u6Dacb.md.jpg

Kemarau Basah Berikan Dampak Positif Bagi Petani di Gunungkidul

  • Bagikan

Wonosari,(lensamedia.co)–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyebut musim kemarau basah tahun ini berdampak positif terhadap pertanian di Bumi Handayani. Salah satunya ialah mengurangi biaya produksi pertanian dalam pengadaan air.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, hujan yang turun beberapa waktu belakanvan ini mengurangi biaya produksi pertanian dalam hal pengadaan air. Sementara untuk dampak negatif berupa kerusakan lahan tidak ditemukan.

“Kemarau basah kali ini berdampak baik, petani dapat menekan biaya irigasi. Selain itu juga tidak ada kerusakan lahan,” ujar Raharjo.

Ia menambahkan, area padi lahan basah saat ini mencapai 431 hektare (ha). Sedangkan untuk lahan kering, para petani memanfaatkannya untuk pertanian selain padi.

“Untuk padi sudah memasuki musim tanam ketiga. Kemudian lahan jagung 897 ha, kedelai 911 ha, kacang tanah 898 ha, dan kacang hijau 207 ha. Paling luas untuk penanaman ubi kayu, mencapai 44.025 ha,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, merujuk pada informasi dari BMKG, kemarau kali ini mengalami anomali. Penyebabnya adalah suhu permukaan air laut yang hangat sehingga memicu terbentuknya awan hujan.

“Kami mengimbau kepada para petani, khususnya holtikultura untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hama penyakit,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas memperkirakan anomali cuaca ini akan berlangsung hingga September mendatang. Sifat hujan juga disebut di atas kondisi normal. Hal ini membuat kondisi musim kemarau DIY tahun ini cenderung lebih basah.

Pihaknya mengimbau kepada seluruh pemerintah daerah hingga masyarakat untuk memperhatikan situasi hingga perkembangan cuaca ke depan. Terutama dampaknya pada sektor pertanian.

“Dengan begitu, perlu dijadikan pertimbangan kebijakan,” kata Reni.

u6Dacb.md.jpg
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: