Dampak Pandemi, Penunggak Pajak di Gunungkidul Naik Signifikan

  • Bagikan

Gunungkidul,(lensamedia.co)– Dampak Pandemi yang melanda banyak berpengaruh terhadap segala sendi kehidupan masyarakat. Salah satu yang paling dirasakan adalah kelesuan ekonomi secara makro. Banyak para pelaku usaha yang merugi bahkan pailit. Hal ini disinyalir menjadi salah satu sebab para pelaku usaha kesulitan memenuhi kewajiban membayar pajak.

“Dua tahun ini memang angka penunggak pajak di Gunungkidul naik cukup signifikan” terang Veronica Heryanti, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Wonosari, Gunungkidul, Rabu (17/11/2021)

Pihaknya mengaku di masa Pandemi ini memang cukup terkendala untuk mencapai target penerimaan negara dari sektor pajak.

“Sampai saat ini, kami baru mencapai 70,36 persen dari target penerimaan di tahun 2021,” lanjutnya.

Veronica menyebut, bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk menarik pajak, baik dengan persuasif, konseling maupun terpaksa dengan tindakan penyitaan dari aset wajib pajak.

Dia menyatakan bahwa tahun 2021 ini, pihaknya telah menyita aset milik 3 wajib pajak (WP) lantaran menunggak utang pajak yang nilainya cukup besar. Eksekusi sita ini disebut Veronica sebagai langkah terakhir setelah melalui prosedural aturan yang berlaku dan berbagai upaya persuasif.

“Selama Pandemi, kami juga sudah sediakan insentif bagi pajak penghasilan (Pph) pasal 21 bagi pegawai dan pengusaha,” imbuhnya.

Veronica kemudian merinci, bahwa untuk tahun 2021 ini, KPP Pratama Wonosari menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp 177 miliar dari Gunungkidul.

“Obyek pajak, kami fokuskan pada pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai (PPN). Besaran pajaknya juga menyesuaikan klasifikasi jenis usaha yang dimiliki WP,” lanjut Veronica.

Sementara itu, dalam kesempatan penyitaan aset wajib pajak milik S, warga Kapanewon Wonosari, Kepala Kanwil DJP DIY, Yoyok Satiotomo menyatakan bahwa pihaknya tak menampik jika di masa Pandemi, banyak pelaku usaha yang kesulitan dalam mengembangkan usaha.

“Ya bagaimana lagi, kami juga diberi tugas negara untuk memaksimalkan target penerimaan pajak, apa tang kami lakukan ini juga sudah sesuai prosedur dan aturan Undang Undang,” terang Yoyok.

Yoyok juga mengatakan bahwa langkah penyitaan yang hari ini dilakukan memang sebagai upaya terakhir setelah semua prosedur dilakukan.

Menurutnya, utang pajak yang dimiliki oleh S sebesar Rp 9,485 miliar, terakumulasi dari tahun 2015. Yoyok juga menyebut dalam proses ini penunggak pajak bersikap koorperatif, dan masih akan berusaha menjual aset yang disita untuk melunasi tunggakan pajaknya.

“Tapi jika memang tidak bisa, ya terpaksa aset kami lelang,” pungkasnya. (Ep)

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: