Cerita Mbah Saiman, Bersepeda 24 Kilometer untuk Dapatkan Vaksin Sinovac

  • Bagikan

Tanjungsari,(lensamedia.co)–Di siang yang terik saat panas matahari di musim Pancaroba menyengat bumi, tampak seorang pria tua berbaju batik menyandarkan sepeda onthel tua miliknya di sebuah warung, di kawasan wisata Ngingrong, Kalurahan Mulo, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Sesaat kemudian dia memesan minuman dan makanan dan duduk di seberang meja, dan segera menikmati makanan pesanannya.

Simbah itu bernama Saiman(71), warga Kalurahan Menthel, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul. Mbah Saiman kemudian bercerita bahwa dia dalam perjalanan pulang ke Menthel, setelah baru saja mengikuti vaksinasi di Kodim 730 Gunungkidul.

“Ini vaksin yang kedua saya,” kata mbah Saiman membuka obrolan kami.

Di warung ini mbah Saiman beristirahat sejenak untuk makan siang setelah mengayuh sepedanya. Nasi Tiwul dengan lauk tempe menjadi pilihan makan siang kakek ini bersama dengan sayur lombok ijo. Ditemani teh panas, kakek ini terlihat sangat lahap menikmati makanannya. Giginya yang telah habis dan menghitam nampak membuatnya kesulitan mengunyah.

Kakek dengan 4 orang anak ini sengaja pergi ke Kantor Kodim 0730 di Kota Wonosari yang berjarak sekitar 12 kilometer dari rumahnya. Mbah Saiman harus memenuhi kewajibannya mengikuti vaksin yang kedua di Makodim 0730 Wonosari.

“Kalau Sinovac itu, setelah divaksin katanya tidak terlalu sakit, jadi saya rela mengayuh sepeda untuk bisa divaksin Sinovac,” imbuhnya.

Untuk mengikuti vaksinasi Mbah Saiman mengaku berangkat dari rumahnya pukul 06.00 WIB. Ia mengaku sampai di Wonosari sekitar 2 jam kemudian. Jalanan pegunungan seribu, yang naik turun dan berkelok tak menghalangi semangatnya untuk mendapatkan vaksin.

“Saya itu sudah biasa bersepeda ke yogyakarta, seminggu sekali saya bersepeda ke Yogya,” lanjutnya.

Simbah ini melanjutkan, ia terpaksa mengayuh sepeda onthel karena dia pernah trauma untuk naik sepeda motor, sekalipun hanya membonceng.

“Saya pernah belajar motor, waktu itu menabrak gardu ronda, saya juga pernah diboncengkan motor, dan ditabrak dari belakang, sejak itu saya gak berani lagi,” lanjutnya sambil tertawa.

Walau ada trauma naik sepeda motor, namun ternyata mbah Saiman ini jago nyopir kendaraan roda empat. Dia adalah mantan sopir bus engkel Jogja-Wonosari dan juga sopir truk pengangkut pasir.

“Saya lupa berapa lama, yang jelas, saya sudah 7 kali ganti SIM (Surat Ijin Mengemudi), jadi kalau per lima tahun, berapa puluh tahun itu,” ujarnya

Setelah pensiun dari sopir, mbah Saiman kemudian bekerja di Yogya, sebagai pemulung atau tukang rosok, seminggu sekali dia bersepeda ke Yogya, dan setiap akhir pekan dia mengayuh sepeda tuanya untuk kembali ke Tanjungsari.

Mbah Saiman mengaku, dengan bersepeda dia merasa tubuhnya selalu kuat dan sehat, dia juga mengaku bahwa selama ini dia tidak pernah merasakan sakit yang memaksa dia harus di rawat di rumah sakit.

“Saya bersyukur selalu dikasih sehat, termasuk saya ikut vaksin, disamping taat aturan pemerintah, ini upaya saya agar terjaga dari penyakit Covid,” pungkas mbah Saiman.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: