Eco Enzim, Fermentasi Sampah yang Mempunyai Banyak Manfaat

  • Bagikan

Patuk,(lensamedia.co)–Sampah sering menjadi masalah bagi lingkungan, dianggap tidak ada manfaat, menimbulkan bau, dan mengganggu. Menumpuknya sampah memang menjadi permasalahan tersendiri bagi masyarakat, entah itu sampah organik maupun plastik. Berawal dari keprihatinan ini, seorang ibu rumah tangga di Kapanewon Patuk berusaha mencari sebuah solusi untuk memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang punya nilai guna.

Adalah Jumirah(52), warga Padukuhan Jati kuning, Kalurahan Ngoro Oro, Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Ibu rumah tangga ini awalnya merasa prihatin akibat banyaknya sampah rumah tangga yang ada di lingkungannya. Ditambah bau tak sedap kotoran ayam dari sebuah peternakan ayam broiler yang setiap hari dirasakan juga sangat mengganggu.

Permasalahan ini membuat Jumirah mencoba mencari sebuah solusi, berbekal mengikuti pelatihan online tentang pembuatan eco enzim dari sisa-sisa kulit buah dan sayuran, saat ini dia dan ibu ibu sekitarnya mampu mengolah sisa sayuran segar dan kulit buah-buahan yang difermentasi terlebih dahulu untuk menjadi eco enzim, suatu produk cairan yang tidak hanya bermanfaat untuk menghilangkan bau, tapi ada banyak manfaat yang lain.

Ditemui di rumahnya, Jumirah tampak sedang sibuk mencuci sisa sayur sayuran, dicampur berbagai kulit buah buahan. Sambil memproses bahan bahan yang akan difermentasi, dia kemudian menceritakan proses pembuatan eco enzim ini.

“Sisa sayuran dan kulit buah yang masih segar ini dicuci bersih dan di potong menjadi kecil-kecil, kemudian ditambahkan tetes tebu atau bisa juga diganti dengan gula jawa atau gula aren dan ditambah air dari sumur, kalau pakai air PAM harus diendapkan dulu selama 24 jam,” terang Jumirah.

Ia melanjutkan, pembuatan Eco enzim ini sebetulnya prosesnya sangat sederhana, namun ada takaran untuk perbandingan bahan bahannya.

“Satu kilogram tetes tebu atau gula jawa, dicampur dengan 3 kg sisa buah dan sayur yang masih segar serta 10 liter air bersih, kemudian dimasukkan dalam sebuah botol tebal dan didiamkan selama 3 bulan,”

Dalam proses fermentasi ini, setiap seminggu dalam satu bulan pertama, tutup botol harus dibuka untuk mengeluarkan gas yang terkandung didalamnya.

Akan tetapi, menurutnya tidak semua sisa sayur sayuran bisa di fermentasi, ada beberapa yang harus dihindari, diantaranya sawi, kobis, kulit alpukat atau kakao. Untuk jenis kulit buah yang biasa digunakan dan gampang ditemui sehari hari jenisnya bisa kulit pisang, kulit pepaya, bongkot kangkung, kulit buah naga dan kulit jeruk.

“Minimal 5 jenis, lebih gak apa apa,” imbuhnya.

Setelah 3 bulan proses fermentasi, maka Eco enzim ini sudah jadi dan siap digunakan. Warnanya akan menjadi coklat pekat kehitaman.

“Fungsinya sangat banyak, selain untuk menghilangkan bau, juga dapat digunakan sebagai obat diantaranya, mengobati luka terbuka dengan dioleskan secara rutin,.luka akan cepat kering, gatal-gatal, penjernih air, luka bakar, dan bisa untuk mengepel lantai keramik,” kata Jumirah panjang lebar.

Khusus penggunaan untuk menghilangkan bau kotoran ayam broiler atau kandang rumahan, Eco enzim ini bisa disemprotkan berkala, tiga hari sekali dengan dicampur air.

Saat ini, Jumirah secara rutin memproduksi Eco enzim ini, meski begitu dia mengaku tidak menjual produknya. Dia secara suka rela memberikan sampel kepada tetangga tetangganya, bahkan warga di daerah lain, sekaligus memberikan semacam pelatihan tentang tekhnik mengolah sampah.

“Disamping membuat Eco enzim, saya juga mendaur ulang sampah plastik menjadi berbagai macam kerajinan,” terangnya lagi.

Jumirah memang termasuk kader pemberdayaan masyarakat, berbagai penghargaan telah dia terima. Ibu dari dua orang anak ini juga bersemangat untuk menularkan ilmunya kepada ibu ibu rumah tangga yang lain.

Dia telah berkeliling, memberikan pelatihan sekaligus mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masing masing, serta mengolah sampah menjadi sesuatu yang bisa punya nilai guna.

Dirumahnya, tampak berjajar rapi produk produk kerajinan berbahan sampah plastik, mulai dari berbagai macam vas bunga, tempat tissue, tempat buah, dan hiasan hiasan yang lain.

“Seneng saja bisa berbagi ilmu, mungkin bisa menginspirasi yang lain juga, sampah yang biasnya hanya dibuang, mengotori lingkungan, dengan sentuhan kreatifitas bisa bermanfaat lagi,” pungkasnya mengakhiri obrolan kami.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: