Ditinggal saat Usia 3 Tahun, Tepat pada Penumpasan PKI, Asto Tidak Pernah Tahu Keberadaan Bapaknya

  • Bagikan

Playen,(lensamedia.co)–Kamis siang(30/09/201), sinar matahari di penghujung musim kemarau memancar dengan terik. Panasnya mengiringi perjalanan Lensamedia.co menuju halaman rumah Asto Puaso(59), warga Padukuhan Plembutan Timur, Kalurahan Plembutan, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Pria paruh baya berkacamata ini menyambut kami di teras rumah dan mempersilahkan untuk masuk di rumah pendopo berbentuk limasan yang sekaligus menjadi studio melukisnya.

“Bapak hilang tahun 1965, waktu itu saya berumur 3 tahun, jadi saya sama sekali tidak ingat wajah bapak,” ujar Asto membuka obrolan kami, Kamis (30/09/2021).

Asto melanjutkan, hilangnya sang bapak yang bernama Wasirin atau Sirin ini memang waktunya bertepatan dengan penumpasan gerakan 30 September (30/S/PKI) tahun 1965. Peristiwa G 30 S PKI sendiri menjadi salah satu catatan sejarah yang sangat kelam bagi bangsa Indonesia. Carut marut perpolitikan di tahun itu meninggalkan banyak luka dan cerita duka bagi Indonesia dalam perjalanan bangsa ini sebagai sebuah negara.

“Saya pribadi tidak ada maksud atau mengaitkan hilangnya bapak dengan peristiwa tersebut, ini lebih pada tuntutan batin saya sebagai seorang anak yang ingin mengetahui keberadaan orang tuanya,” lanjut Asto.

Asto mengaku, selama puluhan tahun, setiap dia bertanya pada siapapun tidak ada yang berani bercerita tentang kisah hidup atau akhir nasib hidup dari bapaknya. Termasuk ibunya yang menutup rapat cerita tentang mbah Sirin, hingga meninggal 10 tahun yang lalu.

“Beberapa tahun setelah bapak hilang, “simbok” atau ibu saya menikah lagi, dalam kurun waktu selama itu, tidak ada yang bercerita tentang nasib bapak, kalau pergi, pergi kemana, kalau sudah meninggal, dimana kuburnya,” imbuhnya.

Kegelisahan batin dan pertanyaan yang berpuluh tahun ia pendam, akhirnya terusik di tahun 2010, dimana pada saat itu Asto harus menjawab pertanyaan dari anaknya, Farid Stevi Asta. Farid menanyakan tentang keberadaan kakeknya(mbah Sirin), karena dia tahu kakeknya yang sekarang ternyata bukan kakek kandungnya. Saat ini Farid dikenal sebagai seorang seniman lukis sekaligus pemusik dengan band/kelompok musik Festivalist.

Sejak saat itu, bersama Farid, Asto mencoba mencari keberadaan mbah Sirin, pencarian dimulai dari orang orang di desanya yang diperkirakan seusia dengan mbah Sirin, dan mengetahui nasibnya di tahun 1965, walau ternyata orang orang yang ditanyai masih tampak menyembunyikan cerita tentang mbah Sirin kepada mereka.

Asto dan Farid tidak menyerah, berbagai upaya kembali dilakukan, kabut tebal yang menyelimuti cerita tentang hilangnya sang bapak justru semakin menguatkan hatinya untuk pencarian ini.

“Saya berpikir, bahwa saya tidak perduli ketika dalam pencarian nanti menemukan fakta bahwa bapak adalah penjahat atau pejuang, atau ada kaitannya dengan peristiwa politik tahun 1965, dalam konteks ini saya hanya sosok anak yang mencari bapaknya yang selama ini hilang,” tandas Asto.

Pria kelahiran 18 Februari 1962, yang sempat malang melintang menjadi seniman di Gunungkidul ini mengaku kehilangan jejak bapaknya karena tidak memiliki dokumen apapun. Orang-orang yang ia anggap tahu tentang Mbah Sirin juga tidak pernah bersedia bercerita.

Satu persatu yang ia anggap mengetahui Mbah Sirinpun didatanginya. Anaknya, Farid juga berusaha mengumpulkan cerita berkaitan dengan Mbah Sirin. Hingga akhirnya mendapat kesimpulan jika Mbah Sirin adalah salah seorang tokoh dan orang yang sangat berpengaruh di desanya, dan Mbah Sirin hilang pada tahun 1965, berbareng dengan penumpasan gerakan G30S PKI.

“Cerita yang kami dapat, Mbah Sirin itu dulu tokoh masyarakat, di desa dia menjabat sebagai Carik dan kalau di instansi adalah Kepala Agraria,” terangnya.

Titik terang mulai dia dapat, dari keterangan Pak liknya yang eks tahanan politik(Tapol) pulau Buru, Asto mendapat cerita bahwa selama menjadi tahanan di pulau Buru, Pak liknya tidak pernah bertemu dengan mbah Sirin.

“Pak Lik pulang dari pulau Buru sekitar tahun 1980, dia bercerita bertemu semua tahanan politik yang berasal dari Gunungkidul, tapi tidak pernah bertemu dengan mbah Sirin,” terang Asto.

Dari keterangan Pak Liknya, dalam hatinya Asto mulai menyimpulkan bahwa mbah Sirin sudah meninggal, dengan keyakinan itu, timbul pertanyaan lagi, jika sudah meninggal, lalu dimanakah letak kubur mbah Sirin.

Pencarian akhirnya kembali dilanjutkan, dari beberapa kabar yang selama ini beredar, saat penumpasan gerakan PKI, banyak anggota atau simpatisan PKI yang dibuang di “Luweng”(gua Vertikal) yang memang lazim tersebar di daerah Gunungkidul. Salah satu yang paling terkenal adalah luweng Grubuk di daerah Kapanewon Semanu.

Asto kemudian ke luweng Grubuk, disana dia mengobrol dengan seorang tua yang dijumpainya, orang tersebut mengatakan bahwa di tahun 1965 memang banyak orang orang yang dibawa dengan truk ke luweng Grubuk.

“Cerita yang saya dapat, kala itu warga di seputaran Luweng Grubug diminta untuk membuat Oncor (obor dari bambu), dan setelah malam warga sekitar tidak boleh keluar rumah, jadi tidak ada yang bisa bercerita bagaimana nasib orang orang yang dibawa ke Grubuk dengan menggunakan Truk,” lanjut Asto.

Selain cerita dari Pak liknya, Asto juga mendapat cerita tentang Mbah Sirin dari Adik Mbah Sirin yang sering dipanggilnya Simbok. Kala itu, Simboknya bercerita jika dalam mimpinya Mbah Sirin datang untuk meminta dibuatkan rumah. Hingga akhirnya dibuatlah makam/nisan ‘Palsu’ di pemakaman umum Padukuhan Toboyo, Kalurahan Plembutan Playen.

“Simbok kembali didatangi Mbah Sirin dalam mimpi, kali ini mbah Sirin datang dengan memakai celana Drill, kaos putih sudah luntur hingga nampak kekuning-kuningan dan salah satu celananya dilipat hingga ke lutut, dalam mimpinya Mbah Sirin dalam keadaan salah satu kakinya terikat pohon Wangkong (pohon air),”jelas Asto

Dengan rasa penasaran tentang arti mimpi simboknya, Asto dan Farid kembali ke luweng Grubuk, untuk mencari informasi terkait dengan tanaman Wangkong. Dan ternyata di Luweng tersebut tidak ditemuinya, namun ketika dalam perjalanan pulang mereka bertemu orang yang sudah tua dan ketika ditanya nama tempat tersebut, orang asing itu menyebut nama tempat tersebut adalah Alas Krangkong (wangkong).

Mencoba menghubungkan kisah dan mimpi yang secara batin ada saling keterkaitan, Asto dan anaknya kemudian melakukan do’a di luweng Grubuk di tahun 2020 kemarin.

“Saat saya berdo’a itu, saya mengalami semacam pengalaman spritual/batin, saat itu, antara setengah sadar dan tidak, saya seperti ditemui seseorang yang ciri cirinya mirip dengan lelaki yang menemui simbok dalam mimpi mimpinya, dan itu saya yakini adalah bapak/mbah Sirin,” cerita Asto.

Dari pengalaman spritual di luweng Grubuk, Asto mengaku, sejak saat itu dalam hatinya yakin, bahwa bapaknya yang bernama Wasirin/mbah Sirin menjadi salah satu dari ribuan orang yang hilang di Luweng Grubug.

“Mulai saat itu, saya memutuskan untuk menghentikan pencarian bapak, dalam hati saya sudah sangat yakin, hidup Mbah Sirin memang berakhir di luweng Grubug,” ujar Asto sambil menunduk.

Kendati sudah merasa menemukan jawaban dari teka teki nasib bapaknya selama ini, Asto menandaskan bahwa dia tidak akan menyalahkan atau mengkaitkannya dengan cerita atau sejarah masa lalu.

“Sejarah tidak bisa disalahkan, tapi kita perlu mengetahuinya, sekali lagi pencarian ini hanya dalam konteks seorang anak yang mencari keberadaan bapak, dengan keyakinan yang saya dapat, dan ini hanya untuk diri saya, saat ini saya sudah bisa “nyekar” atau ziarah dan mendoakan bapak,” pungkasnya mengakhiri obrolan kami.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: