Harga Telur Ayam Melambung Tinggi, Ini Penyebabnya

  • Bagikan

Gunungkidul,(lensamedia.co)–Beberapa komoditas bahan pokok(bapok) harganya naik tinggi sejak mendekati akhir 2021, dan sampai saat ini masih stabil tinggi di Gunungkidul.

Salah satunya adalah telur ayam, harga telur ayam beberapa waktu lalu sempat tercatat mencapai Rp. 34.000, rupiah per kilogramnya. Meski sempat turun sedikit, sampai saat ini harga telur masih bertahan di angka tinggi. Sedangkan biasanya harganya berada di kisaran 20 sampai 22 ribu rupiah.

“Kenaikan terasa sejak pertengahan bulan Desember 2021 kemarin,” kata Subandi,
Ketua Paguyuban Ayam Petelur Gunungkidul, Minggu (02/01/2022).

Menurutnya, faktor utama kenaikan harga ini dipicu oleh terbatasnya persediaan komoditas, sementara permintaan pasar saat ini mulai tinggi.

“Barang berkurang, karena banyak peternak yang memilih mengurangi produksinya karena terdampak kebijakan PPKM,” lanjutnya.

Ia memperkirakan, akibat Pandemi ada sekitar 20-30 persen peternak telur ayam berskala kecil di Gunungkidul yang harus gulung tikar. Mereka memilih mengafkirkan ayamnya secara dini lalu tak lagi memproduksi.

Setelah Pandemi melandai dan PPKM melonggar dan aktivitas masyarakat mulai meningkat, permintaan komoditas ini mulai meningkat.

“Namun karena produksi turun, karena peternak banyak yang berhenti, persediaan telur ayam di pasaran pun jadi terbatas. Hal inilah yang akhirnya memicu kenaikan harga,” imbuhnya.

Subandi yang memiliki kandang peternakan di daerah Semanu sendiri mengaku, bahwa di masa PPKM kemarin, dia sempat mengurangi produksinya sampai sekitar 30 persen.

Namun menurutnya, meski persediaan tak imbang dengan permintaan, ia meyakini kebutuhan telur ayam di Gunungkidul tetap bisa terpenuhi. Antara lain dengan menyediakan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Kami berharap agar harga pakan bisa lebih murah, sebab jika dihitung, keuntungan peternak terbilang kecil jika harga pakan mahal. Saat ini kami masih melihat perkembangan ke depan untuk kembali menambah produksi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Distribusi, Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul Sigit Haryanto menyebut telur ayam memang menjadi komoditas pangan dengan kenaikan paling signifikan.

“Kenaikan harga telur kali ini memang paling signifikan dibanding periode sama sebelumnya,” kata Sigit beberapa waktu lalu.

“Daya beli masyarakat memang meningkat. Apalagi dengan adanya bantuan tunai dari pemerintah yang langsung digunakan untuk membeli bahan pokok,” terangnya lagi.

Sigit mengaku, pihaknya tak bisa memperkirakan berapa besar kebutuhan telur ayam di Gunungkidul. Namun ia memastikan tetap terus berkoordinasi dengan pemasok.

“Untuk persediaan barang tetap aman,” pungkasnya.

lensamedia
Penulis: Edi Padmo
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: