Karangtaruna di Dua Padukuhan Ini Rela Patungan Lunasi Hutang Warga

  • Bagikan

Panggang,(lensamedia.co)–Karangtaruna di dua padukuhan, yakni Warak dan Sawah Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang melakukan aksi patungan untuk melunasi hutang warga. Hal ini dilakukan karena efek dari jeratan hutang tersebut berdampak buruk.

Diungkapkan oleh tokoh Karangtaruna setempat, Uga Hawadi bahwa warga mulai terjerat utang ke koperasi berbunga tinggi sejak Pandemi COVID-19 merebak. Saat itu banyak warga banyak yang tak mampu bekerja dalam rangka mencari penghasilan. Akhirnya, warga tergiur pinjaman dana dengan syarat yang mudah.

Banyaknya warga tergiur pinjaman diantaranya karena syarat yang mudah. Warga rela menyerahkan surat-surat antara kain Akta Kelahiran, Surat Nikah, dan KTP demi memperoleh pinjaman.

“Satu tahun bisa lancar, namun belakangan warga kesusahan mengangsur pinjaman. Selain bunga tinggi, periodenya harian. Selain tanggungan hutang, dampak lain cukup menyedihkan,” kata Ugi ketika dihubungi awak media, Rabu (08/06/2022) kemarin.

Melihat fenomena itu, karangtaruna di dua padukuhan serta didukung berbagai elemen masyarakat melarang lembaga pemberi pinjaman uang beroperasi di wilayahnya. Hal itu berlaku kepada koperasi dan pihak peminjam swasta yang memberikan pinjaman dengan bunga tinggi serta sistem angsuran harian.

“Maka, kami sepakat melarang penyedia pinjaman beroperasi di kawasan kami,” bebernya.

Rupanya marketing pencari nasabah melapor ke atasan perusahaan penyedia pinjaman uang. Pimpinan perusahaan kemudian turun dan bertemu dengan karang taruna.

“Kami pun berjanji tidak sebatas melarang, namun menyusun langkah juga guna menyelesaikan tanggungan warga,” sambungnya.

Niat tersebut didasari fenomena tragis yang terjadi belakangan ini. Ada warga yang tak segera terbebas dari utang, bahkan setiap hari dibebani angsuran.

Ada beberapa warga yang lahan pekarangannya semakin sempit karena dijual. Bahkan yang cukup mengemparkan ada fenomena bunuh diri yang diduga tak lepas dari perkara hutang.

Atas sejumlah pertimbangan itu, serta musyarawah dengan berbagai elemen, karangtaruna kemudian bersepakat mengembalikan utang warga yang belum lunas.

Adapun cara yang ditempuh karangtaruna untuk mengumpulkan uang seperti dengan cara iuran uang hingga menghimpun donasi serta mendapat support organisasi kemanusiaan.

“Karangtaruna kemudian membentuk kompok atau organisasi sosial ‘Lestari’ dan menggandeng orgamisasi kemanusiaan ‘Cahaya Insani’ sebagai penanggungjawab hutang warga di dua padukuhan di Kalurahan Girisekar,” kata Uga.

Uga menjelaskan, selain organisasi itu, turut terlibat pula Pokdarwis Bulu Sari yang kebetulan dipimpin Uga. Pokdariws tersebut punya agenda rutin yang diantaranya diisi pengumpulan donasi untuk kegiatan sosial.

“Ada puluhan warga yang terjerat hutang. Antara 30-50 orang. Data sementara, ada 50-an akad pinjaman yang kami data. Setiap orang itu bahkan bisa berhutang ke 5 koperasi,” ungkap Uga.

Sebagai informasi, pada Selasa, (07/06/2022) kemarin dilaksanakan pelunasan hutang tahap pertama dan bertempat di balai kalurahan. Dalam pembayaran kepada 5 koperasi, karangtaruna telah menyetor sebanyak Rp34.700.000.

Uga menyebut, belum kesluruhan hutang warga terdata. Sampai saat ini pendataan masih berlangsung. Bank-bank dan koperasi yang memiliki nasabah di wilayahnya bermunculan menyampaikan tunggakan.

“Warga nanti mengembalikan hutang ke organisasi sosial, Lestari dan Cahaya Insani. Dilakukan dengan cara mengangsur sesuai kemampuan dan tanpa bunga,” lanjut Uga menjelaskan.

Pihaknya meminta warga yang terbelit hutang cermat menghitung penghasilan seminggu. Jika ada sisa uang setelah digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, berapapun jumlahnya, diminta untuk disetor ke organisasi sosial yang menyelesaikan hutang mereka di koperasi.

“Misal seminggu hanya mampu Rp 5 ribu, ya silahkan dibayarkan segitu saja,” tutur Uga.

Setelah Koperasi dilunasi, karangtaruna di dua padukuhan tersebut memintanya tak beroperasi lagi. Perwakilan koperasi yang hadir pun kemudiian menyanggupinya.

“Kami sudah buat perjanjian dengan koperasi-koperasi dan disepakati,” kata Uga lagi.

Lurah Girisekar, Sutarpan mengapresiasi inisiatif karangtaruna. Diakui keberadaan koperasi yang beroperasi di wilayahnya mencekik dan memberatkan warga.

“Kemarin berjalan lancar proses pelunasannya. Kelompok pemuda dan pihak koperasi sudah punya kesepakatan,” kata Sutarpan.

lensamedia
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: