Kunjungan Wisatawan Diperbolehkan, Maksimal 75 Persen

  • Bagikan

Gunungkidul, (lensamedia.co)– Aturan kunjungan wisatawan diberbagai obyek wisata telah ditentukan maksimal 75 persen dari kuota maksimal. Aturan ini turut berlaku selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.

Menanggapi hal ini, Dinas Pariwisata Gunungkidul (Dispar) tengah mempersiapkan skema antisipasi terkait sebaran Covid19. Karena dengan kuota 75 persen, menjadikan potensi kerumunan pengunjung di obyek wisata sangat mungkin terjadi.

“Kami siapkan skema screening berlapis, screening dilakukan sampai di lokasi wisata,” ujar Sekretaris Dispar Gunungkidul, Harry Sukmono, Senin (20/12/2021).

Harry kemudian merunut, tahapan screening pertama akan dilakukan di Terminal Semin dan Rest Area Bunder, khususnya bagi bus wisata.

“Pengunjung akan diminta untuk melengkapi syarat perjalanan seperti sertifikat vaksin hingga mempersiapkan aplikasi PeduliLindungi miliknya,” lanjut Harry.

Saat lolos di proses pertama, Harry melanjutkan, pengunjung akan di screening lagi saat tiba di lokasi wisata. Screening ini akan dilakukan dalam bentuk pemantauan.

“Berkoordinasi dengan sejumlah pihak, diantaranya tim Dalwas Gakkum, dan SAR, kami akan melakukan pemantauan terutama terkait dengan kepatuhan protokol kesehatan (prokes), diantaranya penggunaan masker serta tidak berkerumun dan tetap menjaga jarak,” lanjut Harry.

Teknisnya menurut Harry, pemantauan nanti dilakukan dalam bentuk patroli oleh petugas. Selain itu, imbauan rutin akan disampaikan petugas lewat pengeras suara.

“Petugas berbagai unsur akan berkeliling, memantau dan mengingatkan wisatawan untuk selalu taat Prokes di tempat wisata,” terangnya lagi.

Sementara itu, Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Gunungkidul, Sri Yudho Pramono mengatakan pihaknya nanti akan ikut terjun langsung bersama unsur yang lain dalam penegakan Prokes.

“Tapi tetap pengawasan akan lebih diarahkan pada pendekatan persuasif,” kata Sri Yudho.

Penegakan aturan ini, menurut Sri Yudho, tidak hanya berlaku untuk para pengunjung, tapi juga berlaku bagi para pengelola tempat wisata.

“Terutama nanti soal pembatasan jam operasional tempat, patroli juga bertujuan untuk antisipasi berbagai kejadian di obwis nantinya,” pungkas Sri Yudho.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: