Melihat Cara Pengawetan Material Bambu Berkualitas Ekspor, Bisa Bertahan Sampai 50 Tahun

  • Bagikan

Patuk,(lensamedia.co)–Bambu adalah bahan material yang sering digunakan untuk properti bangunan. Meski penggunaannya sudah banyak diganti dengan kayu dan baja ringan, akan tetapi bambu masih sering dipakai untuk properti tambahan yang menonjolkan unsur etnik atau seni. Walau kelemahannya, material bambu ini memang cenderung tidak bertahan lama karena mudah lapuk(bubuken/jawa).

Namun ternyata, masalah bambu yang tidak awet ini dapat dipecahkan oleh Kelompok Tani Hutan(KTH) Tunas Karya, yang berlokasi di Padukuhan Pengkok, Kalurahan Pengkok, Kapanewon Patuk, Gunungkidul. KTH Tunas Karya memang bergerak dalam bidang pengawetan material bambu, dan menjualnya dalam bentuk bahan setengah jadi. Mereka mengklaim bahwa bahan bambu hasil olahannya dapat bertahan hingga 40 sampai 50 tahun.

“KTH Tunas Karya berdiri tahun 2010, ada 13 anggota, sebelum Pandemi, produk hasil olahan kami sempat dipasarkan ke luar Jawa, bahkan diekspor ke Filipina dan Australia,” terang Jumingin(54), ketua KTH Tunas Karya, saat ditemui di Workshop kelompoknya, Jumat(29/10/2021).

Di Workshop tampak tumpukan bambu yang sudah diolah dan siap dipasarkan, ada juga bambu bambu utuh yang didirikan, sedang dalam proses pengolahan. Jumingin kemudian menerangkan tentang tekhnik pengolahan/pengawetan bambu yang biasa mereka lakukan selama ini.

“Obat pengawet kami tidak pakai pestisida, tapi pakai BoraxBorix, ini obat khusus yang tidak semuanya bisa mendapatkan, karena bisa disalah gunakan,” ujarnya.

Untuk proses pengolahan pengawetan ini,.menurut Jumingin ada dua cara, pertama dengan cara cairan pengawet dimasukkan dalam bambu, dan yang kedua bambu direbus dengan air yang sudah dicampur obat pengawet.

“Untuk yang diisikan, prosesnya pertama bambu dicuci sampai bersih, kemudian sekat(ros-rosan) didalam bambu dibor dari atas, sisakan “ros” terakhir yang paling bawah, kemudian obat pengawet yang sudah dicampur air dimasukkan ke dalam bambu,” terang Asmudi(63), salah satu anggota kelompok yang sedang bekerja.

Setelah bambu diisi air dan bahan pengawet, maka bambu kemudian ditumpuk dalam posisi berdiri, dan setelah 10 hari, maka bambu sudah siap untuk dipanen. Cairan pengawet kemudian dibuang dengan cara melubangi bambu bagian bawah.

“Kalau yang dibelah-belah ini cara pengawetannya dengan cara direbus, jadi dipotong potong dulu, kemudian direbus dalam drum yang dibelah dan disambung sambung,” lanjut Jumingin sambil menunjukkan tempat bambu direbus di atas tungku.

Untuk bahan baku bambu mereka bisa dapatkan dari wilayah seputaran Patuk, akan tetapi jika order banyak, maka bambu didatangkan dari daerah Purworejo. Jenis bambu juga macam macam, paling umum adalah bambu Apus(bambu jawa), bambu Wulung, bambu Petung dan Ori/greng.

Untuk pemasaran, mereka memang masih bekerja-sama dengan sebuah PT di Yogyakarta. Jadi hasil olahan bambu mereka yang berujud setengah jadi, diambil oleh PT, untuk kemudian diolah kembali menjadi bahan jadi, berujud properti untuk perumahan, gazebo, bahan kerajinan dan yang lain.

Disinggung soal omset, Jumingin tidak bisa menyebut secara pasti, karena sistem kerja kelompok mereka berdasarkan order dari PT, anggota kelompok yang lebih sering masuk kerja, maka hasil yang didapat juga akan lebih banyak.

“Untuk rata rata jumlah bambu, kalau pesanan ramai, satu tahun kita bisa mengolah sekitar 4 sampai 5 ribu lonjor bambu,” terangnya.

Harapan ke depan, mereka ingin ada perhatian dari pemerintah, terkait pelatihan pembuatan souvenir atau kerajinan dari bambu, jadi kelompok bisa berkembang, tidak hanya mengolah bahan setengah jadi, tapi juga bisa memproduksi barang jadi, sehingga ketrampilan dan penghasilan mereka bisa bertambah.

“Kami juga punya grup kesenian yang alat musiknya semua dari bambu, namanya Celempung,” lanjut Asmudi.

Syair nyanyian yang diiringi Celempung ini adalah Shalawatan dan Campur sari. Dalam waktu senggang bekerja mereka menghibur diri dengan memainkan Celempung ini.

“Kemarin kita pentas di Gunung Ireng, untuk menyambut tamu,” pungkas dia.

u6Dacb.md.jpg"
Penulis: Edi Padmo
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: