Kopi Gunung Gambar, Potensi Tersembunyi Daerah Utara Gunungkidul

  • Bagikan

Gunungkidul, (lensamedia.co)– Secara geografis, Gunungkidul dibagi menjadi tiga zona utama, yaitu Batur Agung Utara, Ledoksari Tengah dan Zona Pegunungan Seribu bagian Selatan. Salah satu potensi yang ada di Zona Batur Agung Utara adalah perkebunan kopi. Konon ceritanya, sejak jaman Belanda, kopi sudah dikembangkan di daerah Kapanewon Ngawen, yaitu kawasan Gunung Gambar.

Beberapa waktu lalu, Pokdarwis Gunung Gambar telah melaunching produk kopinya dengan tema “Nyobi Ngopi”, yang dihadiri Bupati Gunungkidul, Sunaryanta.

Pada kesempatan itu, Bupati berharap, program pengembangan komoditas kopi ini diharapkan mampu menjadi salah satu upaya meningkatkan ekonomi masyarakat secara luas. Diharapkan, kopi Gunung Gambar akan hidup lagi, dan menjadi salah satu Branding wilayah, selain wisata Religi Gunung Gambar.

“Untuk mensuplai biji kopi, maka saat ini sudah mulai digalakkan penanaman kopi oleh warga, konsepnya adalah, setiap warga menanam kopi di pekarangan mereka. Juga menanam kopi di tanah tanah yang tidak produktif untuk jenis tanaman pangan pertanian,” terang Supriyanta, wakil dari program Desa Mitra, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Program Desa Mitra, adalah Program Pengabdian dari Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM. Supriyanta menyebut, bahwa program ini sudah dimulai di Gunung Gambar sejak tahun 2018 lalu. Tujuannya adalah pemanfaatan lahan dan memaksimalkan potensi wilayah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Untuk Gunung Gambar, kami terapkan program “Desa Mitra”, tanaman kopi disini sebetulnya tinggal meneruskan saja, karena Gunung Gambar mempunyai sejarah kopi sejak jaman Belanda,” terang Supriyanta, beberapa waktu lalu, di sela program penyerahan dan penanaman 2000 bibit kopi jenis Robusta untuk masyarakat.

Supriyanta juga menyatakan bahwa selain program di Gunung Gambar, saat ini program Desa Mitra sudah di kembangkan ke Padukuhan Pringombo, Kalurahan Natah, Kapanewon Nglipar.

“Di sana kami kembangkan jenis tanaman buah, bibit sudah ditanam oleh warga, di kawasan puncak Sumilir,” lanjutnya.

Dalam program ini, UGM juga menggandeng berbagai komunitas konservasi yaitu Sedulur Tandur Wonogiri, dan Komunitas Resan Gunungkidul. Supriyanta berharap, dengan penataan kawasan yang tepat, maka Zona Batur Agung Utara bisa menjadi kawasan konservasi dan ekonomi bagi masyarakat.

“Proyeksinya, kawasan Batur Agung bisa menjadi kawasan terpadu, baik Konservasi maupun ekonomi, dengan penataan dan konsep yang tepat, ini juga bisa menjadi upaya untuk mitigasi bencana,” pungkasnya. (Ep)

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: