Ada Dugaan Pemerasan, Terlapor Kasus Pencemaran Nama Baik Lapor Balik ke Polisi

  • Bagikan

Wonosari,(lensamedia.co)– Beberapa waktu lalu, mencuat kasus pencemaran nama baik yang melibatkan Sb warga Wonosari dengan Suyanto yang notabene merupakan Dukuh Ngande-ande, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus. Perkara yang bermula dengan adanya perseteruan di chat WA tersebut telah disepakati damai. Namun, pihak Sb mengingkari dan melanjutkan perkara itu.

Atas kejadian tersebut, Suyanto pun meminta bantuan tim advokasi untuk menyelesaikan perkara di Mapolres Gunungkidul. Kedatangan Suyanto dan tim sendiri merupakan upaya pelaporan balik.

Informasi yang berhasil dihimpun lensamedia.co, Suyanto sebelumnya dituduh melakukan pencemaran nama baik kepada Sb. Pencemaran nama baik itu, terjadi saat Sb dan Suyanto dalam chat sekitar bulan Juli 2021 lalu.

Saat itu, Sb diduga mengancam Suyanto untuk melaporkan pencemaran nama baik itu ke pihak kepolisian. Lantaran tak ingin berkepanjangan, Suyanto kemudian meminta maaf. Akan tetapi hal itu dirasa belum cukup.

Kemudian Sb berusaha melakukan upaya damai di Polsek Tepus. Namun karena tidak ada kesepakatan, perkara itu diselesaikan di Mapolres Gunungkidul.

Seiring berjalannya waktu, pasca terjadinya kata damai itu, Sb diduga kembali melaporkan kejadian itu ke Mapolres Gunungkidul. Memyusul adanya perkara itu, Eko Junaedi, S.H, Ketua tim advokasi atas nama Suyanto pada Sabtu, 25 September 2021 telah mendatangi Polres Gunungkidul dalam upaya melaporkan kasus tersebut ke aparat penegak hukum.

“Kami menduga ada upaya dari Sb untuk ingkar dari kesepakatan yang sudah dibuat oleh kedua belah pihak. Kami datang ke kepolisian untuk menanyakan ke pihak berwajib dan berupaya melakukan langkah hukum baru jika ada dugaan pemerasan yang dilakukan Sb dalam proses mediasi,” jelas Junaedi.

Sementara itu, Kepala Unit Tindak Pidana Khusus Polres Gunungkidul, Ipda Ibnu Ali menyatakan bahwa kasus tersebut sudah selesai.

“Mediasi dilaksanakan di ruang unit Pidsus dengan dihadiri kedua belah pihak dimana para pihak berunding untuk menyelesaikan permasalahan itu dan akhirnya mencapai kesepakatan kedua belah pihak. Kepolisian hanya sebagai fasilisator saja menyediakan waktu dan tempat,” jelas Junaedi.

Lebih lanjut Kanit Pidsus Polres Gunungkidul, Ipda Ibnu Ali menjelaskan bahwa sepengetahuannya, mediasi yang dilaksanakan tersebut tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.

“Tetapi apabila ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh salah satu pihak, maka bisa dilaporkan dalam perkara lain,” pungkas Ibnu.

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: