan oleh Tuba, pria 21 tahun warga Wiyoko, Kapanewon Playen itu sejak 3 tahun terakhir memulai beternak kambing PE. Dengan modal Rp 2,5 juta pada 2018 lalu ia membeli satu indukan betina untuk dipelihara.

“Satu ekor betina dulu beli, uangnya dari orang tua saya. Kemudian saya kembangkan,” kata Tuba, Selasa (22/06/2021).

Dari situ, satu ekor kambing kemudian beranak pinak menjadi lima ekor. Namun karena kwalitasnya kurang, ia lalu menjual seluruh kambing miliknya untuk ditukar dengan kambing dengan kualitas bagus.

“Saat ini ada sekitar 8 ekor kambing, kalau ditotal mungkin kalau Rp 60 juta sudah ada,” kata dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh, Joko warga Jeruksari, Wonosari. Ia bahkan sudah lama berternak kambing jenis PE, menurutnya tidak ada perlakukan khusus untuk memelihara kambing kontes tersebut.

“Pakannya sama rumput dan dedaunan, kalau saya kuncinya, kandang harus selalu bersih, wajib kandang panggung,” kata dia.

Ia pun menjelaskan, terkait dengan harga jual kambing jenis PE ini memang cukup tinggi. Namun tidak dapat diukur dengan ukuran, akan tetapi banyak aspek di tubuh kambing itu yang menjadi patokan pemberian harga.

“Misalnya bentuk kepala, bentuk telinga, panjang tubuh tinggi tubuh hingga bulu ekor pun mempengaruhi harga jual kambing PE,” terang dia.

Menurutnya, di prospek beternak kambing PE ini cukup cerah. Kendati demikian, peminatnya masih belum cukup banyak jika dipasarkan di Gunungkidul.

Sementra itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Bambang Wisnu Broto mengtatakan, peternakan kambing PE di Gunungkidul saat ini dalam tahap berkembang. Menurutnya, keuntungan yang tinggi ditengarai menjadi pemicu meingkatnya jumlah peternak.

“Sudah banyak, hampir disetiap kapanewon sudah memiliki kelompok ternak,” ucap dia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: