Mangkrak Terbengkelai, UPPO Hanya Dinikmati Segelintir Pengurus

  • Bagikan

Ponjong, (lensamedia.co)– Bantuan Pemerintah untuk Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) di Padukuhan Surubendo, Kalurahan Bedoyo, Kapanewon Ponjong sudah ada sejak tahun 2011. Namun hasilnya nihil besar dan hanya menyisakan kandang dan sejumlah peralatan yang sudah tidak berfungsi. Padahal kucuran dana dari Kementerian Pertanian untuk Kelompok Manteb Tani Surubendo nilainya tak main-main, mencapai Rp 365 juta.

“Angka Rp 365 juta untuk tahun 2011 nilainya sudah sangat besar. Sebab bisa untuk membangun kandang komunal, sapi 35 ekor lengkap dengan sarpras produksi pupuk organik. Tetapi sekarang tak seekor pun sapinya tersisa, semua sudah habis dimakan oknum pengurus,” cerita Su, salah seorang warga.

Lebih lanjut Su menceritakan, tujuan pemerintah mengucurkan bantuan berupa UPPO sebenarnya bagus. Sapi 35 ekor dipelihara dalam kandang secara komunal (terpadu dalam 1 lingkungan). Limbah kotoran sapi bisa diolah menjadi pupuk organik dan urine sapi menjadi pupuk organik cair (POC). Dan hasil dari pupuk itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil pertanian kaum tani di Surubendo dan sekitarnya. Pengelolanya adalah pengurus dan anggota kelompok itu sendiri.

“Namun itu semua tidak terjadi, bahkan sapinya sekarang sudah tidak ketahuan rimbanya. Harusnya sapi dikandangkan dalam satu tempat, faktanya sapi dibawa pulang dan dikandangkan di rumah masing masing penerima. Lha itukan sudah tidak pas. Mestinya jika sesuai program, sapi-sapi itu jika berkembang biak harus digulirkan kepada anggota kelompok yang lain. Sehingga sapi beranak pinak, kotorannya jadi pupuk, hasil pertanian meningkat dan masyarakat sejahtera,” tambahnya.

Su menduga, sosok Carik Bedoyo, Supanto adalah aktor intelektual dibalik mangkraknya UPPO Kelompok Manteb Tani. Sebab pada tahun itu Supanto adalah Dukuh Surubendo sekaligus sekretaris Kelompok Manteb Tani. Dialah orang yang tahu pasti seluk beluk persoalan ini. Namun sejak kisaran tahun 2016, Supanto naik pangkat menjadi Carik Bedoyo hingga saat ini.

“Ketua kelompok dan lainnya hanyalah boneka dari Pak Carik, sebab yang dijadikan ketua dan pengurus rata rata kerabatnya. Nah kami, selaku warga merasa dirugikan dalam perkara ini namun tidak berani dan tidak tahu harus lapor kemana, walaupun tahu ada korupsi dan nepotisme disini,” celetuk warga yang lain.

Warga berharap aparat penegak hukum turun ke lapangan untuk mengidentifikasi sekaligus membongkar dan memproses kasus korupsi bantuan sapi UPPO ini ke ranah hukum. Sebab jika dijalankan dengan benar, bermodalkan 35 ekor sapi bantuan lengkap dengan peralatan seperti motor roda 3, chooper pencacah pakan hingga mesin pengolah pupuk organik, sekarang masyarakat sudah sejahtera. Sapi sudah berkembang biak hingga ratusan ekor dan hasil panen petani melimpah lantaran didukung pupuk organik yang memadai.

“Mestinya oknum yang terlibat diproses hukum, sebab jelas sapinya sudah habis. Pengurus ini licik kok, sebab jika ditanyakan atau ada pemeriksaan sapinya kemana, bilangnya masih ada. Padahal sapi yang dikatakan milik kelompok itu faktanya milik warga, bukan punya kelompok. Jadi jika diaudit, akan ketahuan sapi sapi bantuan itu raibnya kemana. Uniknya lagi, sejak beberapa tahun ini sudah tidak ada lagi yang namanya pertemuan kelompok untuk membahas perkembangan maju atau mundurnya UPPO ini. Boleh dikata Kelompok Manteb Tani ini sudah bubar,” pungkas Su.

Sementara itu Supanto tidak membantah jika Kelompok Manteb Tani mendapatkan bantuan UPPO pada tahun 2011. Dia juga mengakui bahwa tidak pernah ada pertemuan kelompok seperti yang dituduhkan warga.

“Benar jika tahun itu dapat bantuan UPPO, namun sejak beberapa tahun terakhir ini kondisi Kelompok Manteb Tani stagnan alias jalan di tempat. Keberadaan sapi masih ada di tangan anggota kelompok, nanti saya kirim data data anggotanya,” kata Supanto.

lensamedia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: