Cerita Sejarah Asal Muasal Pasar Argosari Wonosari Ternyata Berawal dari Pasar Seneng

  • Bagikan

Wonosari,(lensamedia.co)–Alkisah…”Rangga Puspa Wilaga sedang berkabung, dia baru saja kehilangan istri tercinta yang meninggal karena sakit. Puspa Wilaga adalah seorang Rangga, kepala Demang yang membawahi daerah Kademangan Siraman.

Ditinggal istri yang sangat dicintainya membuat Rangga Puspa Wilaga tidak bisa menerima kenyataan, rasa kehilangan yang mendalam, membuatnya mengurung diri dan tenggelam dalam kesedihan yang berlarut larut.

Namun begitu, sebagai seorang pemimpin, Rangga Puspa Wilaga akhirnya sadar, bahwa dengan keadaan dirinya yang seperti ini, tentu akan berpengaruh buruk terhadap rakyat dan daerah yang dipimpinnya. Rangga Puspa Wilaga kemudian memutuskan untuk mengembara, “laku prihatin”, melepas semua pakaian kebangsawanan, “namur kawula”, (menyamar), dengan menjadi rakyat biasa. Tujuan dari pengembaraanya ini adalah

“Tetirah”(mendekatkan diri dengan Tuhan), sekaligus berusaha mencari sosok seorang istri yang memiliki ciri tubuh dan sifat seperti mendiang istrinya.

Dalam pengembaraan yang panjang, Rangga Puspa Wilaga sampai pada suatu daerah bernama wilayah Ireng Ireng(di dekat Srandakan, Bantul, ada sebuah tempat bernama Ireng Ireng). Disana Rangga menumpang hidup kepada Ki Bayan, bersama Ki Bayan, Puspa Wilaga kemudian bekerja di tempat seorang saudagar yang kaya raya, dimana sang saudagar mempunyai seorang putri bernama Roro Ireng.

Singkat cerita, di tempat ini Rangga Puspa Wilaga menemukan apa yang selama ini dia cari. Apa yang hilang dari mendiang istrinya, semuanya ada pada sosok Roro Ireng. Dia jatuh cinta pada Roro Ireng dan kemudian berniat untuk menyunting Roro Ireng untuk dijadikan istrinya. Ki Bayan yang dimintanya untuk melamar Roro Ireng sempat menolak, Ki Bayan ragu, Roro Ireng adalah putri saudagar besar, sementara yang dia ketahui, Puspa Wilaga hanyalah seorang pengembara yang tidak jelas asal usulnya dan hanya menumpang hidup dan bekerja pada sang saudagar.

Akhirnya, Puspawilaga berhasil meyakinkan Ki Bayan tentang kesungguhan hatinya. Ki Bayan kemudian berangkat menemui sang saudagar untuk melamar Roro Ireng. Sang Saudagar terkejut terhadap kenekatan Puspa Wilaga untuk mempersunting putrinya, walau di dalam hatinya dia tahu bahwa sosok Puspa Wilaga bukan orang sembarangan, bukan sekedar seorang buruh, dan dia juga tahu bahwa putrinya juga menyimpan perasaan cinta kepada Puspa Wilaga.

Sang saudagar akhirnya menerima lamaran Puspawilaga, dengan satu syarat, Puspa Wilaga harus bisa memberikan mahar “Rujak Uni”, dalam artian Puspa Wilaga harus menyediakan mahar berupa semua hewan ternak, seperti Sapi, Kerbau, Kuda, Kambing, Ayam dan yang lainnya. Puspa Wilaga kemudian menyanggupi apa yang menjadi syarat sang saudagar. Dengan kemantaban hati, kemudian dia kembali ke wilayah Siraman. Rakyatnya yang tahu pemimpinnya telah kembali kemudian menyambutnya dengan sukacita, berbagai syarat “Rujak uni” yang diminta oleh saudagar Ireng Ireng kemudian dikumpulkan, dan bersama rombongan pengawal dan rakyatnya, Rangga Puspa Wilaga berangkat ke Ireng Ireng untuk melangsungkan pernikahan dengan pujaan hatinya.

Akhirnya, pernikahan antara Rangga Puspa Wilaga dan Roro Ireng benar terjadi dan dilangsungkan dengan pesta yang meriah. Setelah pernikahan, Roro Ireng kemudian diboyong ke Siraman, dan hidup sebagai pasangan suami istri yang berbahagia. Setelah berjalannya waktu tinggal di Siraman,tampak Roro Ireng sering melamun dan bersedih, sang suami kemudian menanyakan penyebab kesedihannya, Roro Ireng kemudian menjawab, bahwa di Siraman ini, suasananya masih sepi, tidak seperti di rumah asalnya, dimana bapaknya sebagai saudagar tentu, setiap hari ramai karena aktivitas jual beli.

Roro Ireng kemudian mengajukan sebuah permintaan kepada suaminya, untuk dibuatkan sebuah pasar. Mereka kemudian meminta restu kepada saudagar Ireng Ireng, untuk membuat pasar di kawasan Siraman. Sang saudagar kemudian memberikan saran agar menantunya menanam pohon Beringin sebagai penanda tempat yang akan dijadikan sebagai pasar.

Puspa Wilaga menuruti saran mertuanya, akan tetapi pasar yang diidamkan istrinya masih juga sepi, kemudian dia kembali menanam pohon Beringin hingga sampai 6 kali di tempat yang sama, dan keadaan pasar masih belum seperti yang diharapkan.

Hampir putus asa, Puspa Wilaga kemudian menghadap kepada mertuanya, dan bercerita bahwa upaya yang selama ini dilakukan belum juga membuahkan hasil. Sang saudagar kemudian memberikan saran agar dia mengambil sebatang Beringin dari Keraton Solo, dan menanamnya sehingga menjadi “Ringin Pitu”(Beringin Tujuh). Setelah ditanam Beringin yang ke tujuh, pasar yang semula selalu sepi akhirnya menjadi ramai, warga dari berbagai daerah di sekitar Siraman banyak yang mengunjunginya pasar tersebut, aktivitas pasar benar benar menjadi ramai oleh pedagang dan pembeli.

Dengan terbentuknya sebuah pasar yang ramai, hati Roro Ireng menjadi “seneng”(bahagia), sang suami Rangga Puspawilaga juga ikut merasakan suatu kebanggan, ketika permintaan dari sang istri bisa dia penuhi. Suasana yang penuh rasa “Seneng”(kebahagiaan) ini kemudian dijadikan sebagai penanda(tetenger),dengan menamakan pasar baru ini sebagai pasar Seneng.

Beriring waktu, kisah “Babad Alas Nangka Doyong”, oleh Ki Demang Wana Pawira atas perintah Keraton Yogyakarta, sebagai cikal bakal terbentuknya kawasan pemukiman telah berhasil. Wilayah baru ini kemudian dinamakan Wanasari/Wonosari(hutan yang asri). Wanasari akhirnya berkembang menjadi sebuah pemukiman yang maju, dimana kebutuhan sebuah pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat menjadi suatu hal yang penting. Akhirnya, menurut cerita tutur turun temurun, oleh “Wong Agung Ingkang Jumeneng Kaping Pitu(Raja ke tujuh yang bertahta)”, pasar Seneng dipindah ke pusat kota yaitu Wonosari, dan dinamakan pasar Argosari, Wonosari yang sekarang menjadi pasar terbesar di pusat kota Gunungkidul.

Kisah asal muasal pasar Seneng ini di beber oleh Sigit Nurwanto(30), seorang dalang muda yang kebetulan adalah cucu dari Mbah Darso(82), juru kunci pasar Kawak, Seneng, Siraman. Sementara kisah perjuangan Ki Demang Rangga Puspa Wilaga, dilukis atau digambar dalam sebidang kanvas berukuran 1,5X3 meter oleh Ikatan Perupa Gunungkidul(IPG).

Pagelaran Wayang Beber ini digelar pada hari Minggu(19/09/2021), bertempat di bekas lokasi pasar Kawak. Berbareng acara “Sulam Resan Pasar Kawak” oleh Pemangku Adat Pasar Kawak, Komunitas Resan Gunungkidul, PSHT dan Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto.

Acara ini dilaksanakan atas keprihatinan pihak pihak yang peduli dimana “Ringin Pitu” yang tinggal tersisa 3, satu diantaranya saat ini juga mati akibat dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab, dengan cara di solar, oli, dan racun tanaman.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: