Fakta Mengejutkan Dibalik Cerita Keramat Ikan Sidat atau Pelus

  • Bagikan

Wonosari, (lensamedia.co)– Pernah dengar nama ikan Sidat?, mungkin nama ikan ini agak asing bagi telinga kita. Ikan Sidat, di Gunungkidul biasa disebut ikan Pelus(Anguillidae spp). Sidat adalah jenis ikan air tawar yang menyerupai ikan Belut. Ada banyak nama daerah untuk menyebut jenis ikan ini, ikan Uling, ikan Moa, ikan Lubang, ikan Pelus, ikan Lumbon, ikan Larak dan lain lain.

Secara Morfologi, tubuh sidat berbentuk panjang, bersisik lembut, dan dilapisi dengan lapisan lendir yang tebal. Jenis Ikan ini mempunyai kemampuan untuk mengambil Oksigen langsung dari udara, dan mampu bernafas dengan seluruh bagian kulitnya.

Ikan Sidat ini sering dianggap sebagai ikan keramat atau mistis. Dalam cerita yang sering kita dengar di desa desa, ikan Pelus sering dikaitkan sebagai penunggu/danyang di sebuah sumber air, sendang, sungai/kedung.

Keberadaanya memang sangat erat kaitannya dengan sumber air. Bahkan masyarakat dulu yang masih menggunakan sumber air untuk keperluan sehari hari, selalu menghormati, menjaga, dan tidak berani mengganggu atau mengambil ikan Pelus yang sering menampakan diri di sumber air.

Dalam perkembangan jaman, kekeramatan ikan sidat ini akhirnya meluntur. Bahkan ketika masyarakat tahu bahwa Pelus ini ternyata jika dikonsumsi memiliki kandungan gizi dan protein yang sangat tinggi dan dipercaya juga mempunyai banyak khasiat untuk kesehatan manusia. Perburuan ikan Sidat dengan berbagai cara oleh masyarakat akhirnya membuat keberadaan ikan jenis ini mulai langka.

Mitos atau cerita keramat Sidat akhirnya meluntur oleh perkembangan jaman. Karena semakin maraknya perburuan Sidat yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, banyak orang tak lagi menghiraukan pantangan atau kekeramatan suatu sumber air. Bagi para pemancing Sidat sendiri, semakin besar Sidat yang didapat maka prestise akan semakin tinggi.

Maraknya perburuan penangkapan Sidat inilah yang mengakibatkan hilangnya Sidat Sidat besar penghuni sumber air. Saat ini, keberadaan Sidat besar di suatu sumber air hanya tinggal cerita, seiring dengan mengeringnya atau terbengkelainya sumber sumber air yang ada.

Dari berbagai kajian keterkaitan Sidat dan sumber air ternyata memiliki hubungan yang sangat erat. Sidat mempunyai fungsi terhadap keseimbangan lingkungan, terutama kelestarian sumber sumber air terutama yang berada di daerah hulu.

Melansir pernyataan dari J. Soetanto, Direktur PT. Iroha Sidat Indonesia dalam sebuah artikel, fungsi dari ikan Sidat ini memang sangat penting untuk menjaga debit mata air. PT Iroha Sidat Indonesia beberapa waktu lalu mengadakan kegiatan pelepasan/Restoking ikan Sidat di alam yang bertempat di kawasan konservasi Sidat di kawasan Wisata Situs Watu Ngelak, Dusun Puton, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul.

Dalam agenda ini, PT Iroha bekerja sama dengan Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, Dinas Kelautan Dan Perikanan Propinsi DIY dan masyarakat dusun Puton.

“Ikan Sidat memang mempunyai sifat alamiah untuk berenang menuju ke hulu, untuk mencari sumber sumber atau mata air,” terang Soetanto.

Menurut penelitiannya, Sidat suka masuk ke mata air, termasuk urat urat atau lubang lubang mata air, sehingga jalan air yang tertutup lumpur akan terbuka dan lancar.

Dari keterangan masyarakat Dusun Puton sendiri memang menyatakan, bahwa beberapa titik mata air di daerah mereka debitnya memang mengecil di musim kemarau. Akan tetapi, sejak tahun 2015 ada pelepasan ikan Sidat, saat ini mata air debitnya kembali normal.

“Ditilik dari segi Bio Ekologi, Sidat membantu menjaga pori/struktur rembesan mata air agar selalu terjaga, tidak tersumbat secara alami, hal ini karena sifat alamiah ikam Sidat yang hidup di lubang,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh Saiful, ketua Komunitas pemancing Sidat Gunungkidul (Si Gundul/Sidater Gunungkidul). Saiful menyatakan bahwa keberadaan ikan Sidat ini memang berfungsi sebagai penjaga mata air.

Komunitas Sigundul/Sidater Gunungkidul sendiri adalah sebuah Komunitas pemancing Sidat, yang mempunyai program tidak hanya mengambil/ memancing ikan Sidat di alam, tapi juga berupaya agar ikan Sidat tidak diburu secara membabi buta, sehingga mengancam kelestarian mereka.

“Komunitas ini berupaya membangun kesadaran para pemancing Sidat, bahwa hobi memancing ini juga harus di imbangi dengan menjaga, melepas/merilis Sidat di alam, jadi tidak asal,” lanjut Saiful.

Salah satu kegiatan rutin dari Sidater Gunungkidul adalah merilis/melepasliarkan benih ikan Sidat di sungai sungai dan mata air di wilayah Gunungkidul.

“Gunungkidul sendiri mempunyai potensi berkembangnya ikan Sidat ini, karena didukung oleh banyaknya sungai sungai bawah tanah yang bermuara ke Laut,” lanjutnya.

Menurutnya, Ikan sidat adalah jenis ikan yang memijah(menetaskan telurnya) di perairan air asin/laut, dan setelah menetas, ikan ini alan akan berenang ke hulu.

Berkurangnya populasi ikan sidat di Gunungkidul, menurut Saiful ada banyak faktor alami juga, yaitu seleksi alam di laut/payau saat masih Glasel (anakan) sedikit yg bisa kembali ke air tawar dan juga proses pembesaran ikan sidat yang tergolong lama.

Ada kemungkinan juga indukan atau ikan sidat besar sudah banyak yang berkurang karena perburuan liar, juga faktor kurang terjaganya sumber sumber mata air di gunungkidul untuk tidak di ambil ikan ikan Sidatnya.

“Ikan Sidat besar biasanya berada di mata air/sumber air, jika habitatnya tidak dijaga oleh masyarakat sekitar, kemungkinan Sidat sudah diambil oleh pemburu liar, sehingga mata air akan mati atau kering,” ungkap Saiful.

Mengetahui kenyataan ini, Saiful dan teman teman komunitas Sidater Gunungkidul akhirnya bergerak untuk melakukan upaya pelestarian Sidat. Meraka kemudian sering bekerja sama dengan Komunitas Pemancing Sidat DIY Jateng untuk mengadakan program “Rilis Sidat” secara rutin.

“Saat kami memancing, jika dapat ikan Sidat yang belum layak konsumsi juga kami lepas, kami juga menghindari memancing di sumber sumber air yang disitu di jaga oleh ikan Sidat,” lanjutnya.

Saiful juga menyebut, saat ini banyak masyarakat di Gunungkidul juga sudah sadar, akan pentingnya fungsi Sidat di sumber air. Mereka akan mencegah para pemancing mengambil ikan Sidat di sumber sumber air yang ada di sekitarnya.

“Di daerah Ponjong, Bejiharjo dan yang lain mulai diterapkan aturan larangan memancing Sidat di mata air, bagi siapa yang tertangkap melanggar akan didenda oleh masyarakat,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: