Mbah Ngadimo Menanam Beringin Sejak Tahun 1995, Hasilnya Saat Ini Warga Natah Kulon Mulai Memanen Air

  • Bagikan
“Berjuang tidak harus langsung menuai hasil, karena tidak ada kemerdekaan tanpa perjuangan, dan ikhlas adalah kuncinya” (Mbah Ngadimo)

Nglipar,(lensamedia.co)– Sosok lelaki setengah baya ini bernama mbah Ngadimo. Pria lulusan SMP kelahiran 4 April 1966 ini adalah warga Padukuhan Ngangkruk, Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul. Dengan biaya sendiri, sejak tahun 1995 mbah Ngadimo mulai menanam ratusan jenis pohon terutama Beringin di kawasan alas Tlawah di Padukuhan Natah Kulon, Kalurahan Natah, Kapanewon Nglipar.

Dengan usahanya ini, sekarang sumber air Gayam yang terletak persis dibawah alas Tlawah telah hidup kembali. Sumber air ini mengalir pada sebuah sungai kecil yang mengairi puluhan hektar sawah sawah petani dan digunakan oleh sekitar 50 KK penduduk Natah Kulon untuk kebutuhan air sehari hari yang disalurkan langsung ke rumah rumah warga.

Siang itu, dengan diantar Mbah Ngadimo, kami memasuki alas Tlawah. Suasana sejuk dan teduh langsung kami rasakan. Kicauan beberapa burung menyambut kedatangan kami. Alas Tlawah dikenal sebagai sebuah hutan yang angker, status tanahnya termasuk dalam tanah Sultan Ground(SG).

Disebut alas Tlawah, menurut mbah Ngadimo, berdasar cerita bahwa kawasan ini memang termasuk alas yang “wingit” atau angker. Tlawah dalam bahasa jawa bisa diartikan sebagai “cleweran/kalenan” atau batu yang terbelah atau berlubang yang berisi atau dialiri oleh air.

“Ini pohon Bulu yang saya tanam sekitar tahun 1995, sekarang sudah sebesar ini,” terang Mbah Sadimo sambil merangkul batang pohon. Kedua tangannya memang sudah tidak cukup merangkul batang pohon Bulu yang tinggi menjulang.

Pohon Bulu itu tampak meraksasa, batangnya menjulur ke segala arah dengan daun daunnya yang rindang menaungi. Akarnya tampak bertonjolan keluar merangkul batu batu, dan dibawahnya mengalir air disebuah kali kecil. Semakin ke bawah puluhan pohon jenis Bulu dan Beringin tampak berjajar disepanjang sungai kecil dengan besar batang hampir sama.

Sambil menuruni jalan setapak di sepanjang kali kecil itu, mbah Ngadimo menceritakan awal kegiatannya menanam ratusan pohon di kawasan alas Tlawah. Ia menyebut sekitar tahun 90an, saat musim kemarau masyarakat disekitar Padukuhan Natah Kulon sangat kesulitan air, satu satunya sumber air yaitu sumber air Gayam mengering sehingga masyarakat harus mengambil air di sebuah sumber yang terletak jauh dan lokasinya berada di dasar jurang.

“Saya dulu merantau di Jakarta, terus karena orang tua saya sakit, saya harus pulang untuk merawatnya, saat saya pulang saya menetap di Padukuhan Natah Kulon, keadaan hutan gundul dan tandus, masyarakat sangat kesulitan air,” kata Mbah Ngadimo mengawali ceritanya.

Berawal dari keprihatinan itu, lanjutnya, Mbah Ngadimo kemudian mulai mencari bibit pohon khususnya Beringin untuk kemudian satu persatu ia tanam di alas Tlawah. Ia mengaku mengetahui ilmu konservasi dengan belajar ilmu “titen” atau belajar langsung dengan alam, dimana Mbah Ngadimo selalu “nengeri” atau memperhatikan bahwa pada jenis jenis pohon tertentu yang tumbuh, keadaan tanah dibawahnya akan berbeda.

“Tanah dibawah pohon beringin akan tampak “anyep” atau lembab dan subur, itu pertanda bahwa pasti menyimpan air, beda dengan tanah dibawah pohon Akasia misalnya, tanahnya pasti kering dan keras, rumput atau tanaman kecil yang lain pasti tidak bisa tumbuh di bawah naungannya. Dan saya juga perhatikan, setiap pohon yang menggugurkan daunnya di musim kemarau pasti mempunyai fungsi menyimpan air, sementara yang daunnya menghijau di musim kemarau pasti bersifat menghabiskan air,” ujar Mbah Ngadimo panjang lebar.

Saat memulai menanam pohon Beringin, Mbah Ngadimo mengaku banyak sekali yang mengejeknya, bahkan banyak yang menganggapnya kurang kerjaan, karena masyarakat umum menganggap bahwa pohon Beringin tidak punya nilai ekonomi. Ejekan dan ketidakpercayaan tetangga tetangganya tak menyurutkan niat mbah Ngadimo untuk terus menanam dan merawat pohon pohon yang telah dia tanam.

Mendekati tahun 2000, Mbah Ngadimo mulai mengajak anak anak sekolah untuk ikut menanam, dia membentuk semacam komunitas yang ia namakan “Darling” atau singkatan dari Sadar Lingkungan. Oleh mbah Ngadimo, anak anak ini diajak untuk membuat bibit pohon, kemudian menaman di alas Tlawah dan sekitarnya.

“Tanaman awal saya banyak yang gagal, entah itu mati, atau tidak bisa berkembang karena selalu diambil daunnya untuk pakan ternak. Dari ratusan yang saya tanam, sekarang tinggal puluhan yang bisa sampai sebesar itu, dan Alhamdulillah sudah bisa bermanfaat,” lanjutnya.

Mendengar ceritanya, perjuangan awal yang harus dihadapi mbah Ngadimo sangatlah berat, selain hanya beberapa orang saja yang sepaham dengan dia, mbah Ngadimo harus berusaha sendiri untuk mendapatkan bibit. Tak kurang akal, mbah Ngadimo kemudian berjuang lewat jalur RT(Rukun Tetangga), dalam rapat RT, ia dengan yakin berusaha mengajak warga yang lain tentang pentingnya menjaga dan merawat hutan untuk kelangsungan sumber air.

Kebetulan, kawasan alas Tlawah yang berstatus tanah SG ini kemudian dikelola oleh RT tempat mbah Ngadimo tinggal. Hasil kayu alas Tlawah ketika dipanen menjadi kekayaan bersama atau untuk mengisi kas RT yang digunakan untuk pembangunan.

“Selain menanam beringin, saya juga menanam pohon Jati dan Cendana di alas Tlawah, nanti hasilnya dijual untuk kas RT, dengan perjanjian, untuk jenis tanaman konservasi harus dijaga bersama sama,” terang Mbah Ngadimo.

Hari semakin siang, keteduhan berbagai jenis pohon yang tumbuh melindungi kami dari teriknya sinar matahari. Perjalanan kami menyusuri jalan setapak disepanjang kali kecil yang seakan membelah alas Tlawah semakin sampai ke bawah. Di kejauhan mulai tampak hamparan sawah berbentuk terasering. Sawah sawah itu sudah selesai dipanen dan mulai ditanami kembali.

Dari jauh telinga kami juga mulai mendengar suara air mengalir dari sebuah sungai kecil yang berada di bawah alas Tlawah. Mbah Ngadimo dengan bersemangat kemudian menunjukan titik mata air Gayam yang airnya digunakan untuk mengairi sawah. Tampak juga sebuah bak penampungan air dimana dari sana beberapa pralon berbagai ukuran berjajar jajar menuju ke pemukiman penduduk.

“Dari bak itu, air dialirkan ke rumah warga padukuhan Natah Kulon,” kata Mbah Ngadimo sambil jarinya menunjuk arah kejauhan.

“Dulu mata air Gayam sudah mengering, pohon Gayam besar yang tumbuh di dekat mata air juga sudah tidak ada, itu pohon Gayam yang saat ini ada adalah pohon tanaman baru,” lanjutnya lagi.

Pria beranak tiga yang setelah menikah berganti nama Rohim Budi Utomo ini kemudian mengajak kami untuk turun ke bawah, melihat air yang bening mengalir di sungai. Air mengalir membentuk air terjun kecil kecil sesuai kontur tanah terasering, disela batu batu sebesar rumah khas batuan Batur Agung Utara Gunungkidul. Sesekali Mbah Ngadimo bercakap atau bercanda dengan tetangganya yang kebetulan bekerja di sawah.

“Saya mempunyai angan angan, di sepanjang pegunungan Sriten sampai gunung Gambar tanah tanah kosong bisa ditanami pohon pohon Konservasi, sehingga mata air yang dulunya kering bisa hidup kembali, dengan adanya air, para petani akan bisa bertani sepanjang tahun, dan tentunya hasilnya akan lebih, sehingga kesejahteraan mereka otomatis akan meningkat,” ujar mbah Ngadimo, sambil matanya menerawang jauh.

Ditanya soal penghargaan atau apresiasi dari pemerintah terkait usahanya ini, mbah Ngadimo hanya tertawa lebar. Ia mengaku belum pernah mendapat penghargaan apapun, meski begitu ia dengan cepat menyahut bahwa apa yang dia lakukan memang tidak untuk mencari sebuah penghargaan atau imbalan.

“Saya ikhlas melakukan semua ini, sekarang saya sudah merasa bahagia, apa yang saya lakukan puluhan tahun yang lalu hasilnya sudah tampak dan bisa dirasakan masyarakat banyak,” ujarnya sambil tersenyum.

Menutup obrolan, mbah Ngadimo berpesan bahwa kesadaran merawat alam harus mulai dilakukan oleh generasi muda sekarang, karena menanam pohon tidak bisa langsung dirasakan manfaatnya.

“Butuh waktu puluhan tahun agar pohon bisa mempunyai fungsi pelestarian air, dan ini butuh perjuangan untuk merawat dan menjaganya. Berjuang harus ikhlas, jangan mengharap imbalan apapun, tidak ada kemerdekaan tanpa sebuah perjuangan, dan ikhlas adalah kuncinya,” pungkasnya.

lensamedia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: