Gaya Hidup Punk dan Tato, Ternyata Juga Sebuah Proses Pencarian Jati Diri

  • Bagikan

Gunungkidul (lensamedia co)– Pandangan negatif terhadap anak Punk sudah melekat dengan kuat di kalangan masyarakat. Banyak masyarakat yang masih memandang mereka hanya dari penampilan luarnya saja. Karena memang pada dasarnya penampilan anak punk berbeda dari yang lainnya. Dengan gaya nyentrik, badan penuh tato, rambut dicat warna warni serta pakaian yang mereka kenakan juga bergaya beda dengan yang lainnya.

Dengan ciri fisik seperti itu, dan gaya hidup bebas yang mereka praktekkan membuat pandangan masyarakat secara umum semakin menguatkan stigma negatif bagi anak anak Punk.

Tetapi ternyata, kita tidak cukup melihat sesuatu hanya dari luarnya saja. Karena kadang pandangan luar itu menipu.

Beberapa waktu lalu kami sempatkan untuk ngobrol dengan dua orang anak punk yang berada di Gunungkidul. Adalah Eno (31), seorang anak Punk dari Kapanewon Panggang, dan Dimas atau yang akrap dipanggil Gendon (27), yang berasal dari Kapanewon Karangmojo.

“Saya menjadi anak Punk dari tahun 2007 dan teman saya Gendon ini dari 2014,” ujar Eno membuka obrolan kami.

Setelah beberapa saat mengobrol, kami ketahui bahwa ternyata mereka bukanlah orang-orang yang hanya luntang lantung tanpa tujuan tetapi mereka juga memiliki pekerjaan seperti masyarakat lainnya.

“Saya punya usaha pembuatan kaos, produk kaos saya bisa dilihat di akun @haus_abad_13, disamping itu, saya juga buka jasa tato,” terang Eno.

“Saya wirausaha dan banyak beraktivitas di seni musik, saya tergabung dalam grup musik South Mount Sunrise,” terang Dimas atau Gendhon.

Disinggung soal banyaknya tato di wajah dan tubuh mereka, Eno dan Gendon mengaku jikalau setiap gambar atau tato ditubuh mereka mempunyai arti khusus.

“Setiap gambar ditubuh kami mempunyai arti atau kenangan khusus,” lanjut mereka.

Disamping mempunyai pekerjaan yang bisa menghasilkan uang komunitas Punk ternyata juga mempunyai rasa kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama. Hal ini mereka buktikan dengan banyaknya aksi aksi sosial yang mereka prakarsai.

“Kami kadang mengamen, atau bermain musik untuk penggalangan donasi untuk kami berikan kepada masyarakat yang tidak mampu,” imbuh mereka.

Lebih lanjut, Eno dan Gendon menjelaskan dalam komunitas Punk secara luas, mereka memiliki sistem yang random dan beragam gaya atau aliran, ada terdapat genre punk, ada yang tato, ada juga yang genre Regae.

Eno dan Gendon mewakili komunitas mereka menyatakan bajwa cap buruk masyarakat yang disematkan pada mereka sudah tak begitu dihiraukan.

“Kita sih enjoy saja dengan apa yang kita yakini dan lakukan, toh kita juga tidak berbuat jahat, berbuat onar atau melanggar hukum, biar saja mereka bicara nyinyir,” lanjutnya.

Eno dan Gendon juga menyadari, bahwa pilihan hidup mereka memang berbeda jadi mereka tidak begitu mempermasalahkan apapun penilaian umum terhadap komunitas Punk.

“Kami menato badan, kami mengecat rambut, penampilan kami juga berbeda dengan yang lain, itu adalah simbol atau bentuk perlawanan, itu adalah simbol idealisme yang ingin kita suarakan,” terang mereka panjang lebar.

Untuk keluarga sendiri, menurutnya awalnya banyak sekali pertentangan, keluarga menganggap pilihan sebagi anak Punk adalah pilihan yang salah dan tidak punya masa depan, tetapi anak anak Punk ini ingin membuktikan bahwa dengan pilihan ini, mereka tetap bisa membuktikan bahwa kaum Punk juga bisa mandiri dan mampu menghidupi dirinya secara cukup.

Selama ini mereka memang merasa bahwa masih banyak diskriminasi sosial bagi kalangan anak Punk. Seperti halnya ketika ada yang ingin mengikuti ujian menjadi Pegawai Negri Sipil (PNS) atau istilah Sekaran ASN. Pasti terhalang oleh peraturan, misalnya peraturan yang ada setiap warga negara yang ingin mendaftar harus bebas dari tato ,padahal tato juga tidak memiliki pengaruh terhadap pekerjaan.

“Seharusnya lebih mengedepankan karakter dan skill, banyak dari kami yang mempunyai keahlian juga, anak punk juga ingin berkontribusi dalam membangun bangsa sesuai dengan keahlian masing-masing orang,” tandas mereka.

Dari hasil ngobrol dengan mereka berdua, kami bisa mengambil sebuah kesimpulan, bahwa ternyata pandangan kebanyakan masyarakat yang negatif terhadap anak punk tidak sepenuhnya benar. Bahkan ternyata mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi, mereka saling menghargai satu sama lain, saling tolong menolong, dan peduli dengan sesama.

Mereka juga bukanlah penjahat seperti apa yang kita kira selama ini. Mereka juga sama , sama -sama memiliki pekerjaan memiliki tujuan hidup dan memiliki keinginan untuk ikut ambil bagian dalam membangun bangsa.

“Kami berharap tidak ada diskriminasi sosial kepada kami, bagaimanapun menjadi anak Punk adalah pilihan hidup, dan kami juga bertanggung jawab terhadap pilihan hidup kami,”pungkas mereka.

Penulis :

  • Shinta Dewi Puspita Sari
  • Elya Fauzia Hanum

Mahasiswa Prodi PAI 5 STAI Yogyakarta, dalam bimbingan : Hudan Mudaris ,SEI ., MSI

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: