Akibat Crosway Terendam Banjir, 120 KK di Padukuhan Kedungwanglu Terisolir

  • Bagikan

Gunungkidul,(lensamedia.co)– Sebanyak 120 KK di 8 RT wilayah Padukuhan Kedungwanglu, Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Gunungkidul terisolir karena dua jembatan penyeberangan (crosway) yang menjadi akses utama melintasi tengah dusun mereka terendam banjir.

Kejadian ini terjadi saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejak Kamis malam (18/11/2021) kemarin, hingga sungai Prambutan yang membelah dusun Kedungwanglu meluap. Dua Crosway yang menjadi akses utama tidak bisa dilalui hingga Jumat (19/11/2021) pagi sampai agak siang.

“Karena arus sungai yang meluap deras, crosway terlalu bahaya untuk dilalui,” terang Nasir, tokoh pemuda Kedungwanglu, saat ditemui di sela sela kerja bakti menyingkirkan lumpur yang menumpuk di tengah jalan, Jumat (19/11/2021).

Nasir menyatakan bahwa kejadian seperti ini sangat sering terjadi. Di wilayah dusunnya memang ada dua sungai, yaitu sungai Prambutan yang membelah tengah dusun dan sungai Oya di pinggir dusun, dua sungai ini bertemu di pinggir dusun sebelah barat, yang menjadi perbatasan wilayah Bantul.

“Ketinggian crosway pernah dinaikkan, namun hal ini belum mampu memecahkan masalah yang terjadi, apalagi jika hujan di hulu deras, sehingga banjir di dua sungai besar,” lanjutnya.

Wilayah Kedungwanglu memang termasuk wilayah hilir, jadi jika hujan deras di daerah hulu maka sungai Oya dan Prambutan banjir besar. Karena dua sungai ini bertemu maka otomatis debit airnya naik dan meluap sehingga dua crosway yang tak seberapa tinggi pasti terendam.

“Hanya 2 RT yang tidak terisolir, paling cepat kami terisolir selama 2 jam namun jika hujan berlangsung lama dan intensitasnya tinggi maka kami putus hubungan dengan dunia luar ya bisa cukup lama,” kata Sofyan Efendi, salah seorang warga yang rumahnya dekat sungai.

Menurut Sofyan, jika banjir berlangsung di pagi hari, dia sering melihat anak anak sekolah yang menunggu di seberang sungai agar bisa menyeberang. Mereka menunggu air agak surut, kadang sampai agak siang hingga dirasa aman melintas crosway.

“Kasihan, anak anak jadi terlambat sekolah,” imbuhnya.

Wilayah Padukuhan Kedungwanglu memang termasuk terpencil. Berada di perbatasan Gunungkidul dengan Kabupaten Bantul, wilayah ini cukup terpencil, berjarak hampir tiga kilometer dari jalan penghubung, dengan kontur tanah yang berbukit bukit.

Kalau terpaksa harus keluar dusun pas Crosway terendam banjir, mereka harus rela jalan kaki memutar, melalui bukit bukit dengan jarak yang sangat jauh, melalui jalan setapak yang terjal dan licin.

“Semoga pemerintah memberikan perhatian bagi nasib kami, crosway diganti dengan jembatan yang tinggi, sehingga saat banjir, kami tetap bisa melintas,” pungkas Sofyan dan Nasir bersamaan. (Ep)

u6Dacb.md.jpg"
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: