Mega Proyek Pantai Bekah Senilai 12,9 Milyar Diperpanjang, Rekanan Kena Denda

  • Bagikan

Purwosari,(lensamedia.co)– Kejelasan penyelesaian proyek Pembangunan Penyediaan Air Baku Sungai Bawah Tanah di Pantai Bekah, Temon, Giri Purwo, Purwosari akhirnya menemui titik terang. Meskipun melewati batas waktu kontrak yang ditetapkan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak BBWSO memberikan kelonggaran waktu kepada PT Aquatech Rekatama Konstruksi untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum sempurna.

Berdasarkan keterangan Aris, PPK Air Tanah dan Air Baku Satuan Kerja SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Serayu Opak, setelah melampaui batas waktu 270 hari kalender seperti yang tertuang dalam dokumen kontrak, maka pihaknya akan melakukan perpanjangan waktu selama 50 hari kalender terhitung sejak memasuki tahun anggaran 2022.

“Kontrak kan sampai 31 Desember 2021, ya intinya bilamana ada keterlambatan pekerjaan kan ada mekanisme denda 1 per mil per hari. Nah itu kita berikan hingga pekerjaan rekanan sempurna,” jelas Aris.

Kendala kerasnya medan di Kawasan Pantai Bekah hingga cuaca yang tidak menentu membuat PPK mengambil kebijakan memberikan perpanjangan waktu tersebut kepada rekanan.

“Kondisi medan di lokasi pekerjaan relative lebih sulit dibandingkan proyek-proyek kami di daerah lain. Maka kami maklumi jika pekerjaan dari rekanan tidak berlangsung lancar seperti yang tertuang dalam dokumen kontrak,” tambahnya.

Lebih lanjut Aris menyatakan, pekerjaan dari kontraktor akan dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan PHO sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Sebelum serah terima pun, akan dilakukan uji petik di lapangan agar proyek senilai Rp 12,9 milyar itu membawa manfaat baik bagi masyarakat luas.

Thomas, Direktur PT Aquatech Rekatama Konstruksi dalam keterangannya menyatakan siap bertanggung jawab menyelesaikan item-item pekerjaan yang belum terselesaikan di tahun 2021. Pihaknya juga mengaku siap menanggung denda atas keterlambatan pekerjaan yang dilakukan.

“Kami tetap bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan itu. Untuk jaringan perpipaan dan 3 unit reservoir sekarang sudah dalam tahap finishing, sedangkan pengeboran sumur di S3 juga sudah lebih dari 60 meter. Harapan saya segera tembus ke sumber air sungai bawah tanah dan bisa segera di sedot airnya,” jelas Thomas.

Ketika disinggung kemungkinan sumur yang saat ini di bor tidak menembus sumber air, Thomas menceritakan bahwa sejak awal S3 itu memang bukan titik utama yang berpotensi menjadi mata air utama. Ada beberapa faktor yang menjadi kendala diantaranya proses pembebasan lahan.

“Dari hasil penelitian para ahli, diketahui titik sumber air yang seharusnya di bor ada di S1 atau S2, prosentasenya 90% tembus ke sungai bawah tanah. Namun waktu itu pemilik lahan bersikukuh Pemkab Gunungkidul harus mengganti lahannya seluas lebih dari 1 hektar, padahal kebutuhan lahan paling hanya ratusan meter. Berhubung terkendala pembebasan lahan itulah maka dipilih S3 atau S4 dengan prosentase 80% sampai.ke mata air. Jadi nge bor di S3 ini sifatnya untung untungan, bila berhasil air bisa diangkat dan proyek selesai. Namun bila tidak, maka mau tidak mau ya nge bor lagi di S1, di S1 informasinya pemilik lahan sudah bisa diajak musyawarah,” papar Thomas.

Kendala yang lain, lanjut Thomas, pihak BBWSO baru mau mengerjakan proyek bilamana urusan pembebasan lahan yang dilakukan Pemkab Gunungkidul selesai. Padahal, urusan pembebasan lahan ini baru bisa diselesaikan Pemkab Gunungkidul pada medio Oktober-November 2021.

“Maka itulah alasan kami kenapa mengerjakan jaringan perpipaan terlebih dahulu. Untuk pengeboran dan reservoir baru dikerjakan setelah urusan pembebasan lahan dengan masyarakat selesai. Itulah mengapa akhirnya proyek ini terlambat,” pungkas Thomas.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: