Kali Lemusur, Surga Tersembunyi di Pinggiran Gunungkidul, Spot Indah Bagi Penggemar Wisata Indie

  • Bagikan

Panggang,(lensamedia.co)--Tren wisata Indie, adalah sebuah gaya piknik yang akhir akhir ini banyak diminati berbagai kalangan. Tren ini muncul akibat kebosanan masyarakat menghadapi suasana Pandemi dan PPKM, yang berimbas dengan ditutupnya tempat tempat wisata domestik.

Masyarakat yang jenuh dan ingin rekreasi, akhirnya mencari tempat tempat alternatif untuk sekedar melepas penat dari kesibukan dan kebosanan, sementara tempat tempat rekreasi masih ditutup, akhirnya mereka menjadikan spot spot tertentu, yang tadinya dianggap sebagai tempat biasa menjadi tempat berekreasi.

Pemilihan spot wisata Indie memang pada lokasi yang tidak biasa untuk piknik. Dalam arti bukan tempat piknik berbayar, lokasi aliran sungai, hutan kecil, taman kota dan yang lainnya banyak dipilih sebagai tempat tujuan wisata Indie.

Tren perburuan spot wisata Indie ini sebenarnya diawali dari anak anak muda, mereka camping, memasak, menyeduh kopi, dan mengunggah segala kegiatan jelajah alam di medsos. Ada kebanggan jika menemukan spot yang baru, dan ketika diunggah banyak memunculkan pertanyaan di kolom komentar pada akun media sosialnya.

Pada perkembangannya, saat ini perburuan spot wisata Indie, tidak hanya sebatas dilakukan oleh anak anak muda, akhirnya banyak masyarakat yang membawa keluarganya untuk piknik ditempat tempat ini, entah berkemah atau sekedar mencari suasana baru.

Salah satu yang sekarang sedang ramai di Gunungkidul adalah spot wisata Indie sungai Oya. Sungai terpanjang di Gunungkidul ini memang termasuk sungai purba, hal ini dapat dilihat dari struktur batuan yang membentuk aliran airnya. Pada titik titik tertentu, sungai Oya memang menyajikan pemandangan yang indah, dan sangat khas mencirikan bumi Gunungkidul.

Maka tak heran, setiap Minggu pagi, atau hari libur, kita bisa menyaksikan berbagai titik spot sungai Oya banyak dipenuhi oleh keluarga keluarga yang membawa anak anaknya untuk berekreasi, berkemah, mandi, berenang dan bersantai.Pada sore hari, akan banyak kita temui anak anak muda yang berkelompok, menyalakan kompor gas kecil, memasak atau menyeduh kopi sambil menunggu petang.

Nah, perjalanan Lensamedia kali ini mencoba mencari sebuah spot wisata Indie yang baru. Adalah kali Lemusur, sungai kecil anak dari sungai Oya. Kali Lemusur terletak di pinggiran Gunungkidul sebelah barat, tepatnya di Dusun Pacar II, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang.

Walaupun bukan kali Oya, kali Lemusur mempunyai pemandangan yang tak kalah cantik. Badan sungainya terbentuk dari struktur batu yang utuh dan keras. Struktur batu ini rata, terhampar layaknya lantai dari cor hot mix yang sangat luas. Pada bagian tengahnya, mengalir air sungai Lemusur yang jernih, dan berujung pada sebuah air terjun kecil, air kemudian jatuh pada sebuah ceruk, di dalam airnya yang bening tampak berbagai jenis ikan berenang bebas.

Suasana gemericik air sungai yang tedengar, berpadu dengan suara burung burung hutan, dan sesekali petani yang lewat pulang dari ladang menyapa dengan ramah. Sapaan khas ala pedesaan di Gunungkidul menjadi sesuatu yang semakin berasa natural. Beberapa anak kecil tampak berteriak teriak riang mereka sedang mandi dan bermain di sungai.

“Sungai Lemusur memang tidak pernah kering, walau memang kalau kemarau debit airnya turun,” terang Muhidin(39), salah seorang pemuda yang menjadi penggagas kelompok pegiat Lemusur.

Muhidin dan beberapa temannya tampak sedang sibuk membuat kebun pembibitan tanaman konservasi bersama Komunitas Resan Gunungkidul. Mereka menyemai bibit bibit pohon yang nantinya akan ditanam disepanjang sungai Lemusur.

Di pinggir sungai, disebuah pondok kecil sederhana, para pemuda pegiat Lemusur ini bermarkas. Tempat ini terletak persis disamping sebuah mata air/sendang. Masyarakat dusun Pacar dan dusun Jerukan yang terletak di bagian atas, memang menggantungkan kebutuhan akan air sehari hari dari sumber air ini.

“Tanah seberang sungai sudah banyak yang dibeli Investor, katanya rencananya dikawasan ini akan dibuat Taman Safari seluas 50 hektar,” lanjut Muhidin.

Dengan banyaknya tanah yang sudah berpindah kepemilikan, Muhidin dan teman teman Karang Taruna “Muda Tama” dusun Pacar mengaku merasa khawatir, jika nantinya pembangunan yang akan dilakukan oleh Investor akan berpengaruh buruk bagi lingkungan desa mereka.

“Dua sumber air dan sungai Lemusur ini adalah aset desa kami, keberadaanya sangat penting dan vital, jika kami tidak berusaha merawat dan menjaganya, kami takut akan menjadi rusak,” imbuh Ipung(28), ketua Karang Taruna Muda Tama.

Akses jalan menuju kali Lemusur saat ini sudah dibangun dengan pengerasan cor blok, pengerasan jalan sepanjang 400 meter ini berasal dari program dana Keistimewaan DIY.

“Jika benar kawasan ini akan dibangun Taman Safari, kami tidak ingin penduduk lokal hanya menjadi penonton, kita harus punya daya tawar agar tidak tergusur,” ujar Supatman(40), dukuh Pacar II, yang sempat hadir dalam acara pembibitan.

Muhidin dan teman temannya memang giat untuk mengelola kali Lemusur dan dua sumber air di wilayahnya. Mereka sadar jika aset alam yang mereka miliki tidak dilindungi, maka mereka akan kehilangan. Secara pelan tapi pasti ada rencana untuk membuat perlindungan kawasan, termasuk membangun kawasan wisata berbasis alam, budaya dan konservasi.

“Struktur batuan sungai Lemusur ini sangat unik dan menarik, kami juga ada rencana membangun bumi perkemahan, dan nanti jika bisa melengkapi jenis jenis pohon, bisa kami tawarkan wisata edukasi,” harap Muhidin.

Hari menjelang sore, rasanya sangat betah ngobrol di pinggir kali, dengan teman teman pegiat Lemusur, ditemani kopi dan asap rokok. Matahari sudah hampir pulang ke peraduan, dan akhirnya memaksa lensamedia untuk pamit. Dalam perjalanan pulang, terbersit harapan semoga ke depan warga masyarakat Pacar bisa bertahan di tengah gempuran jaman, dan tidak kehilangan anugerah alam yang luar biasa ini.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: