Berawal Bosan Sekolah Daring, Anak SMP Ini Berpenghasilan Jutaan dari Ternak Kelinci

  • Bagikan

Playen,(lensamedia.co)–Pandemi yang melanda membuat banyak usaha masyarakat yang terpuruk. Bagi para pelajar, sistem sekolah daring yang berlangsung hampir dua tahun juga membuat bosan. Banyak remaja atau anak usia sekolah yang mengisi waktunya dengan hanya bermain game online.

Hal ini tidak berlaku bagi seorang remaja bernama Genthur Rahmadhani(15), warga Padukuhan Banaran 9, Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Gunungkidul. Saat KBM sekolah mulai online, dan banyak waktu luang, anak kelas tiga SMP N 4 Playen ini memanfaatkan waktunya dengan mencoba beternak kelinci

Remaja tanggung yang akrab disapa Genthur ini memulai usahanya dari hanya sepasang indukan kelinci, yang dia beli dari tempat temannya. Genthur kemudian belajar dari Youtube tentang cara cara memelihara kelinci.

Dengan ketekunannya, sepasang kelinci miliknya kemudian bisa berkembang, dan saat ini, dia memiliki 25 pasang indukan, dan 90an ekor anak anaknya yang siap jual, baik pedaging maupun calon indukan.

Kelinci kelinci yang dia pelihara, setiap 3 bulan dia bisa panen, dengan omzet sekali jual bisa mencapai sekitar 12 juta rupiah. Dari situ rata-rata Genthur mendapat penghasilan bersih sekitar dua juta rupiah per bulan. Dia kemudian bisa menabung untuk membeli HP dan sebuah sepeda motor.

“Awalnya saya beli kelinci hanya dari teman, sepasang seharga 600 ribu jenis Rexx, setelah beranak saya coba jual di online lewat Facebook, dan ternyata laku, bahkan banyak yang menanyakan, akhirnya saya putuskan untuk menambah jumlah indukan,” ujar Genthur saat ditemui di kandangnya, Selasa(21/9/2021).

Dengan memanfaatkan rumah kosong di belakang rumahnya, saat ini Genthur benar benar serius memelihara kelinci kelincinya. Kandang yang semula hanya dari bambu, dia rubah menjadi kandang permanen.

“Jenis kelinci yang yang saya pelihara saat ini berjenis Hayla dan NZ(new zeland), pakan saya menggunakan pelet kelinci, kadang diselingi pakan hijauan, berupa rumput kering dan daun pisang,” lanjut Genthur.

Genthur kemudian mengajak berkeliling kandang, kemudian dengan lancar menerangkan tentang seluk beluk beternak kelinci. Anak tunggal pasangan Sumanto dan Tuwisriyanti ini pembawaanya tidak seperti anak anak seusianya. Genthur tampak tidak canggung dan sangat menguasai usaha yang dijalankannya.

“Saya panen kelinci yang betina berumur minimal dua bulan, dan jantan 3 bulan dengan bobot betina minim 1,5 kilo, jantan 2 kilo, untuk pemasaran selain online ada pedagang dari Magelang yang mengambil,” terang Genthur.

Genthur melanjutkan, sekali panen dia bisa menjual 100 ekor kelinci dengan hasil penjualan rata rata 12 juta bahkan lebih, tergantung jumlah anakan kelinci yang lahir.

“Satu induk rata rata sekali beranak 10 ekor, kadang 7 atau 12 ekor, kelinci bunting selama 30 hari, setelah anaknya umur 40 hari induk dikawinkan lagi, dan setelah 2 bulan anak disapih,” lanjutnya.

Selain menjual kelinci, Genthur juga mengumpulkan urine kelinci untuk dijual, satu liter seharga 5 ribu rupiah, dari kelinci yang dia pelihara rata rata sehari dia bisa mengumpulkan urine kelinci sebanyak satu ember cat besar.

Untuk kendala yang selama ini dia temui adalah penyakit, yaitu gudig dan diare, akan tetapi kendala itu sudah bisa ditangani dengan cara injeksi atau suntikan berkala. Ibarat dokter, Genthur sudah melalukan injeksi ini sendiri.

“Untuk pakan pelet dalam sebulan saya menghabiskan 15 sak sebulan, satu sak 20 kg, seharga 135 ribu, untuk biaya pakan per bulan sekitar 2 juta,” imbuhnya.

Genthur Rahmadhani, anak tunggal 15 tahun yang baru berangkat remaja ini benar benar tahu cara memanfaatkan waktu, dan menghasilkan uang sendiri dari usahanya.

“Saya bercita cita kuliah di Kedokteran Hewan, dengan biaya dari hasil usaha peternakan saya sendiri,” pungkasnya.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: