Dari Penghobi Menjadi Peternak, Pak Dukuh Hasilkan Perkutut Senilai Jutaan Rupiah

  • Bagikan

Semanu,(lensamedia.co)–Dunia hobi memang selalu asik untuk diperbincangkan. Bahkan tak jarang, suatu hal yang berawal dari hobi bisa menjadi profesi atau usaha sampingan yang menghasilkan banyak uang.

Seperti halnya yang dilakoni oleh Depi Nugroho(29), Dukuh Nitikan Timur, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Gunungkidul. Berawal dari sekedar hobi memelihara burung Perkutut, saat ini pak Dukuh memiliki penangkaran burung Perkutut dengan indukan berjumlah 30 pasang.

“Awalnya sekedar hobi, pas anakan Perkutut saya coba onlinekan ternyata laku, dan banyak yang berminat,” terang Depi.

Melihat peluang bisnis dari hobinya, Depi kemudian mulai menambah jumlah indukan yang dipeliharanya, dari 4 pasang hingga saat ini mencapai 30 pasang lebih.

“Saya jual rata rata 300 ribu per ekor, tergantung kualitas suara, untuk penjualan tertinggi, pernah satu ekor laku 2,5 juta,” lanjutnya.

Depi mengaku, saat ini cara dia menjual perkutut masih tetap mengandalkan online, dia menvideo burung yang akan dijual, kemudian ia iklankan di media sosial miliknya.

“Banyaknya yang beli dari kota Yogyakarta, tapi kadang ada yang dari luar kota juga,” lanjutnya.

Depi memulai penangkaran ini di tahun 2017, ia juga merasa termotivasi untuk ikut melestarikan satwa, terutama burung. Menurutnya jenis burung ini memang pernah lumayan langka di daerahnya, Namun sekarang ini semakin banyaknya pelepasan burung liar ke alam dan kesadaran masyarakat tentang pelestarian burung jumlah perkutut mulai banyak di alam.

Disinggung soal kendala yang dihadapi, dia menyebut bahwa sebenarnya merawat Perkutut itu mudah dan tidak rumit seperti penangkaran burung lainnya.

“Masa pengeraman perkutut sampai menetas adalah 14 hari, setelah anak umur dua minggu kemudian diambil untuk “dilolohkan”(diasuh) oleh burung Puter,” terangnya

Hal yang paling penting dalam perawatan perkutut menurut Depi adalah kebersihan kandang, tempat pakan dan minum burung harus selalu dijaga. Untuk tingkat stres burung termasuk rendah, jadi tidak memerlukan perlakuan khusus.

Sebelum Pandemi, Depi bisa menjual 3-5 burung per bulan, tapi setelah Pandemi ini omset penjualannya menurun. Walaupun begitu, karena ini hanya bersifat sampingan atau hobi, ia tetap senang menjalankan usaha ini. Setiap hari rata raya dia hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk memberi makan, dan membersihkan kandang.

“Tugas utama saya sebagai Dukuh, tentu tidak terganggu,” pungkasnya sambil tersenyum.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: