Jas Merah, Sultan HB X Usulkan Serangan Umum 1 Maret 1949 Menjadi Hari Besar Nasional

  • Bagikan

Gunungkidul, (lensamedia.co)– Beberapa waktu lalu, lensamedia.co menulis tentang sebuah kisah sejarah bangsa, yang terjadi di rumah seorang petani bernama Prawirosetomo, yang terletak di Padukuhan Banaran, Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, Gunungkidul. Di rumah inilah, 72 tahun lalu, keberhasilan serangan umum 1 Maret dikabarkan lewat stasiun radio PC2 AURI hingga sampai ke meja PBB, yang berujung dengan diakuinya Indonesia sebagai sebuah negara merdeka.

Pada Selasa (16/11/2021) kemarin, Pemerintah menggelar seminar nasional Mendukung Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi Hari Besar Nasional secara daring.

Sejumlah menteri terlibat dalam seminar nasional tersebut diantaranya Menkopolhukam, Mendagri, Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tehnologi, Mensesneg, Menhan dan juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

“Peristiwa Serangan Umum 1 Maret memiliki makna penting bagi penegakan dan pengakuan kedaulatan negara, baik dari dalam maupun dari luar negeri,” terang Sultan HB X.

Menurut Sultan, peristiwa ini merupakaian rangkaian panjang dari peristiwa-peristiwa sejarah yang mendahului dan mengikutinya, sejak Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan 17 Agustus 1945 oleh Sukarno dan Muhammad Hatta, hingga pengakuan kedaulatan negara oleh Belanda.

Proklamasi Kemerdekaan ini berlanjut dengan pengangkatan dan penetapan Sukarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, serta pengesahan Undang Dasar 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

“Tidak berselang lama setelah Proklamasi, melalui Amanat 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VII| menyatakan sikap, bahwa Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi bagian dari Indonesia,” lanjutnya.

Dikisahkan Sultan, perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan sangatlah berat. Hal ini karena, setelah Sekutu menang dalam Perang Dunia 2, Belanda yang sebelumnya menyerah kepada Jepang, berambisi kembali menguasai Indonesia.

Pada tanggal 29 September 1945, pasukan Sekutu dan Belanda mendarat di Indonesia untuk melucuti tentara Jepang dan mengendalikan keadaan.

“Saat itulah, Belanda dengan menumpang Sekutu, justru malah ingin berkuasa kembali di Indonesia,” lanjutnya.

Gerakan ofensif-agresif Belanda inilah yang menyebabkan Ibukota negara Republik Indonesia akhirnya dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, pada hari Jumat Legi tanggal 4 Januari 1946.

Bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan diri sebagai negara merdeka tentu tidak tinggal diam dengan hal ini, perlawanan bersenjata terus terjadi di berbagai daerah. Sampai akhirnya serangan umum tanggal 1 Maret 1949 yang diinisiasi Jenderal Sudirman dan Letkol Suharto, yang berhasil menguasai Yogyakarta, yang waktu itu diduduki oleh Belanda.

“Dengan keberhasilan SO 1 Maret,.membuka mata dunia, bahwa Pemerintah dan tentara Indonesia masih ada, atas dasar rentetan peristiwa itulah, kami mengusulkan peristiwa Serangan Umum 1 Maret sebagai hari besar nasional,”paparnya.

Sultan melanjutkan, tujuannya dari pengusulan ini tak lain adalah untuk menghargai jasa para pahlawan serta meneguhkan kembali semangat nasionalisme dan kebangsaan serta mengabadikan sejarah sehingga generasi mendatang akan mengerti, bahwa bangsa ini didirikan dengan banyak pengorbanan.

“Penting juga agar kita mengingat kembali kepada cita-cita awal revolusi kemerdekaan Indonesia yang merdeka dan berdaulat, dan menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasar Pancasila dan UUD 1945,” pungkas Sultan dalam rapat daring tersebut.

Saat ini, rumah Limasan sebagai saksi bisu sejarah berkumandangnya keberhasilan SO 1 Maret 1949, sudah menjadi Monumen AURI. Di depan rumah yang masih dipertahankan bentuk aslinya ini, menjulang tinggi sebuah tugu peringatan yang bertuliskan maklumat perjuangan.

“Andai saja waktu itu tidak ada PHB AURI, maka eksistensi Kemerdekaan Republik Indonesia, mungkin tidak pernah di dengar dunia Internasional,” kutipan tersebut adalah ucapan dari M Syafrudin Prawiranegara, yang pernah menjadi Pemimpin Tertinggi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). (Ep)

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: